Penghargaan sastra biasanya diperoleh oleh seorang penulis yang berkecimpung di bidang budaya, pengajaran, hingga jurnalistik. Namun, berbeda dengan di China, seorang kurir makanan justru berhasil memenangkan penghargaan sastra bergengsi.
Dia adalah Wang Jibing, yang kesehariannya bekerja sebagai pengirim makanan. Wang yang berusia 56 tahun berhasil meraih Penghargaan Sastra Lu Xun, sebuah penghargaan bergengsi dengan nama salah satu penulis terbesar China abad ke-20.
Wang meraih penghargaan sastra bergengsi di China berkat kumpulan puisinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana Wang Bisa Mendapatkan Penghargaan Sastra?
Mengutip BBC, Wang ternyata terbiasa menulis di sela-sela pengiriman makanan. Ia menulis puisi dengan secarik kertas.
Puisinya yang berjudul "Man in Hurry" pertama kali mendapatkan perhatian di media sosial pada 2022. Puisi ini terinspirasi oleh sebuah insiden pada 2019 saat ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengirim makanan karena pelanggan memasukkan alamat yang salah.
Setahun setelah viral, ia menerbitkan kumpulan puisi pertamanya berjudul "Man in a Hurry: Poems of a Food Delivery Rider" pada 2023. Bagi Wang, penghargaan sastra bergengsi ini datang setelah beberapa dekade sulit sebagai pekerja serabutan.
"Saya menahan napas dan merasa sangat gugup... Begitu diumumkan, semuanya menjadi tenang," kata Wang kepada media pemerintah Global Times pada 15 Juli 2026, dilansir dari BBC.
Tetap Bekerja Meski Sudah Dapat Penghargaan Sastra
Wang merupakan pria kelahiran Provinsi Jiangsu yang meninggalkan bangku sekolah saat remaja karena kesulitan ekonomi. Ia hanya lulus SMP dan setelahnya melakukan berbagai pekerjaan, mulai dari bekerja di bidang konstruksi hingga memungut sampah, sebelum akhirnya menjadi pengantar makanan.
Meski tak sampai sekolah tinggi, Wang memiliki kecintaan tinggi terhadap membaca. Ia mempertahankan kecintaan terhadap membaca meski sibuk bekerja.
Selama dekade terakhir ia telah memposting puisi dan esainya sendiri di media sosial. Meski kini sudah mendapatkan penghargaan sastra bergengsi di China, ia mengaku tetap akan bekerja hingga usia 60 tahun.
"Secara finansial, saya tidak membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi diri, tetapi saya menyukai suasana kerja dan pekerjaan ini membuat saya tetap bugar," kata Wang dalam laporan Global Times.
"Saya menginginkan kehidupan yang sederhana dan penghargaan ini tidak akan pernah mengubah siapa saya," imbuhnya.
Kemenangannya menjadi tonggak sejarah bahwa semakin banyak pekerja di China yang menorehkan prestasi di dunia sastra dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, mantan kurir bernama Hu Anyan menerbitkan memoar "I Deliver Parcels in Beijing" dan menjadi buku terlaris di China dan menarik perhatian luar negeri.
Diketahui, Penghargaan Sastra Lu Xun ini tidak disebutkan nominal hadiahnya. Namun, pada 2014, nominalnya bisa mencapai USD 14.800 (sekitar Rp 265 juta dalam kurs Rp 17.966).
(faz/twu)
