Inilah Rahma, Peneliti Indonesia yang Raih Penghargaan WIN DRR 2021

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 16 Okt 2021 11:20 WIB
Nuraini Rahma, peneliti BRIN yang raih penghargaan.
Peneliti Indonesia Nuraini Rahma Hanifa. Foto: BRIN
Jakarta - Ilmuwan Indonesia meraih penghargaan dari United Nation for Disaster Risk Reduction (UNDRR) 2021. Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut bernama Dr. Nuraini Rahma Hanifa. Seperti apa sosok Rahma dan pengabdiannya untuk masyarakat?

Dr. Nuraini Rahma Hanifa meraih penghargaan Women's International Network for Disaster Risk Reduction(WIN DRR) Leadership Awards 2021 dari UNDDR di Bangkok, Rabu (13/10/2021). Rahma menjadi pemenang penghargaan kategori Rising Star Award dari 8 finalis asal berbagai negara.

Dikutip dari laman resmi UNDDR, WIN DRR Leadership Awards 2021 UNDRR merupakan apresiasi bagi insan perempuan dunia yang berkontribusi dan meraih pencapaian tinggi lewat upaya pengurangan risiko bencana di kawasan Asia-Pasifik.

Penghargaan UNDRR tersebut juga merupakan upaya memberdayakan dan meningkatkan peran perempuan dalam pengambilan keputusan dalam pengurangan risiko bencana di kawasan Asia-Pasifik, dengan mempromosikan dan mendukung kepemimpinan perempuan. Rahma juga merupakan salah satu pendiri U-Inspire, platform pemuda dan profesional muda yang bekerja di bidang sains, teknologi, dan inovasi (SETI) untuk pengurangan risiko bencana (PRB).

Dikutip dari laman ITB dan BRIN, sejumlah hasil penelitian Rahma bermanfaat untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam mengantisipasi bencana. Dengan demikian, lebih banyak jiwa yang bisa diselamatkan dan lebih besar mitigasi risiko yang bisa dilakukan.

Salah satunya karya peneliti Pusat Riset Geteknologi BRIN yaitu studi pemetaan estimasi dampak akibat gempa dan tsunami megathrust selatan Jawa di Kecamatan Pangandaran. Sebagai informasi, area pantai selatan di Jawa Barat adalah salah satu area yang rentan terdampak bahaya gempa megathrust dan tsunami. Hasil penelitian Nuraini mendapati modelling yang dapat digunakan sebagai dasar analisis dampak potensial gempa dan tsunami di Pangandaran.

Alumnus S1 dan S2 Teknik Geodesi ITB ini mengatakan, ia ingat bagaimana mengerikannya ancaman gempa megathrust dan tsunami di Jawa hasil risetnya 7 tahun silam. "Ayah saya berkata, bagaimana kamu menggunakan ilmu pengetahuan yang kamu miliki untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa?," tutur Rahma, dikutip dari laman BRIN, Jumat (15/10/2021).

Rahma mengatakan, banyak negara di wilayah Asia-Pasifik rawan akan bencana. Ia mencontohkan, Indonesia mempunyai 11 jenis bahaya yang bisa memicu risiko bencana yang kompleks dan mengancam hampir seluruh penduduk yang sekitar 272 juta orang.

Salah satu bencana tersebut, lanjut Rahma, adalah bencana tsunamigenic Sumatera 2004, serangkaian gempa tsunami di sepanjang Palung Sunda, hingga gempa, tsunami dan likuifaksi Palu 2018. Untuk itu, sambungnya, ilmu pengetahuan tentang kebencanaan perlu diwariskan lintas generasi dan disebarkan pada tingkat lokal.

Ia mengatakan, perempuan adalah salah satu golongan yang disebut rentan dalam kebencanaan. Kendati demikian, lanjutnya, perempuan juga memiliki potensi besar sebagai akselerator dalam ketangguhan dan pengurangan risiko bencana. Sebab, kata Rahma, pengurangan risiko bencana merupakan proyek seumur hidup yang membutuhkan kerjasama semua manusia untuk menyelamatkan banyak nyawa.

"Sudah waktunya bagi kita untuk bertransformasi sebagai agen perubahan itu sendiri dan memanfaatkan ilmu pengetahuan, rekayasa, teknologi dan inovasi sejalan dengan Sendai Framework & SDGs," kata peneliti alumnus S3 Nagoya University, Jepang di Department of Earth and Environmental Science, Graduate School of Environmental Studies tersebut.

Gimana detikers, berminat jadi peneliti?

Simak Video "Yunani Diguncang Gempa Magnitudo 5,8 Sejumlah Bangunan Rusak"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia