Satgas COVID-19 RS UNS Sebut RI Ada di Gelombang Ketiga Covid-19

Fahri Zulfikar - detikEdu
Sabtu, 24 Jul 2021 08:00 WIB
Pemberlakuan PPKM Darurat diperpanjang. Meski begitu, Jokowi akan melonggarkan PPKM Darurat pada 26 Juli 2021 mendatang bila kasus COVID-19 di RI menurun.
Foto: Antara Foto/Satgas COVID-19 RS UNS Sebut RI Ada di Gelombang Ketiga Covid-19
Jakarta - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus, beberapa waktu lalu telah mengatakan bahwa dunia saat ini telah memasuki tahap awal gelombang ketiga COVID-19.


Kondisi ini menjadi perhatian baru mengingat kasus positif corona di Indonesia yang terus meningkat dari hari ke hari, RS yang kewalahan menerima pasien positif COVID-19, dan banyak tenaga kesehatan (nakes) yang terpapar hingga ada yang meninggal.


Senada dengan itu, Juru Bicara (Jubir) Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Rumah Sakit (RS) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, dr Tonang Dwi Ardyanto, menjelaskan saat ini kondisi Indonesia tengah dilanda gelombang ketiga COVID-19.


"Kita pernah menjadi yang tertinggi dan terbanyak di Asia, tapi saat ini kita sedang turun. Ini posisi menggambarkan kita sebenarnya ada di gelombang ketiga, hanya gelombang pertama seolah-olah tidak merasakan," ujar dr. Tonang Dwi Ardyanto seperti dikutip detikEdu dari laman resmi UNS, Jumat (23/7).


Hal ini terbukti dari kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sejumlah RS yang mengalami banyaknya pertambahan antrean. Contohnya saja, di RS UNS, antrean di IGD bisa mencapai 20-25 orang.


"Di RSUD Moewardi bisa sampai 60. Ada yang sampai di tenda, ada yang di selasar. Pasien menunggu untuk kamar. Itu kondisi hari ini yang tidak kita sangka," ungkap dr Tonang.


Waspada Pelonggaran PPKM


Dokter Tonang menjelaskan bahwa pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) perlu diperhatikan karena berpotensi menyebabkan terjadinya lonjakan kasus COVID-19, seperti yang dialami oleh Inggris, Malaysia, India, termasuk Singapura yang dinilai sebagai negara paling berhasil menanggulangi pandemi COVID-19.


"Contohnya, dengan merebaknya COVID-19 varian Delta yang berasal dari India, membuat pertambahan kasus COVID-19 di Inggris dan Malaysia melonjak drastis, bahkan lebih tinggi daripada Indonesia," jelasnya.


Menurutnya, yang perlu diperhatikan saat ini adalah angka kematian pasien akibat COVID-19 di Indonesia lebih tinggi jika dibandingkan dengan Malaysia dan Inggris.


"Sebenarnya kita belum setinggi Malaysia dan Inggris tapi dalam hal kematian harus kita akui hampir mengalahkan Malaysia, walaupun kasusnya Malaysia lebih berlipat dari kita,"terangnya.


Belajar dari Negara Lain


dr Tonang juga meminta agar pemerintah Indonesia banyak belajar dari negara-negara di dunia dalam pengambilan keputusan untuk pembatasan aktivitas masyarakat dan vaksinasi Covid-19.


Caranya adalah dengan menggencarkan tes Covid-19 hingga 15 kali lipat dari standar yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO). Hal ini pernah dilakukan India saat Covid-19 varian Delta pertama kali merebak di negara tersebut.


"Saat ini kita masih tinggi. Kalau antigen saja kita 29,1 persen. Kalau PCR 38,6 persen. Kemarin sempat 47,6 persen jadi belum stabil posisi kita," tuturnya.


Jubir Satgas COVID-19 RS UNS tersebut juga menambahkan bahwa pemerintah sebaiknya perlu mengkaji ulang pelonggaran PPKM, sebab persentase masyarakat yang baru mendapat suntikan pertama dengan suntikan kedua vaksin COVID-19 belum mencapai persentase yang diinginkan.


Pemerintahan Boris Johnson di Inggris bisa menjadi contoh saat berani untuk melonggarkan penguncian wilayah karena 88 persen masyarakatnya sudah mendapat suntikan pertama vaksin COVID-19. Sementara persentase yang mendapat suntikan kedua vaksin COVID-19 sudah mencapai 60 persen.


"Dan, ini menjadi pelajaran berharga untuk kita agar memang re-opening yang situasi dianggap sudah siap pun ternyata juga terjadi (pertambahan kasus COVID-19) dan cakupan vaksinasi kita belum ke sana (mencapai target)," ucapnya.


Percepat Vaksinasi


Atas kondisi ini, dr Tonang mendorong pemerintah agar secepat-cepatnya dan sebanyak-banyaknya melakukan vaksinasi COVID-19 untuk masyarakat.


Hal itu dikarenakan efek dari vaksinasi COVID-9 baru dapat dirasakan manfaatnya jika sudah mencapai persentase 40 persen.


"Sehingga, kita berharap efek vaksinnya bisa terasa. Ini bukan berarti pandemi selesai, tapi jumlah kasus bisa di bawah jumlah yang sembuh," pungkas dr Tonang.


Misalnya di Chili, yang divaksinasi COVID-19 adalah lansia. Dampaknya kasus positif bergeser ke remaja, kemudian ke anak-anak.


Dengan contoh kasus di Chilli, Jubir Satgas COVID-19 RS UNS menyarankan agar remaja dan anak-anak juga perlu divaksinasi.



Simak Video "Vaksinasi Covid-19 Disabilitas Terkendala Dukungan Keluarga"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia