Kisah Satria, Lulusan FK Unair Peneliti Vaksin COVID-19 dan Doktor Termuda

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 13 Okt 2021 17:00 WIB
Kampus UNAIR Surabaya
Foto: Kampus UNAIR Surabaya (dok. Humas Unair)/Kisah Satria, Lulusan FK Unair Peneliti Vaksin COVID-19 dan Doktor Termuda
Jakarta - Pendidikan doktor di Indonesia dan dunia terus menghasilkan talenta terbaik. Salah satunya Satria Arief Prabowo yang menjadi doktor termuda di Indonesia di usia 25 tahun pada 2019.

Doktor TermudaKisah Satria, Lulusan FK Unair Peneliti Vaksin COVID-19 dan Doktor Termuda. Foto: Screenshot Unair

Prestasi Satria yang dicatat MURI tersebut diraih usai menempuh pendidikan di London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM). Satria meneliti vaksin tuberkulosis dengan penggabungan obat.

Namun prestasi Satria tak berhenti sampai di situ. Dikutip dari laman Unair, Satria yang merupakan alumnusnya tergabung dalam tim pengembangan vaksin COVID-19 oral.

Satria mewakili LSHTM bekerja sama dengan Institut Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga. Vaksin bernama V-SARS-Covid-19 ini sudah diuji pre klinis di laboratorium pada awal April 2020 dan hewan dengan hasil yang baik.

Sepak terjang Satria di dunia medis diawali ketika menapaki jenjang sarjana Pendidikan Dokter Unair di usia 15 tahun. Di tahun 2012, dia memperoleh kesempatan pelatihan penelitian di Belanda.

Dikutip dari akun Linkedin miliknya, Satria saat ini tercatat sebagai dokter di National Health Service (NHS) Inggris. Berikut riwayat pendidikan dan pengalaman Satria.

Profil Satria, lulusan Unair dan dokter di Inggris

1. Nama lengkap: Satria Arief Prabowo

2. Tempat Tanggal lahir: Surabaya, 13 Oktober 1992

3. Riwayat pendidikan

  • Sarjana kedokteran FK Unair 2008-2012
  • Pelatihan riset dan klinis di Rijksuniversiteit Groningen 2012
  • Profesi kedokteran FK Unair 2012-2014
  • Doktor di LSHTM bidang Immunology of Infectious Diseases 2014-2018.

4. Riwayat pekerjaan

  • Kontributor pada WHO Regional Office for Europe
  • Vice president pada Nusantara Innovation Forum
  • Research associate pada Archivel Farma
  • Konsultan apda Immunitor Ltd.
  • Dokter junior pada NHS England.

Menurut Satria, penilaian untuk meraih gelar doktor di usia muda adalah kualitas riset. Penilaian lainnya bergantung pada capaian publikasi ilmiah. Satria sudah menerbitkan dua tulisan di jurnal internasional saat masih S1.

Saat ini, Satria sudah mempunyai banyak publikasi jurnal internasional terindeks Pubmed dan Scopus. Salah satu penelitian yang ia lakukan adalah tentang pengembangan vaksin tuberkulosis, yang juga kelanjutan dari risetnya saat pelatihan di Belanda.

Gimana detikers, ingin mengikuti jejak Satria yang lulus Unair dan jadi doktor termuda?

Simak Video "Jurusan Sepi Peminat di Unair, Apa Saja?"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia