Buku dan pulpen bagi banyak orang mungkin sangat mudah dibeli. Namun tidak untuk beberapa siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bahkan salah satu siswa SD di Ngada NTT beberapa waktu lalu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak bisa membeli alat tulis. Bukan hanya siswa tersebut, Adelfiana Hermin melihat masih ada beberapa siswa dengan nasib serupa.
"Banyak, Pak. Tetapi yang muncul di publik itu cuma satu saja. Tapi sebenarnya banyak sekali masalah-masalah yang seperti itu, Pak," kata guru SIT Poco Dedeng, Labuan Bajo, NTT tersebut saat ditemui di sela acara Wardah Inspiring Teacher (WIT) di Gedung Sabuga Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (14/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika Bantuan PIP Hanya Cukup untuk Makan
Meski sudah ada bantuan Program Indonesia Pintar (PIP), tetapi kebanyakan siswa penerima di sana menggunakannya untuk membeli kebutuhan pokok seperti makan.
"Ya, memang ada bantuan sih, Pak. Tapi bantuan ini dapat dialihkan mohon maaf ya Pak ya dialihkan karena tidak mencukupi kebutuhan itu untuk membeli beras dan segala macam. Sehingga untuk buku yang sama bolpoin kadang terabaikan saja," katanya.
Peserta WIT generasi ke-8 tersebut matanya berkaca saat mengisahkan perjuangan siswa-siswanya. Saat mengajar, ia harus memutar balik otaknya dalam mengatasi keterbatasan fasilitas/bahan ajar.
"Ya, kalau untuk menulisnya itu, apa ya? Alat peraga yang kayak model gabus itu ya Pak ya. Sudah rusak, tapi tetap saya ambil bikin kayak dalam bentuk permainan begitu. Sehingga saya menyuruh mereka untuk memilih, misalnya huruf A mana di sini, habis itu kita buat permainan sudah di situ. Dari situ (belajarnya)," kata Adelfiana.
Begitu juga dengan kebutuhannya sebagai guru. Di tengah banyaknya tuntutan guru, fasilitas yang ia terima belum sepadan dengan tuntutan tersebut.
"Fasilitas untuk guru-gurunya juga lebih khususnya laptop ini ya Pak. Sekarang itu semua guru-guru dituntut untuk bisa IT, jadi kami itu mengganti laptop. Ada 7 laptop sekolah, tapi ada yang sudah rusak. Waktu ada kegiatan PPG itu kami bergantian laptop," katanya.
Jadi Orang Tua ke-2 bagi Siswa
Istilah 'orang tua ke-2' sebagai guru bagi Adelfiana tidak semudah guru-guru di daerah perkotaan. Ia menyebut banyak orang tua siswa harus bekerja seharian untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Oleh karena itu, para orang tua siswa tidak ada waktu menanyakan perihal sekolah anak-anaknya. Adelfiana menjadi punya tugas ekstra dalam membina siswanya.
"Jadi itulah yang membuat anak-anak itu, pertama itu kurang apa istilahnya itu, kurang pendekatan dari orang tua sehingga kami di sekolah itu seperti yang saya kasih tahu, di situ harus menjadi figur sebagai orang tua," tuturnya.
Dealfiana Jadi Inspriasi Ribuan Guru
Melihat kondisi demikian, Adelfiana tidak menyerah sebagai guru. Bahkan ia merasakan menjadi guru honorer selama 11 tahun.
"Sudah mau 2 tahun ASN. 11 tahun saya menjadi guru honorer. Di sekolah itu PNS-nya 3, kemudian PPPK-nya 5, yang paruh waktu ASN dua orang. Tapi di sini juga kesejahteraan guru itu belum begitu stabil," ungkapnya.
Kini, ia bersyukur karena ada bantuan dari Paragon Corp bag siswa. Termasuk bantuan baginya sebagai guru dalam bentuk pelatihan skill.
Kisah dan kemauan tinggi Adelfiana menjadi inspirasi bagi banyak guru, khususnya peserta Wardah Inspiring Teacher (WIT). Ia berpesan kepada guru-guru untuk terus bersemangat, terlebih kepada guru dari daerah 3T sepertinya.
"Pertama tetap semangat, tetap berkembang dan tumbuh, dan juga bisa merombak semua. Lebih khususnya guru-guru yang berada di daerah terpencil, bertumbuh dan berkembanglah," pesannya.
(cyu/faz)











































