Ajang CTARSA Youth Greenovation resmi mencapai puncaknya. 3 Karya inovasi siswa SMA telah terpilih menjadi pemenangnya. Inovasi apa saja?
Kompetisi inovasi pelajar yang digagas CTARSA Foundation bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), KANIK, Bank Mega Syariah, dan Trans Media Sosial ini menjadi panggung bagi kreativitas generasi muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari lebih dari 180 karya yang masuk, terpilih 10 tim finalis tingkat SMA yang mempresentasikan inovasi terbaik mereka di Aula Barat Kampus ITB, Kamis (29/1/2026) kemarin. Ide-ide yang ditampilkan pun beragam, mulai dari platform ekonomi digital, teknologi pengolahan sampah bernilai ekonomis, hingga produk ramah lingkungan seperti pengganti plastik dan cat berbasis bahan berkelanjutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah melalui penilaian ketat, dewan juri menetapkan inovasi 'Pinjam Barang' dari SMA Olifant Yogyakarta sebagai juara pertama. Platform ini menghadirkan solusi peminjaman berbagai barang, dari peralatan kerja hingga kebutuhan rumah tangga, khususnya untuk masyarakat perkotaan. Ide tersebut lahir dari pengalaman pribadi sang kreator, Jason Xia, yang kesulitan meminjam tangga saat lampu rumahnya mati. Dari situ, muncul gagasan menghadirkan platform berbagi barang yang praktis dan relevan dengan gaya hidup urban.
Juara kedua diraih SMKN 3 Mandau, Riau, lewat inovasi 'Bio Sound Panel', sementara posisi ketiga ditempati SMA Unggulan CTARSA Foundation Deli Serdang dengan 'Rumpaper', kertas ramah lingkungan berbahan limbah rumput teki.
Jason Xia, siswa kelas XII SMA Olifant Yogyakarta mengaku bangga bisa menyabet gelar juara pertama. Inovasi 'Pinjam Barang' yang digagasnya sebetulnya lahir dari ide yang sederhana, namun ternyata punya dampak yang begitu besar bagi banyak orang.
"Yang jelas seneng banget dan hasilnya juga memuaskan. Sebenarnya ide ini muncul waktu lampu di rumah saya mati, tapi tangga saya itu hilang. Mamah saya bilang, koh, coba cari tangga dong. Mau pinjem ke mana, orang enggak kenal sama tetangga, akhirnya cari-cari ide dan kepikiran kayaknya bisa deh karena di perkotaan, enggak bisa pinjem-pinjem, kalau ada suatu platform seperti ini kayaknya masalah saya ini bisa teratasi. Dan ternyata banyak yang seperti saya, makanya kita bikin 'Pinjam Barang' ini," pungkasnya.
Tak hanya pengumuman pemenang, Grand Final juga menghadirkan simbol keberlanjutan inovasi. CEO KANIK Aman Suparman menyerahkan lampu inovatif 'Habibie' yang akan diimplementasikan untuk mendukung fasilitas pendidikan di SMA Unggulan CTARSA Foundation dan Masjid CTARSA.
CTARSA Youth Greenovation Foto: (Dokumentasi CT Arsa Foundation) |
Sekjen CTARSA Foundation, Latief Harnoko, menyebut kompetisi ini membuktikan bahwa generasi muda Indonesia bukan sekadar aktif di media sosial, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata berbasis teknologi dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, kreativitas di bidang teknologi, bioteknologi, hingga pengolahan sampah menunjukkan masa depan inovasi Indonesia sangat menjanjikan.
"Ini merupakan inisiatif yang CTARSA untuk melihat ternyata banyak sekali siswa-siswa yang punya kreativitas dan menjadi sesuatu yang ke depannya lebih baik dengan karya-karya mereka," kata Sekjen CTARSA Latief Harnoko, Kamis (29/1/2026) dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (30/1/2026).
Pria yang menjabat sebagai Direktur Utama Transmedia ini mengatakan, ajang ini, sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia punya masa depan yang membanggakan di bidang inovasi maupun teknologi. Untuk itu, CTARSA berharap ada perhatian dari pemerintah demi mendukung langkah para generasi muda tersebut.
"Ini generasi yang dianggap generasi TikTok, sosial media, ternyata dia bisa mencerminkan, oh dia bagian dari bangsa kita yang luar biasa. Dengan kemajuan teknologi, mereka bisa menciptakan karya-karyanya. Tidak hanya fokus kepada teknologi, tapi juga bioteknologi, sampah, lingkungan, itu saya rasa luar biasa, ini patut menjadi perhatian dari pemerintah," ucap lelaki yang akrab disapa Noko tersebut.
Rangkaian Grand Final berlangsung meriah dengan hiburan dari komika Zahra Petani dan penampilan Tari Mojang Fire dari Trans Studio Bandung. Sebelumnya, 19 orang para finalis yang terbagi dalam 10 tim juga mengikuti program "Road to Final" dengan mengunjungi kampus ITB, pabrik kaos kaki KANIK, serta menikmati wahana di Trans Studio Bandung. Seluruh finalis mendapat fasilitas transportasi dan akomodasi selama kegiatan berlangsung.
CTARSA memastikan ajang ini akan digelar lebih besar pada tahun depan sebagai bentuk komitmen mendukung inovasi generasi muda demi kemajuan Indonesia.
"Karena saya rasa ini sejalan dengan kebijakan Pak Prabowo, bahwa bangsa yang maju karena inovasi dan kreativitasnya. Saya rasa pemerintah pasti akan mendukung itu," tutur Noko.
Babak Grand Final CTARSA Youth Greenovation yang turut didukung oleh Iforte, ION Network, Trans Studio Bandung, Trans Hotel Grup, Rumah Amal Salman dan Transmedia.
(nwk/nwk)












































