Kisah Alumni Sekolah Kedinasan STAN: Dari Tapanuli Utara ke Skotlandia

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 27 Apr 2021 15:30 WIB
Parulian Sihotang
Parulian Sihotang, Kisah Alumni Sekolah Kedinasan STAN: Dari Tapanuli Utara ke Skotlandia Foto: dok. DJKN Kemenkeu/
Jakarta - Masuk sekolah kedinasan jurusan Akuntansi di Politeknik Keuangan Negara (PKN) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) menurut Parulian Sihotang terasa mengkhawatirkan dirinya sebagai alumni jurusan IPA di SMA.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas 2015-2019 ini menuturkan, kehidupan perkuliahannya di STAN yang tanpa mempelajari dasar akuntansi akan berbeda jika tanpa dukungan teman-teman dan kakak angkatan.

Cerita pria kelahiran 23 Januari 1963 ini di STAN berawal dari kabar pembukaan penerimaan mahasiswa baru STAN dari saudara jauhnya yang bekerja di Kementerian Keuangan.

Info yang didapatkannya kuliah di STAN itu gratis, mahasiswa diberi honor, diberi gaji, lalu ditempatkan kerja. Ia pun kembali menimbang masuk jurusan teknik sipil Universitas Sumatera Utara yang saat itu sudah didapatkannya.

"Di daerah saya (dibesarkan, profesi) idaman itu perawat untuk perempuan, guru untuk laki-laki," tutur pria asal Pakkat, Tapanuli Utara, Sumatera Utara ini dalam kanal Youtube PKN Stan seri Kuliah Umum Akuntansi: Jatuh Bangun Anak Guru Pedalaman, diakses Selasa (27/4).

Parulian menuturkan, orang tuanya yang berprofesi sebagai guru percaya pendidikan bisa mengembangkan anak-anaknya. Ia pun diberangkatkan ke Medan untuk sekolah SMA, lalu mengikuti ujian STAN yang saat itu berlangsung di ibukota provinsi. Ia akhirnya dinyatakan lulus.

Ia bercerita, saat kuliah tingkat 1 STAN ancaman DO merupakan momok menakutkan bagi mahasiswa baru. Info dari kakak kelas yang kemudian ia saksikan sendiri, dari kenaikan tingkat 1 ke perkuliahan tingkat 2 bisa gugur sepertiga angkatan.

"Anak rantau (ini) membayangkan harus pulang kalau tidak bisa melanjutkan studi ke tingkat 2 STAN," kata Parulian.

Kerja keras belajar dan bantuan kakak kelas yang menjadi mentor dan guru memberi banyak latihan bagi Parulian yang tidak punya latar ilmu akuntansi.

Dukungan ini membuat anak rantau tersebut merasa mendapat keluarga yang sangat memperhatikan adik-adik angkatan yang membutuhkan dan yang merantau jauh dari desa.

"Solidaritas ini value yang kita pegang sampai sekarang," tutur dosen School of Business, University of Dundee, Britania Raya ini.

Lulus dari STAN dan menjadi ajun akuntan, Parulian bekerja sebagai auditor di Pertamina. Kesempatan ini membuka pintu baginya mengenal lebih jauh bidang minyak dan gas (migas).

Setelah tiga tahun kerja, Parulian kembali melanjutkan D4 di STAN. Ia menuturkan, jaga-jaga tidak lulus di STAN, ia sebelumnya juga mendaftar S1 di tempat lain.

"D3 ke D4 ada gap, tapi ini nilai tambah perguruan kita (STAN). Tiga tahun kerja ni bagus untuk milestones saya. Ilmu benar-benar dipraktikkan, ini menurut saya kurikulum paripurna," tutur Parulian tentang sekolah kedinasan ini.

Saat menyusun skripsi, muncul tawaran beasiswa melanjutkan pendidikan S2 ke Amerika, Inggris, dan Australia. Ia pun diterima melanjutkan pendidikan akuntansi di Amerika, dibekali ilmu bahasa Inggris tambahan, lalu berangkat dengan sekitar 50 temannya.

Isu migas yang Parulian minati membuatnya konsisten mengambil proyek terkait migas saat studi di Case Western Reserve University, Ohio, AS. Sebelum studi magisternya selesai, ia diterima berkuliah doktoral di University of Dundee, Skotlandia, Britania Raya.

Kota Dundee dan universitasnya dikenal dengan pusat riset energi Center for Energy Petroleum Mineral Law and Policy dan dekat dengan pusat minyak Inggris.

Kendati demikian, setelah dua tahun studi, ia kembali ke Indonesia dan menjadi PNS sebagai auditor di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Lima tahun bertugas di BPKP, Parulian memberanikan diri mengambil cuti di luar tanggungan negara. Ia lalu berangkat ke Dundee sebagai mahasiswa doktoral dan menyelesaikan program riset akuntansi migas dan akuntansi bagi hasil untuk sumber daya sambil menjadi staf pengajar.

Parulian menuturkan, semula ia ditawari lanjut menjadi dosen. Kendati demikian, ia pulang untuk kembali mengabdi di BPKP.

Di posisi eselon 3, Parulian mulai ingin mengaplikasikan ilmunya di bidang migas sebagai bentuk aktualisasi diri. Ia pun mundur dari status PNS dan masuk ke Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sebagai pegawai baru.

"Jika tidak dibekali dengan (budaya) humble-nya anak STAN, dan kesadaran untuk aktualisasi diri yang lebih baik, mungkin saya tidak ingin mulai lagi dari nol. Thus, attitude berpengaruh sekali ke karier," tutur Parulian.

Ia menuturkan, kerja dilakukan laiknya semua tugas karyawan baru. Titik balik kariernya di SKK Migas muncul saat membuat teks pidato untuk Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) saat itu yang banyak diapresiasi audiens dan pimpinan.

Dari situ, ia kemudian membantu tugas teknis dan konseptual hingga dalam sekitar 6 tahun menjabat sebagai Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas 2015-2019.

"Selama bertugas di SKK Migas, ada banyak role model, termasuk Sudirman Said (mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI) yang teman sekelas saya dan teman-teman lain yang berjuang di STAN. Jadi sama-sama berjuang di tengah persahabatan. Tidak saya lupakan dorongan-dorongan kepada saya itu," tutur Parulian.

Parulian saat itu dan setelahnya juga aktif menjadi tenaga ahli dan mengajar di Universitas Indonesia dan Binus University. Setelahnya, ia kembali ke University of Dundee sebagai tenaga pendidik dan periset.

Ia berharap, kembali belajar dan mengajar di Dundee membuka peluang kerjasama, pertukaran mahasiswa, dan pertukaran riset dengan STAN. "Memberi kembali untuk STAN," tuturnya.

Ia menuturkan, tidak perlu takut jika berlatar praktisi untuk mengajar. Menurut Parulian, universitas di negara maju seperti University of Dundee kini tengah mengembangkan kurikulum berbasis studi kasus untuk memicu pemikiran kritis para pelajar. "Bidang akademik dilatari praktisi," jelasnya.

Pengembangan critical thinking dan creative thinking pula yang disyukuri Parulian dari masa kuliah di sekolah kedinasan ini.

"Saya banyak berutang pada kegiatan peminatan, kerohanian, senat STAN, komisariat. Banyak membangun karakter yang menjadi pondasi hingga kini. Terus saling berkabar dan menguatkan," Parulian.

Simak Video "Ekspor Non Migas Maret 2021 Tertinggi Sepanjang Sejarah RI"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia