Dua Kakak Beradik Menang 33 Medali Olimpiade Matematika, Begini Kisahnya

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 22 Agu 2021 09:00 WIB
Mischka Aoki dan Devon Kei Enzo, kakak-adik peraih 33 medali kompetisi sains dan matematika internasional.
Mischka dan Devon, peraih 33 medali kompetisi sains dan matematika internasional. Foto: instagram.com/nadiemmakarim
Jakarta - Mischka Aoki dan Devon Kei Enzo menjadi sorotan setelah berhasil menyabet 33 medali kompetisi matematika dan sains internasional. Bagaimana strategi kakak-beradik usia 12 dan 11 tahun ini berlaga di olimpiade internasional ?

Mischka Aoki dan Devon Kei Enzo tercatat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional saat mendapat medali di Olimpiade Matematika Internasional World Mathematics Invitational (WMI) 2021.

Pada ajang ini, Devon meraih penghargaan terbaik Diamond Medal Olimpiade Matematika Internasional WMI (World Mathematics Invitational) 2021. Sementara itu, Mischka sang kakak meraih Silver Medal.

Pada perhelatan itu, Devon Kei Enzo meraih penghargaan terbaik, Diamond Medal. Sementara, Mischka Aoki merebut medali Silver. Capaian kedua kakak-beradik siswa kelas 8 dan 7 ACS Jakarta tersebut menambah total medali yang mereka raih selama pandemi menjadi 33 medali.

Sejumlah kompetisi matematika dan sains yang ditaklukkan kedua kakak beradik ini selama pandemi di antaranya yaitu Gold Medals dari Hua Xia Cup Global Round, AIMO, VANDA Science, dan BIG Australia Science Competition.

Mischka dan Devon juga meraih 5 medali Singapore International Math Olympiad Challenge (SIMOC) tahun ini. Di olimpiade ini, keduanya bertanding secara individual maupun dalam grup bersama siswa negara lain seperti Belgia, Uzbekistan, China, Hong Kong, Singapura, India, Filipina, Mesir, Turki dan lain-lain.

Devon menuturkan, sejumlah kompetisi diadakan dalam waktu berdekatan. Hal ini membuatnya harus berlatih intensif dan mengikuti perlombaan hampir tiap minggu.

"Ada memang bulan-bulan tertentu dimana kita harus mengikuti lomba hampir setiap minggu, dan kalau ada upcoming competition kita harus belajar setiap hari," kata Devon, dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (20/8/2021).

Devon menuturkan, ia dan sang kakak juga kerap mencoba soal-soal yang jauh lebih sulit di atas kemampuan mereka agar bisa terus berkembang. Menurut Devon, langkah tersebut membuat mereka mencari cara agar bisa menghitung lebih cepat. Dengan begitu, mereka bisa mendapat sisa waktu lebih banyak untuk mengecek kembali hasil jawaban saat berlaga di olimpiade.

Belajar tentang komitmen dan dedikasi

Keduanya menuturkan, keinginan mengikuti olimpiade matematika dan sains di atas merupakan muncul dari diri sendiri. Meski waktunya jadi lebih banyak dihabiskan untuk belajar, mereka mengaku tetap menikmatinya.

"Mengikuti Olimpiade memang sesuatu yang kita mau karena memang yg kita suka, karena kami suka tantangan, lewat kompetisi ini kita banyak belajar hal baru," kata Devon.

Devon menambahkan, ikut olimpiade juga membuat mereka mengasah kemampuan memecahkan masalah pada soal matematika dan perhitungan. Menurut mereka, keahlian ini juga berguna di kehidupan nyata karena jadi belajar memecahkan masalah dan mencari solusi di hal-hal sehari-hari.

Mischka menambahkan, selain medali, banyak hal yang mereka dapatkan dari mengikuti Olimpiade.

"Ikut Olimpiade bukan hanya mengasah otak, tapi banyak hal-hal lainya yang kita bisa pelajari, kita belajar tentang komitmen dan dedikasi untuk meraih yang kita mau, kita juga belajar tentang tekad untuk berjuang," kata Mischka.

Mischka mengatakan, beragam perlombaan membuat mereka juga menjadi lebih bersyukur dan menghargai setiap pencapaian. Menurutnya, kegagalan bukalah penghalang untuk berjuang.

"Kita ga pernah takut, karena kita tahu kalau gagal harus bangkit dan berjuang. Justru dari kegagalan bisa jadi suatu dorongan untuk kita. Memperbaiki diri dan menantang kita untuk jadi lebih baik lagi," kata Mischka.

Ia menuturkan, dirinya menganggap kegagalan dan rasa kecewa adalah sesuatu yang wajar.

"Tentu ada kecewa tapi itu oke, tapi setelah itu kita harus bangkit dan berusaha. Kalau murung terus, ga akan maju. Kita ga boleh menyerah," kata Mischka.

Tetap harus menikmati masa kecil

Kakak beradik ini mengaku tidak pernah merasa bersaing antara satu sama lain. Didikan dari kedua orang tua, menurutnya menjadikan mereka saling mendukung dan mengasihi satu sama lain.

Devon mengaku, waktu bermain mereka memang tidak sebanyak anak-anak lain. Di sisi lain, menurutnya, mereka tetap bermain setiap ada waktu luang.

"Kita tidak bermain seperti anak lain, tapi kita tetap main dan senang-senang, kita selalu main bersama, membagi waktu untuk bermain," kata Devon.

Mischka berpendapat, masa kecil tetap harus dinikmati.

"Penting untuk menikmati masa kecil. Kita harus menikmati momen itu, karena kalo kita udah besar nanti, ga bisa membawa kembali masa-masa kecil lagi," kata Mischka.

Nah, itu dia kisah Mischka dan Devon meraih 33 medali kompetisi matematika dan sains internasional. Gimana detikers. mau ikut olimpiade sains dan matematika juga kayak Mischka-Devon?



Simak Video "Sosok Stanve, Jago Matematika Tingkat Dunia Asal Tangerang"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia