Indonesia Berpenghasilan Menengah ke Bawah, Ini Solusi dari Pakar Undip

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Jumat, 17 Sep 2021 09:00 WIB
Kebijakan PPKM di tengah pandemi COVID-19 ini juga berimbas pada sektor transportasi. Para sopir angkot ini pun teriak karena pendapatan menurun akibat sepi penumpang.
Foto: Andhika Prasetia
Jakarta - Berdasarkan data dari Bank Dunia, Indonesia turun peringkat menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah pada tahun ini. Padahal tahun 2019, Indonesia sempat meraih status negara berpenghasilan menengah ke atas. Merespons kondisi ini, pakar Universitas Diponegoro (Undip) angkat bicara.

Menurut guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undip Sugiyanto, kondisi penurunan status tersebut dapat dijawab melalui penyediaan lapangan kerja. Hal ini diungkapkannya dalam diskusi virtual yang bertajuk "Pekerjaan Kelas Menengah: Fakta dan Potensi Bagi Ekonomi Indonesia" pada Rabu, (15/9/2021) lalu.

Sebab penyediaan lapangan kerja dianggap menjadi jalan paling tepat untuk menurunkan kemiskinan dan menumbuhkan ekonomi yang lebih berkualitas.

"Pertama adalah lapangan kerja yang merupakan kunci untuk menuju status sebagai kelas menengah dan menurunkan kemiskinan," kata Sugiyanto dalam keterangan tertulis yang diterima detikEdu, Kamis (16/9/2021).

Sugiyanto juga menekankan bahwa bukan jumlah lapangan kerja yang dimaksud dalam hal ini. Melainkan, kualitas dari lapangan kerja tersebut.

"Kedua adalah kualitas lapangan kerja dan bukan kuantitasnya. Ini merupakan tantangan utama," tambah dia.

Oleh sebab itu, kata Sugiyanto, diperlukan model pertumbuhan yang layak dan memadai untuk mencapai pekerjaan kelas menengah. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan produktivitas dan penciptaan pekerjaan yang terkait dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan pertumbuhan nilai tambah.

Atau bisa disebut dengan model yang berbasis pada pengembangan pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Namun, Sugiyanto mengaku, implementasi hal ini tentu tidaklah mudah.

"Pengimplimentasian model ini harus memastikan mampu mengatasi lambatnya proses konvergensi ekonomi. Proses ini terjadi tidak merata dan lambat. Implementasinya berbasis luas dan menyebar, baik sektoral maupun spasial," kata dia.

Sementara itu, Dekan FEB Undip Suharnomo menyikapi penurunan status Indonesia yang diakibatkan dari penurunan Pendapatan Nasional Bruto per kapita Indonesia pada tahun 2020. Ia menyebut hal ini terjadi sebagai dampak dari pandemi COVID-19.

"Penurunan ini disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan ekonomi Indonesia terkontraksi -2,07% pada tahun 2020. Bappenas sendiri sebelum pandemi memproyeksikan pendapatan per kapita Indonesia bisa mencapai US$4.500 pada tahun 2020," ungkap Suharnomo.

Mendukung pendapat Sugiyanto, Suharnomo menambahkan faktor yang menentukan level pendapatan per kapita dari sebuah negara. Faktor itu adalah keberadaan dan kualitas pekerjaan kelas menengah.

"Keberadaan pekerjaan kelas menegah di Indonesia jika dikaitkan dengan struktur ketenagakerjaan yang ada saat ini masih belum kompetitif dan belum sepenuhnya siap mendukung akselerasi sektor ekonomi," ungkap dia.

Hal tersebut merujuk pada data BPS tentang ketenagakerjaan di Indonesia pada bulan Februari 2021. Data menunjukkan bahwa komposisi penduduk bekerja berdasarkan pendidikan masih didominasi oleh lulusan SD ke bawah (37,41%).

Senada dengan itu, pihak Bank Dunia Maria Monica Wihardja ikut menambahkan bahwa kondisi pertumbuhan pekerjaan di Indonesia masuk dalam kategori produktivitas rendah.

Sebab pertumbuhan produktivitasnya masih belum mampu menaikan status dari 47% masyarakat Indonesia yang saat ini masih berada di status 'calon kelas menengah'.

Menurutnya, perlu adanya langkah yang terintegrasi agar tercipta pekerjaan yang dapat membawa masyarakat Indonesia masuk ke status kelas menengah. Selain itu, perlu diperhatikan pula aspek kelembagaan dan politiknya.

"Kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan produktivitas pada seluruh sektor dinilai tepat dan benar. Namun, perlu dilakukan perbaikan dalam aspek kelembagaan dan politik," tutup Maria.

Simak Video "BPS: Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II 2021 Melesat 7,07%"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia