Putri Papua Raih Beasiswa S1 ke Australia, Sempat Pikir Mustahil karena Biaya

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Selasa, 30 Nov 2021 11:00 WIB
Asna Kristina Krebu, putri Papua yang meraih beasiswa S1 di Australia
Asna Kristina Krebu saat gelaran wisuda di Universitas Canberra pada Maret 2012. (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta - Asna Kristina Krebu adalah seorang putri Papua yang berhasil menempuh pendidikan S1 di luar negeri yakni Australia. Ia termasuk dalam angkatan mahasiswa penerima beasiswa pertama yang diberangkatkan pada 2009 lalu.

Tina, begitu dia kerap disapa awalnya mengaku mustahil untuk melanjutkan pendidikan di negeri orang tanpa adanya bantuan beasiswa dalam bentuk dana otonomi khusus (otsus) dari pemerintah Papua tersebut.

"Jadi peluang untuk bisa studi sampai di luar negeri itu tidak mungkin, mustahil ya, karena mahalnya biaya pendidikan di luar negeri kalau dengan biaya sendiri," tutur Tina kepada BBC Indonesia, dikutip pada Selasa (30/11/2021).

Pasalnya, Tina bercerita bahwa dirinya hanyalah seorang anak dari pasangan guru Sekolah Dasar (SD) di Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Hal ini menjadi momen langka dalam hidup wanita yang sekarang berusia 40 tahun ini.

"Kalau tanpa dana otsus, saya tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu karena saya dibesarkan di keluarga yang kedua orang tua saya cuma guru SD," ungkap dia.

"Jadi ini merupakan kesempatan yang sangat luar biasa ketika saya bisa studi di luar negeri dengan biaya otsus ini," sambung dia.

Tidak hanya Tina, ada 13 orang lainnya yang turut dikirim ke Australia seusai mereka menyelesaikan studi Sekolah Menengah Atas (SMA). Mulanya, mereka mengikuti seleksi beasiswa yang diselenggarakan pemerintah daerah pada tahun 2007.

Saat itu, Kabupaten Jayapura masih dipimpin oleh Bupati Habel Melkias Suwae, sekaligus sebagai perintis pengiriman mahasiswa ke luar negeri.

Menurut cerita ibu dua orang anak ini, dirinya dan peserta seleksi lainnya didaftarkan untuk mengikuti kursus intensif di Bali. Alasannya, kata Tina, kemampuan bahasa Inggris mereka dirasa masih belum memadai.

Kursus intensif yang digelar berbulan-bulan juga belum membuat seluruh peserta lulus melewati persyaratan kuliah di luar negeri, yaitu batas nilai minimal yang diperlukan di sana.

Untuk itu, Tina mengatakan sebagian dari mereka ada yang dikirim ke perguruan tinggi di Pulau Jawa. Kemudian, hanya Tina dan 13 peserta lainnya yang memenuhi syarat dan berhasil diberangkatkan ke luar negeri pada saat itu.

Hingga pada 2011, Tina mengungkapkan dirinya sudah mulai menduduki ibu kota Australia, Canberra. Di sana, ia mengambil jurusan kajian internasional di Universitas Canberra dan berhasil menyelesaikan studinya dengan mendapat gelar sarjana strata satu.

Setelah menyelesaikan studinya, Tina kemudian diminta oleh pemerintah kabupaten untuk bekerja di sana. Meskipun sebenarnya dia tidak terikat kontrak.

"Dengan tulus saya tetap kembali ke kabupaten untuk mengabdi ke kabupaten karena terima kasih saya sebagai penerima manfaat dari beasiswa otsus tersebut," tandasnya.

Simak Video "Penampakan Banjir yang Melanda Sejumlah Wilayah di Kota Jayapura"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia