Kenapa Kita Bermimpi? Studi Baru Ungkap Cara Otak Susun Cerita Saat Tidur

ADVERTISEMENT

Kenapa Kita Bermimpi? Studi Baru Ungkap Cara Otak Susun Cerita Saat Tidur

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 05 Mei 2026 19:30 WIB
Ilustrasi Susah Tidur
Ilustrasi. Foto: Getty Images/iStockphoto/amenic181
Jakarta -

Detikers pernah bermimpi berada di sekolah lama, lalu tiba-tiba berubah menjadi rumah sakit atau tempat asing yang terasa nyata? Penelitian terbaru menunjukkan mimpi bukan sekadar bunga tidur yang muncul tanpa arah. Saat tidur, otak justru aktif mengolah pengalaman hidup, emosi, dan kepribadian menjadi cerita baru yang kadang terasa aneh tetapi bermakna.

Dilansir dari Science Daily, temuan ini dipublikasikan peneliti dari IMT School for Advanced Studies Lucca dalam jurnal Communications Psychology pada April 2026. Studi tersebut menganalisis lebih dari 3.700 laporan mimpi dan pengalaman sehari-hari dari 287 peserta berusia 18 hingga 70 tahun.

Penelitian ini menemukan bahwa saat tidur, otak tidak hanya memutar ulang kejadian sehari-hari. Sebaliknya, otak menyusun kembali potongan memori, emosi, dan bayangan masa depan menjadi cerita baru yang sering terasa aneh, dramatis, atau sangat nyata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya, mimpi bisa menjadi gambaran proses mental yang sedang berlangsung. Dari mimpi yang terputus-putus hingga mimpi yang kaya detail, semuanya dapat mencerminkan bagaimana otak bekerja ketika tubuh sedang beristirahat.

ADVERTISEMENT

Mimpi Bukan Ulangan Kehidupan Sehari-hari

Peneliti menemukan otak tidak sekadar memutar ulang kejadian yang dialami saat terjaga. Sebaliknya, otak menyusun ulang pengalaman tersebut menjadi adegan baru yang lebih imajinatif.

Tempat yang familiar seperti kantor, sekolah, atau rumah sakit sering muncul dalam mimpi, tetapi tidak dalam bentuk aslinya. Semua elemen itu bisa bercampur, berubah sudut pandang, atau hadir dalam alur yang tidak terduga.

Ketua penulis studi, Valentina Elce, menjelaskan mimpi merupakan proses mental yang aktif, bukan pantulan pasif dari ingatan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa mimpi bukan sekadar cerminan pengalaman masa lalu, melainkan proses dinamis yang dibentuk oleh siapa diri kita dan apa yang kita jalani," ujarnya.

Kepribadian Ternyata Mempengaruhi Isi Mimpi

Tidak semua orang bermimpi dengan cara yang sama. Orang yang pikirannya sering mengembara atau mudah melamun cenderung memiliki mimpi yang terputus-putus dan cepat berubah.

Sebaliknya, orang yang menganggap mimpi penting dan memiliki makna cenderung mengalami mimpi yang lebih kaya, mendalam, dan terasa nyata.

Penelitian ini juga menilai faktor lain seperti kualitas tidur, kebiasaan harian, kemampuan kognitif, serta profil psikologis. Hasilnya, seluruh unsur tersebut ikut memengaruhi bagaimana mimpi terbentuk.

Pandemi COVID-19 Ikut Mengubah Mimpi

Peneliti juga melihat bahwa peristiwa besar dalam kehidupan nyata dapat masuk ke dunia mimpi. Saat masa lockdown COVID-19, mimpi banyak orang menjadi lebih emosional dan dipenuhi tema keterbatasan, terjebak, atau sulit bergerak.

Namun seiring waktu, isi mimpi ikut berubah ketika orang mulai beradaptasi dengan situasi tersebut. Ini menunjukkan mimpi bergerak mengikuti kondisi psikologis seseorang.

Sebagai catatan, studi ini memakai teknologi kecerdasan buatan dan natural language processing (NLP) untuk membaca pola dalam laporan mimpi. Menariknya, sistem AI mampu menilai struktur dan makna mimpi dengan akurasi yang mendekati penilai manusia.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads