Profil Carina Citra Dewi Joe, Peneliti Asal RI yang Ikut Buat Vaksin Astrazeneca

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 27 Jul 2021 10:30 WIB
acara Ngosyek atau Ngobrol Asyeek di Instagram Duta Besar Indonesia untuk Inggris @desrapercaya
Foto: Dok Desrapercaya/Profil Carina Citra Dewi Joe, Peneliti Asal RI yang Ikut Buat Vaksin Astrazeneca
Jakarta - Salah satu vaksin yang dipakai di Indonesia adalah vaksin Astrazeneca. Tahukan detikers, selain Indra Rudiansyah ada peneliti perempuan muda asal Indonesia yang ikut kembangan vaksin jenis ini?


Peneliti muda yang dimaksud adalah Carina Citra Dewi Joe. Ia tergabung dalam tim yang mengembangkan proses manufaktur skala besar GMP Oxford atau vaksin AstraZeneca COVID-19.


Tugas Carina dalam riset ini adalah bisa memproduksi vaksin COVID-19 dalam skala besar dan selesai dengan waktu singkat. Tujuannya adalah agar vaksin yang dikembangkan di Jenner Institute Oxford University ini dapat segera digunakan dalam clinical trial dan penggunaan masif.


Profil & Pendidikan Carina Citra Dewi Joe


Dalam acara Ngosyek atau Ngobrol Asyeek di Instagram Duta Besar Indonesia untuk Inggris @desrapercaya, Carina mengisahkan awal mula dirinya berkecimpung di dunia bioteknologi. Kala itu, saat ia memilih masuk jurusan tersebut untuk menempuh pendidikan S1.


Usai tamat S1, ia ditawari internship di perusahaan Australia. Perusahaan inilah yang menawarkannya meneruskan studi hingga meraih gelar PhD untuk menunjang kariernya dalam bidang penelitian.


Peraih gelar PhD in Biotechnology di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia menambahkan bahwa pengalaman di industri bioteknologi turut berpengaruh hingga akhirnya terlibat dalam riset vaksin AstraZeneca untuk COVID-19 saat ini.


"Setelah PhD, lanjut internship 7 tahun. Karena saya latar belakangnya industri, sementara apply ke postdoc Oxford, mereka senang sama background industri saya," ujarnya .


  • Proses Pembuatan Vaksin


Carina menjelaskan bahwa proses pembuatan vaksin memakan waktu 1,5 tahun dari yang sedianya 10 tahun. Menurutnya hal ini akan menjadi janggal di telinga masyarakat sehingga ketika melihat masih ada masyarakat yang takut vaksin, baginya amat dimaklumi.


Namun, di sisi lain, perlu adanya edukasi diri kepada masyarakat mengenai produksi vaksin dan manfaatnya di tengah pandemi.


"Produksi vaksin khususnya vaksin COVID-19 tetap dilaksanakan sesuai peraturan yang berlaku. Hanya saja, proses birokrasi dipercepat dan proses pembuatan dilaksanakan secara paralel," ungkapnya.


Carina menambahkan bahwa proses birokrasi yang cepat bisa terjadi karena dilakukan secara paralel dan alasan kedaruratan. Sehingga proses pembuatan vaksin bisa memakan waktu yang jauh lebih singkat.


"Kenapa bisa cepat, karena kita lakukan paralel. Sebelumnya step by step, rencanakan dulu baru apply funding, 2-3 tahun kemudian baru dapat, barulah clinical trial. Kalau (pandemi) ini emergency," jelas Carina.


Ilmuwan muda asal Indonesia ini menjelaskan bahwa vaksin bersifat sebagai pencegah, maka pasien positif COVID-19 yang kemudian sadar akan kebutuhan vaksin tidak bisa lagi divaksinasi saat positif.


Maka dari itu, ia mengajak kepada seluruh masyarakat untuk segera vaksin agar pandemi bisa cepat berakhir.


"Kita mau balik ke situasi semula, agar pandemi cepat berakhir, ayo vaksin segera."

Simak Video "Indra Rudiansyah Sempat Bawa Pulang Teknologi Viral Vector ke RI"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia