Kisah Ilmuwan RI Pemilik Hak Paten Astrazeneca yang Terima Penghargaan Inggris

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 28 Okt 2021 19:00 WIB
acara Ngosyek atau Ngobrol Asyeek di Instagram Duta Besar Indonesia untuk Inggris @desrapercaya
Foto: Dok Desrapercaya/(Carina Joe tengah) Kisah Ilmuwan RI Pemilik Hak Paten Astrazeneca yang Terima Penghargaan Inggris
Jakarta - Salah satu Ilmuwan asal Indonesia, Carina Citra Dewi Joe kembali mengharumkan nama bangsa setelah dirinya menjadi perwakilan untuk menerima penghargaan Pride of Britain di bidang kesehatan.

Pride of Britain Awards merupakan ajang penghargaan atas pencapaian orang-orang yang berperan besar dalam membuat kondisi dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik.


Sebelumnya, Carina Joe dikenal karena berhasil membanggakan Indonesia karena tergabung dalam tim yang mengembangkan proses manufaktur skala besar GMP Oxford atau vaksin AstraZeneca COVID-19.

Berkat keterlibatannya, ia juga berhasil menjadi salah satu pemilik hak paten vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Tugas Carina Joe dalam Penelitian

Tugas Carina dalam riset tersebut adalah bisa memproduksi vaksin COVID-19 dalam skala besar dan selesai dengan waktu singkat.

Tujuannya tak lain agar vaksin yang dikembangkan di Jenner Institute Oxford University ini dapat segera digunakan dalam clinical trial dan penggunaan masif.

Dalam proses uji klinis vaksin AstraZeneca, Carina bertanggung jawab di laboratorium untuk mengembangbiakkan virus di dalam sel (bioreactor). Selain itu, ia juga bertugas memurnikan virus dengan memisahkannya dari sel inang supaya menjadi vaksin yang murni.

Profil Carina Joe

Merangkum akun Instagram Duta Besar Indonesia untuk Inggris @desrapercaya, Carina Joe merupakan peraih gelar PhD in Biotechnology di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia.

Dalam video di akun instagram tersebut, Carina Joe mengisahkan awal mula dirinya berkecimpung di dunia bioteknologi. Kala itu, saat ia memilih masuk jurusan tersebut untuk menempuh pendidikan S1.

Kemudian usai tamat S1, ia ditawari internship di perusahaan Australia. Dari situ, Carina Joe meneruskan studi hingga meraih gelar PhD untuk menunjang kariernya dalam bidang penelitian.

"Setelah PhD, lanjut internship 7 tahun. Karena saya latar belakangnya industri, sementara apply ke postdoc Oxford, mereka senang sama background industri saya," ujar dikutip dari instagram @desrapercaya (28/10).

Proses Pembuatan Vaksin Astrazeneca

Terkait penelitian yang dilakukan, Carina juga menceritakan bahwa selama proses mengembangkan vaksin AstraZeneca diakuinya seluruh tim bekerja super keras, bahkan sampai tujuh hari seminggu dalam waktu 12 jam sehari, tanpa libur dan istirahat selama 1,5 tahun.

"Kita bekerja super keras, saya pikir setengah mati sih. Pas pandemi itu kita kerja tujuh hari seminggu, lebih dari 12 jam sehari. Tanpa libur tanpa istirahat selama 1,5 tahun itu. Supaya itu bisa digunakan di seluruh dunia," ungkapnya.


Menurutnya, untuk mendukung dan berkolaborasi menuntaskan pandemi, perlu adanya edukasi yang terus dilakukan kepada masyarakat mengenai produksi vaksin dan manfaatnya di tengah pandemi.

Selain itu, ia juga mengajak kepada seluruh masyarakat untuk segera vaksin agar pandemi bisa cepat berakhir.

"Kita mau balik ke situasi semula, agar pandemi cepat berakhir, ayo vaksin segera," ajak dia.

Simak Video "AstraZeneca Mulai Ambil Keuntungan dari Vaksin Covid-19 di 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia