Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei dan Fakta-fakta Menariknya

ADVERTISEMENT

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei dan Fakta-fakta Menariknya

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Rabu, 20 Mei 2026 06:30 WIB
Pengunjung melihat koleksi, diorama, patung separuh badan, dan artefak sejarah di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (19/5/2026). Kunjungan meningkat menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei.
Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Semangat persatuan dan perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan mulai terorganisir sejak berdirinya Boedi Oetomo? Momen bersejarah ini kini kita kenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati pada 20 Mei setiap tahunnya.

Pada 2026 ini, peringatan Harkitnas jatuh pada hari Rabu (20/5/2026). Perayaan ini menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran nasional yang digelorakan oleh para pemuda sejak 20 Mei 1908 silam, sekaligus menjadi tonggak awal pergerakan modern di tanah air.

Lantas, bagaimana sejarah lengkap berdirinya organisasi Boedi Oetomo dan apa saja fakta menarik di balik peringatan Hari Kebangkitan Nasional?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejarah Berdirinya Organisasi Bodi Oetomo

Organisasi Boedi Oetomo resmi lahir pada 20 Mei 1908 yang menjadi momentum penting bagi sejarah perjuangan bangsa. Mengutip buku 'Boedi Oetomo: Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa' yang ditulis oleh Gamal Komandoko, perhimpunan ini didirikan oleh sembilan murid School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Mereka adalah Soetomo, Soelaeman, Soewarno, Goenawan Mangoenkoesoemo, Angka Prodjosoedirdjo, M Soewarno, Muhammad Saleh, Soeradji dan Goembreg.

Meskipun saat itu para pendirinya belum memiliki pengalaman berorganisasi sebelumnya, para pelajar yang duduk di kepengurusan tersebut berusaha mengorganisir Boedi Oetomo sebaik mungkin. Mereka memiliki visi besar agar organisasi ini kelak tumbuh menjadi perhimpunan yang lebih universal.

ADVERTISEMENT

Cita-cita utama dari para pemuda ini adalah menciptakan persaudaraan nasional yang melampaui sekat-sekat perbedaan. Mereka mendambakan sebuah persatuan yang tidak memandang suku, kelamin, maupun kepercayaan demi kemajuan bersama.

Seiring perjalanannya, Soetomo dan kawan-kawannya terus memperluas tujuan organisasi. Sebagaimana disebutkan oleh Soewarno dalam surat kabar De Locomotief terbitan 24 Juli 1908, misi Boedi Oetomo adalah meringankan beban perjuangan hidup bangsa Jawa melalui pengembangan yang harmonis dan kerohanian.

Titik tolak utama perjuangan mereka difokuskan pada bidang pendidikan. Secara khusus, organisasi ini memberikan perhatian pada akses pendidikan untuk kaum priyayi rendahan yang saat itu memiliki keterbatasan akses jika dibandingkan dengan kaum bangsawan tinggi.

Tujuan jangka dekat Boedi Oetomo pada waktu itu adalah memberikan perhatian pertama pada unsur pribumi dalam masyarakat Jawa. Fokus ini merupakan langkah awal sebelum organisasi itu bertransformasi menjadi wadah yang lebih luas bagi persatuan nasional.

Fakta Hari Kebangkitan Nasional

Nama Boedi Oetomo dari Celetukan Soetomo

Nama Boedi Oetomo tentu sudah tidak asing lagi dalam catatan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai organisasi yang menjadi tonggak Hari Kebangkitan Nasional, pemilihan namanya ternyata menyimpan makna filosofis yang sangat mendalam.

Nama ini tercetus saat Soetomo berkata kepada Wahidin Soedirohoesodo, "Punika satunggaling padamelan sae sarta nelakaken budi utami".

Frasa 'budi utami' ini menginspirasi Soeradji untuk memberi nama organisasi yang akan mereka dirikan Boedi Oetomo.

Makna Nama Boedi Oetomo

Dikutip dari buku 'Boedi Oetomo: Awal Bangkitnya Kesadaran Bangsa', kata 'Budi' berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu bodhi atau buddhi.

Kata ini memiliki arti yang luas, mulai dari keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, hingga pengadilan. Selain itu, kata tersebut juga mengandung makna daya untuk membentuk dan menjunjung konsepsi serta ide-ide umum.

Sementara itu, kata 'Oetomo' juga berakar dari bahasa Sansekerta, yaitu 'uttama' yang berarti tingkat pertama atau sangat baik. Dalam bahasa Jawa, kata utomo juga dimaknai sebagai kebajikan dan kesempurnaan dalam arti yang lebih umum.

Perpaduan kedua kata tersebut menghasilkan pemaknaan yang sangat positif bagi pergerakan nasional. Makna Boedi Oetomo kerap diartikan sebagai usaha murni (pure endeavor) atau usaha tinggi (high endeavor).

Boedi Oetomo Bukan Organisasi Pertama di Hindia Belanda

Berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 memang sempat mengejutkan banyak orang. Meski sering disebut sebagai organisasi modern pertama di Indonesia karena memakai sistem Barat, sebenarnya Boedi Oetomo bukanlah organisasi pertama yang berdiri di Hindia Belanda.

Sebelum Boedi Oetomo lahir, sudah ada organisasi pribumi bernama Mardiwara yang artinya "Berupaya". Majalah Retnodoemilah pada 4 Januari 1901 pernah menuliskan artikel soal berdirinya perkumpulan tersebut. Mardiwara didirikan oleh kaum terpelajar Jawa karena mereka merasa prihatin melihat kondisi ekonomi bangsa yang tertinggal jauh.

Saat itu, kondisi ekonomi bangsa Jawa dianggap kalah saing dengan para pendatang seperti orang-orang Cina, Arab, dan Jepang. Hal inilah yang memicu munculnya Mardiwara sebagai bentuk kepedulian kaum terpelajar, sebelum akhirnya Boedi Oetomo muncul dan dikenal sebagai pelopor kebangkitan nasional.

Sosok Guru di Balik Lahirnya Boedi Oetomo

Wahidin Soedirohoesodo merupakan figur penting yang menjadi inspirasi bagi Soetomo dan para mahasiswa STOVIA dalam mendirikan Boedi Oetomo. Tokoh yang dikenal cerdas ini lahir pada 7 Januari 1852 di Desa Mlati, Yogyakarta.

Meskipun berasal dari golongan priyayi desa, perjalanan pendidikan Wahidin ternyata tidak berjalan mulus. Setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Angka Dua (Sekolah Ongko Loro), ia sempat hampir tidak bisa melanjutkan sekolahnya lagi ke jenjang yang lebih tinggi.

Beruntung, Wahidin bertemu dengan Frits Kohle, seorang pemimpin pabrik gula Wonolopo di Sragen. Kohle melihat potensi besar dalam diri Wahidin dan memberikan bantuan agar ia bisa terus bersekolah. Berkat dukungan tersebut, Wahidin akhirnya berhasil masuk ke Europeesche Lagere School (ELS) di Yogyakarta.

Pendidikan yang ia tempuh inilah yang kemudian membentuk pemikiran besarnya. Wahidin tumbuh menjadi sosok yang peduli pada martabat rakyat dan menjadi sosok guru bagi para pemuda pergerakan dalam memperjuangkan kesadaran nasional bangsa Indonesia.




(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads