Lumba-lumba Pakai Suara Ini untuk Saling Menyapa, Mirip Nama Panggilan pada Manusia

ADVERTISEMENT

Lumba-lumba Pakai Suara Ini untuk Saling Menyapa, Mirip Nama Panggilan pada Manusia

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 08 Mei 2026 09:30 WIB
The Soviet Union previously used dolphins in the military Β© Vyacheslav Oseledko / AFP/File
Foto: Vyacheslav Oseledko/AFP/File/Ilustrasi lumba-lumba.
Jakarta -

Jika manusia memiliki nama panggilan untuk disapa, maka lumba-lumba punya cara tersendiri. Sejumlah penelitian menemukan, lumba-lumba menggunakan suara khas mereka untuk saling menyapa. Seperti apa suaranya?

Sejak tahun 1960-an, sejumlah ilmuwan telah mempelajari bahasa serta cara komunikasi lumba-lumba. Hasilnya, mereka menemukan lumba-lumba mengeluarkan suara yang disebut oleh peneliti sebagai "siulan khas".

Penemuan ini menjadi titik awal para ilmuwan untuk melakukan penelitian panjang tentang komunikasi pada mamalia laut di Teluk Sarasota, Florida. Penelitian kolaboratif tersebut dipimpin oleh Randall Wells dari Program Penelitian Lumba-lumba Sarasota di Kebun Binatang Brookfield Chicago.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suara Khas Lumba-lumba sebagai 'Sapaan'

Para peneliti dalam proyek tersebut mengetahui secara detail tentang usia, jenis kelamin, serta hubungan kekerabatan ibu dari hampir 170 lumba-lumba liar di Sarasota. Lumba-lumba yang terlibat dalam proyek ini juga harus mengikuti pemeriksaan secara berkala.

Metode tangkap dan lepas dipilih untuk memeriksa kesehatan dan memasangkan hidrofon hisap di dahi mereka. Perekam suara dalam air itu memberi informasi kapan suara dihasilkan dan apa yang sedang terjadi saat itu.

ADVERTISEMENT

Cara ini dipilih untuk memastikan kenyamanan lumba-lumba, meski dalam posisi terisolasi sementara untuk menangkap siulan khas yang berbeda-beda. Peneliti sepakat bahwa siulan itu merupakan cara alami mereka berkomunikasi.

Sarasota Dolphin Whistle Database berhasil mengumpulkan sekitar seribu sesi rekaman dari 324 ekor lumba-lumba, dan lebih dari separuhnya direkam lebih dari satu kali. Analisis pola suara melalui spektogram menunjukkan sekitar 85% siulan khas lumba-lumba, seperti "nama panggilan", demikian dikutip dari Phys.org. Sapaan ini dinilai mirip dengan cara manusia memiliki identitas nama dan saling menyapa dengan panggilan.

Anak Lumba-lumba Meniru Bahasa Induknya

Studi tersebut juga menemukan bahwa anak lumba-lumba meniru bahasa yang digunakan ibunya. Setelah beranjak dewasa, siulan khas mereka mulai stabil dan bertahan sepanjang hidup mereka.

Kondisi tersebut lebih menonjol pada betina, sementara jantan memiliki kebiasaan berkumpul dengan jantan lain dan memiliki siulan yang seragam.

Saat induk lumba-lumba berkomunikasi dengan anaknya, mereka akan menggunakan nada dan intonasi lebih tinggi dari biasanya. Layaknya manusia yang berbicara dengan anak kecil, fenomena itu disebut dengan bahasa ibu (motherese).

Para peneliti menduga siulan khas mereka digunakan untuk memanggil satu sama lain. Sikap tersebut adalah meniru siulan satu sama lainβ€”yang disebut juga dengan salinan siulan khas. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait perilaku meniru siulan dari mamalia cerdas ini.

Siulan Non-Khas Lumba-lumba: Bukan Suara Acak

Berbeda dengan siulan khas, peneliti juga menemukan "siulan non-khas" yang digunakan secara berkelompok. Awalnya, para peneliti mengira siulan tersebut hanyalah suara acak, tapi setelah dikaji lebih lanjut, ternyata siulan itu memiliki pola dan fungsi yang berbeda-beda.

Sejauh ini, telah ditemukan setidaknya terdapat 20 jenis siulan non-khas lumba-lumba yang terkumpul dalam katalog. Namun, sampai saat ini masih dilakukan eksperimen pemutaran suara dan perekaman respons lumba-lumba menggunakan drone.

Beberapa temuan awal mengartikan bahwa ada salah satu siulan sebagai alarm tanda bahaya. Ini tampak setelah lumba-lumba mengeluarkan suara tertentu, mereka menjauh dari drone.

Selanjutnya, siulan kejutan diartikan sebagai reaksi kaget. Siulan ini muncul ketika mereka mendengar rangsangan yang tidak terduga.

Meski para peneliti berhasil menganalisis beberapa suara khas lumba-lumba, mereka masih ingin mengambil sampel yang lebih banyak. Terutama lumba-lumba dengan berbagai konteks, seperti usia, jenis kelamin, komposisi kelompok, dan aktivitas yang berbeda.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(sls/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads