Suhu Dingin Saat Kemarau hingga Dieng Membeku, Ini Kata BMKG & LAPAN

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 07 Jul 2021 15:30 WIB
Foto rumput membeku di komplek Candi Arjuna Dieng, 7/7/2021 pagi
Foto: Dok UPT Dieng
Jakarta -

Suhu dingin terjadi di beberapa daerah belakangan ini. Padahal sebagian wilayah sudah mengalami musim kemarau. Bahkan di kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng Rabu pagi (07/07/2021), suhunya sempat mencapai hingga minus 1,2 derajat celsius pada pukul 05.15 WIB.

Ketika dihubungi oleh tim detikcom, Rabu (07/07/2021), salah satu pembuat aplikasi Stasiun Cuaca Dieng Aryadi Darwanto mengatakan bahwa suhu 1,2 derajat celsius ini merupakan suhu permukaan tanah. Sementara, suhu udaranya sendiri 5 derajat celsius.

Mengutip dari CNN, di Jawa Timur saat ini tengah mengalami fenomena Bediding. Menurut Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Klas I Juanda Surabaya Teguh Tri Susanto, Bediding adalah kondisi di mana pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya.

Peneliti Cuaca dan Iklim Ekstrim BMKG, Siswanto juga menjelaskan bahwa pada akhir bulan Juni, terdapat gangguan atmosfer pemicu pertumbuhan awan berupa gelombang ekuatorial tropis MJO yang terpantau aktif. Gangguan ini juga merambat dari Samudera Hindia bagian barat.

Melalui keterangan tertulis yang diterima CNN, awan tersebut melewati wilayah benua maritim kontinen Indonesia dan bergerak ke arah timur sampai pertengahan dasarian II Juli 2021.

"Sirkulasi angin monsun Australia dan propagasi MJO diperkirakan akan berdampak pada peningkatan potensi hujan di wilayah Indonesia dekat dengan ekuator dan wilayah bagian utaranya," kata Siswanto.

Dirinya juga memaparkan bahwa suhu permukaan laut di Samudera Hindia bagian barat didominasi kondisi yang dingin hingga netral. Sementara, di bagian tengah dan timurnya bersuhu netral hingga hangat.

Selain penjelasan dari BMKG, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga menjelaskan mengapa suhu dingin di pagi hari terjadi belakangan ini.

Menurut keterangan tertulis dalam situs Edukasi Sains Antariksa, peneliti LAPAN Andi Pangerang mengatakan bahwa fenomena ini merupakan sesuatu yang lumrah di musim kemarau dan akan terjadi hingga bulan Agustus.

Menurutnya, hal ini dikarenakan tutupan awan yang sedikit. Sehingga, tidak ada panas dari permukaan bumi yang diserap dari cahaya matahari dan dilepaskan pada malam hari, yang kemudian dipantulkan kembali ke permukaan bumi oleh awan.

"Mengingat posisi matahari saat ini berada di belahan utara, maka tekanan udara di belahan utara lebih rendah dibanding belahan selatan yang mengalami musim dingin," jelas Andi.

Saat ini, angin bertiup dari arah selatan menuju utara dan yang bertiup itu dari arah Australia yang sedang musim dingin. Dampaknya, terjadi suhu dingin, khususnya di Jawa, Bali, dan Nusa tenggara yang lokasinya di selatan khatulistiwa.



Simak Video "BMKG: Fenomena Sirkulasi Siklonik di Sejumlah Perairan Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia