Ternyata Laba-laba Fondasi Kesehatan Planet, Ahli: Mendesak untuk Dilindungi

ADVERTISEMENT

Ternyata Laba-laba Fondasi Kesehatan Planet, Ahli: Mendesak untuk Dilindungi

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 17 Mar 2026 07:30 WIB
Ilustrasi laba-laba
Ilustrasi laba-laba. Foto: Getty Images/iStockphoto/CBCK-Christine
Jakarta -

Tidak jarang orang merasa jijik atau takut dengan serangga seperti laba-laba. Meski tampilan hewan ini membuat sebagian orang merasa tidak nyaman, laba-laba memainkan peran penting dalam menjaga ekosistem yang sehat.

Dua ahli ekologi di Universitas Massachusetts Amherst menemukan adanya kebutuhan mendesak untuk mempelajari, melindungi, dan menghargai serangga dan jenis arachnida (seperti laba-laba, kalajengking) dengan lebih baik. Pasalnya serangga-serangga ini merupakan fondasi penting bagi kesehatan planet.

"Serangga dan arachnida sangat mendasar bagi masyarakat manusia," kata asisten profesor konservasi lingkungan di UMass Amherst dan penulis senior studi tersebut, Laura Figueroa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka membantu penyerbukan dan pengendalian hama secara biologis; mereka dapat berfungsi sebagai pemantau kualitas udara dan air, dan mereka telah meresap ke dalam banyak budaya di seluruh dunia," jelasnya, dikutip dari Science Daily pada Minggu (15/3/2026).

ADVERTISEMENT

Hampir 90% Spesies Tidak Memiliki Status Konservasi

Untuk memahami kondisi makhluk-makhluk yang sering diabaikan ini, Figueroa dan mahasiswa pascasarjananya, Wes Walsh, penulis utama makalah tersebut, mengumpulkan penilaian konservasi untuk 99.312 spesies serangga dan laba-laba yang diketahui hidup di Amerika Utara di utara Meksiko. Hasil risetnya mengejutkan.

"Hampir 90%, tepatnya 88,5% spesies serangga dan laba-laba tidak memiliki status konservasi," ujar Figueroa.

"Kita sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan mereka. Hampir tidak ada yang diketahui tentang kebutuhan konservasi sebagian besar serangga dan laba-laba di Amerika Utara," lanjutnya.

Informasi terbatas yang ada pun tidak merata. Sebagian besar penelitian yang tersedia berfokus pada serangga air yang membantu para ilmuwan memantau kualitas air (lalat capung, lalat batu, dan lalat air). Sementara itu, kelompok serangga yang lebih menarik secara visual seperti kupu-kupu dan capung menerima bagian perlindungan konservasi yang tidak proporsional.

"Arachnida, khususnya, benar-benar kurang mendapat perhatian dalam konservasi, sebagian besar negara bagian bahkan tidak melindungi satu spesies pun. Kita membutuhkan lebih banyak data dan perlindungan untuk serangga, tetapi juga arachnida," kata Walsh.

Belajar dari Konservasi Burung

Para peneliti juga menemukan pola di mana negara bagian lebih cenderung melindungi spesies-spesies ini. Negara bagian yang sangat bergantung pada industri ekstraktif seperti pertambangan, penggalian, dan ekstraksi minyak dan gas cenderung menawarkan lebih sedikit perlindungan untuk serangga dan arachnida. Sebaliknya, negara bagian di mana sikap publik lebih berfokus pada lingkungan lebih cenderung melindungi lebih banyak spesies.

Figueroa menunjuk konservasi burung sebagai contoh bagaimana upaya terkoordinasi dapat membuat suatu perbedaan. Program yang berfokus pada burung telah mencapai keberhasilan yang jauh lebih besar dalam melindungi dan memulihkan spesies.

"Penelitian menunjukkan upaya konservasi terbaik diperoleh ketika koalisi yang luas dan beragam bersatu," kata Figueroa.

"Dalam kasus burung, para pemburu, pengamat burung, organisasi nirlaba, dan banyak kelompok lainnya bersatu untuk mencapai tujuan bersama," imbuhnya.

Penelitian mereka diterbitkan dalam jurnal PNAS berjudul "Data eficiency, taxonomic bias, and economic interest curtail insect and arachnid conservation in the United States".




(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads