Kisah Profesor Muda Unhas yang Masuk Top 2% Ilmuwan Paling Berpengaruh Dunia

Fahri Zulfikar - detikEdu
Minggu, 14 Nov 2021 11:00 WIB
Guru Besar Unhas masuk daftar ilmuwan top dunia
Foto: instagram @hasanuddin_univ/Kisah Profesor Muda Unhas yang Masuk Top 2% Ilmuwan Paling Berpengaruh Dunia
Jakarta - Lembaga Elsevier BV dan profesor dari Stanford University, Prof John Ioannidis bersama Jeroen Baas dan Kevin Boyack telah merilis Top 2% World Ranking Scientists atau ilmuwan paling berpengaruh di dunia. Dari daftar tersebut, 58 ilmuwan Indonesia masuk.

Salah satu ilmuwan tersebut adalah Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Dr. drg. Muh. Harun Achmad, Sp. KGA., M.Sc., K.KKA.

Hasil pemeringkatan ini disampaikan lewat publikasi ilmiah berjudul Data for Updated Science-Wide Author Databases of Standardized Citation Indicators Oktober lalu. Bagaimana kisahnya?


Satu-satunya dosen peneliti Unhas yang masuk


Prof Harun merupakan satu-satunya dosen peneliti Unhas yang masuk dalam daftar Top 2% World Ranking Scientists. Hal itu juga menobatkan dirinya sebagai satu-satunya peneliti yang berprofesi sebagai dokter gigi di Indonesia yang lolos.

Dalam Top 2% World Ranking Scientists yang dipublikasikan Stanford University tersebut, matriks penilaian berdasarkan pada basis data lebih dari 100 ribu saintis top.

Basis data ini memuat informasi terstandar tentang sitasi, h-indeks, hm-indeks yang disesuaikan dengan penulisan bersama, serta indikator gabungan.

Saintis diklasifikasikan menjadi 22 bidang dan 176 sub-bidang keilmuan. Data sepanjang karier saintis diperbarui hingga akhir 2020. Pemilihan saintis yang masuk dalam daftar "Top 2% World Ranking Scientists" didasarkan pada posisi 100 ribu teratas berdasarkan skor-c, dengan dan tanpa self-citation atau ranking persentil 2% atau lebih.

Fokus memberikan kontribusi


Melansir laman resmi Unhas, Sabtu (13/11/2021), Prof. Harun mengatakan capaian ini sebelumnya tidak pernah terpikirkan karena sejak awa dirinya hanya fokus untuk memberikan kontribusi keilmuan yang dimiliki dengan sepenuh hati.

Bahkan, ketika fokus untuk mulai menulis pada 2015, Prof Harun belum mengenal secara jauh tentang scopus dan riset lainnya. Bahkan, ia pernah gagal dalam karier namun tak berputus asa.

"Bisa dikatakan saya termasuk baru dalam hal ini, mulai berpacu fokus menulis pada 2016. Pada tahun 2015, jenjang Doktor saya selesai. Saya mencalonkan sebagai Kepala Prodi, tapi gagal. Namun, hal ini tidak membuat saya jatuh dan mengambil positifnya bahwa mungkin jabatan tersebut tidak sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Sehingga, saya mulai berpikir untuk mengembangkan diri dalam hal lain, hingga akhirnya saya suka dengan penelitian dan pengabdian," jelasnya.

Sebagai guru besar FKG Unhas, Prof Harun sudah banyak terlibat aktif dalam bidang penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Seperti berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam berbagai program yang sesuai bidang keilmuan seperti Pemda Luwu Timur hingga Jeneponto.

Profesor termuda Unhas

Peran aktif Prof Harun dalam dunia akademis membuatnya jadi profesor muda dan dinobatkan sebagai periset unggul Unhas pada 2019 lalu.

Selain itu, beliau juga terpilih sebagai reviewer nasional dan internal sejak 2015 hingga sekarang. Banyak karya yang dihasilkan seperti telah menerbitkan 10 buku yang berisikan tulisan ilmiah beliau.

"Tentu saya merasa senang, hal ini manusiawi. Mungkin sebagian orang melihat capaian tersebut diraih dengan mudah. Padahal prosesnya sangat panjang. Selama ini saya mempunyai prinsip yang disebut TIM (Trust, Integration Mindset). Prinsip ini selalu saya pegang dalam keseharian untuk bisa berkembang dan berkontribusi untuk kemaslahatan masyarakat secara meluas," tutur Prof. Harun.

Menurut Prof Harun peneliti Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk memberikan kontribusi terbaik sesuai keilmuan yang dimiliki dengan terus memaksimalkan kemampuan dan potensi diri.

Tak hanya itu, penelitian yang dilakukan juga harus menarik, mempunyai sifat kebaruan dengan ide yang luar biasa serta tetap mengedepankan etika.

"Ini sebenarnya beban dan tantangan juga, karena keterlibatan yang diharapkan juga harus ditambah.

Terakhir, Guru Besar FKG Unhas berharap, pencapaiannya bisa memotivasi peneliti lain untuk terus mengembangkan kampus.

"Semoga bisa memotivasi para peneliti utamanya Unhas untuk terus terlibat dalam berbagai kegiatan pengembangan tridarma," tutupnya.

Simak Video "Polisi Tangkap Puluhan Mahasiswa yang Hendak Tawuran di Makassar"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia