Kisah Perjuangan dan Tips Raih Gelar Guru Besar dari Profesor IPB

Trisna Wulandari - detikEdu
Jumat, 07 Mei 2021 16:30 WIB
Kampus IPB/ipb.ac.id
Kampus IPB di Bogor, Jawa Barat Foto: ipb.ac.id
Jakarta - Apakah kamu ada yang bercita-cita menjadi dosen sampai jadi profesor? Guru besar atau profesor adalah jabatan akademik tertinggi sesuai dengan tanggung jawabnya di keilmuan yang didalami.

Salah satu syarat mendapatkan jabatan ini yakni harus memiliki karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional bereputasi. Selain itu ada besaran jumlah angka kredit yang harus dipenugi.

Guru Besar Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (IPB) Ronny R Noor menuturkan, penelitian dan pengembangan jejaring atau networking merupakan kunci dirinya meraih guru besar.

"Penelitian itu tidak akan serta merta muncul tanpa ada networking yang baik. Dalam perjalanannya tentu tidak mulus, yang paling penting adalah boleh kecewa tapi jangan mutung (ngambek)," tuturnya dalam siaran "Professor Insight" di kanal YouTube Direktorat SDM IPB, diakses Jumat (7/5).

Ronny menuturkan, ia sempat merasakan angka kredit hangus hanya untuk pengaktifan kembali. Ia juga sempat mengalami dua kali pemutihan.

Ia mengikuti nasihat dosennya yang berkebangsaan Malaysia untuk segera mengurus posisi guru besar setelah pulang ke tanah air. Ronny pun mendaftar untuk mendapat dana penelitian kompetitif di dalam dan luar negeri.

"Tanpa penelitian tidak bisa publikasi dan tidak bisa naik pangkat. Dan networking penting, karena tidak bisa meneliti tanpa networking," kata Ronny.

Ronny menuturkan, ia berusaha mengembangkan jejaring di profesi keilmuan, pembimbing S2 dan S3, sumber daya genetik FAO, postdoctoral, Puslitbang dan LIPI, serta universitas yang sesuai bidang genetik, ekologi, dan molekuler yang ditekuninya.

Ronny bercerita, di Swedish International Development Agency (SIDA), ia mendapat dana setelah melakukan penelitian kecil-kecilan dengan modal sendiri untuk kerjasama dengan Swedia.

Ia menambahkan, dirinya juga mengambil 5 kali postdoctoral untuk mengembangkan networking, di antaranya di Jepang, Jerman, Amerika, dan Swedia.

"Terkadang harus keluar uang sendiri dulu untuk berjejaring. Ada yang sekitar 10-12 tahun baru membuahkan kerja sama. Tidak ada yang instan," tutur Ronny.

Ronny juga menyarankan untuk menyimpan arsip cetak ke filing cabinet jika belum dapat didigitalisasi. Ia mengatakan, arsip ini akan sangat berguna untuk mengajukan menjadi guru besar.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan untuk menyeimbangkan waktu antara proyek di luar dengan karier dosen.

"Jangan sampai semua peraturan sudah berubah dan (kita) sudah berumur sehingga tidak bisa jadi guru besar. Jadi saya memang membatasi diri di sini (mengambil banyak project)," kata Ronny.

Ia bercerita, dirinya juga membagi waktu agar bisa terus penelitian di sela tugas administrasi saat menjabat menjadi pembantu dekan 3, dekan, dan wakil kepala LPPM.

Adapun Guru Besar Bidang Teknik Biosistem Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknik Pertanian IPB Y. Aris Purwanto menuturkan sempat bingung saat satu karya ilmiahnya yang terindeks scopus tidak ada yang sitasi sampai tujuh tahun.

Aris juga pindah ke divisi Teknik Biosistem sehingga publikasi sebelumnya jadi tidak selaras. "Networking penelitian saya bangun kembali sehingga 2010 dapat JSPS-DGHE Bilateral Exchange Program 2010-2012. Ini program penelitian yang melibatkan IPB dan University of Tokyo," tutur alumnus University of Tokyo ini.

Ia menuturkan, sejak itu ia mendapat banyak hibah penelitian hingga menjadi 16 publikasi yang terindeks scopus. "Mungkin saat itu ilmu penelitian pertama terlalu unusual. Baru sejak 2010 banyak yang lakukan publikasi (terkait). Soal dynamic state of water in biological material. Sejak itu gencar penelitian soal itu lagi," kata Aris.

Aris menuturkan, pengajuannya menjadi guru besar juga sempat terkendala karena dua karya ilmiahnya pernah menggunakan gambar objek yang sama. "Publikasi harus teliti dan authorship harus bersih agar tidak tersendat dalam mengajukan jadi guru besar," katanya.

Ia bercerita, pengembangan karya ilmiah dengan rekannya Shinichiro Kuroki dari Kobe University mengenai non destructive measurement using NIRspectroscopy membuat banyak publikasi untuk memenuhi persyaratan jadi guru besar.

"Capaian ini tidak terlepas uluran tangan Allah, civitas akademika, dan orang yang mungkin tidak saya kenal," kata Aris.

Bagaimana detikers, siapa yang mau jadi guru besar ? (pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia