Bravo! Peneliti Senior BRIN Raih Penghargaan Level ASEAN untuk Perempuan

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 15 Okt 2021 20:30 WIB
Peneliti Utama Teknologi Lingkungan Loka Penelitian Teknologi Bersih LIPI, Neni Sintawardani
Foto: Firdaus/detikHealth
Jakarta - Peneliti pada Loka Penelitian Teknologi Bersih Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Neni Sintawardani memenangkan penghargaan The Underwriters Laboratories-ASEAN-U.S. Science Prize for Women 2021. Neni meraih penghargaan dalam kategori Senior Scientist pasca menyisihkan 22 kandidat yang berasal dari berbagai negara anggota ASEAN.

Berdasarkan rilis yang diterima detikcom pada Jumat (15/10/2021), Neni memperoleh hal ini berkat penelitiannya dalam peningkatan sistem sanitasi masyarakat, guna mendukung ketersediaan air bersih menggunakan biogas dari air limbah olahan.

Dia mendapat hadiah dari The Science Prize for Women sebesar $15 ribu. Penghargaan ini diselenggarakan melalui kolaborasi ASEAN Committee on Science, Technology, and Innovation (COSTI), U.S. Agency for International Development (USAID), dan Underwriters Laboratories yang berbasis di Amerika Serikat.

ASEAN-U.S. Science Prize for Women adalah penghargaan dan pengakuan pagi para ilmuwan perempuan yang berkontribusi penting di bidang iptek. Para ilmuwan perempuan ini juga merupakan mentor dan panutan bagi para peneliti perempuan lainnya.

Pada tahun ini, penghargaan diberikan pada mereka yang mendedikasikan penelitian di bidang 'Air Bersih dan Udara Bersih di Kawasan ASEAN'.

Riset dari peneliti senior BRIN ini fokus pada penanganan sanitasi di Kiaracondong dan pengelolaan limbah tahu di Sumedang, Jawa Barat. Dirinya mencatat, hanya 45-55 persen dari 2,5 juta penduduk Kiaracondong yang punya toilet permanen. Sisanya memakai toilet umum.

Tak hanya itu, 42 persen rumah tangga tidak punya septic tank dan limbah toilet mereka langsung dialirkan ke Sungai Jondol.

Neni juga menggarisbawahi masalah lain, yakni ketersediaan air bersih. Sehingga, pemanfaatan composting toilet atau teknologi toilet kering adalah solusi yang efektif dalam mengurangi pencemaran sungai, mengurangi penggunaan air bersih, dan mengurangi secara signifikan biaya infrastruktur dalam sentralisasi pengelolaan air limbah domestik.

Terkait limbah tahu di Desa Giriharja, Sumedang, Neni membuktikan penelitiannya efektif dapat menstabilkan debit fluktuasi harian untuk meningkatkan pH air. Sehingga, limbah tahu yang sudah diolah ini diproses menjadi biogas, lalu menjadi air bersih yang bisa didistribusikan ke rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari.

"Masyarakat akan dengan mudah ingin menggunakan dan mempertahankan sebuah teknologi jika hal tersebut dapat menyelesaikan masalah serta memberikan manfaat ekonomi bagi mereka", kata peneliti BRIN tersebut optimis.

Simak Video "Dipilih Jokowi Jadi Kepala BRIN, Siapa Laksana Tri Handoko?"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia