Istilah kelas menengah-kaya palsu sedang banyak dibahas di media sosial. Fenomena ini menggambarkan orang-orang yang tampak berkecukupan dalam gaya hidup, tetapi memiliki fondasi keuangan yang masih rapuh.
Dosen Fakultas Bisnis UniversitasIPB, Dr TantiNovianti, menjelaskan jika fenomena ini terkait dengan dinamika pertumbuhan kelas menengah di negara berkembang. Tanti melihat pertumbuhan ekonomi telah menyebabkan munculnya kelas menengah yang semakin besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, istilah ini merujuk pada sekelompok orang yang terlihat berkecukupan, memiliki gadget terbaru hingga sering berlibur. Namun, kenyataannya mereka memiliki ketahanan finansial yang rapuh karena minimnya tabungan, investasi, dan perlindungan keuangan.
Mengapa Ada Fenomena Orang Menengah-Kaya Palsu?
Menurut Tanti, fenomena ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan psikologis. Salah satunya adalah pola pertumbuhan ekonomi yang mendorong konsumsi daripada aset.
"Ketika pendapatan meningkat, banyak rumah tangga mengalami inflasi gaya hidup, yaitu peningkatan standar hidup yang mengikuti peningkatan pendapatan. Di sisi lain, akses ke kredit konsumen seperti kartu kredit, cicilan kendaraan, dan layanan bayar-nunda menjadi lebih mudah," jelasnya.
Tekanan sosial juga memainkan peran utama. Dalam masyarakat perkotaan yang kompetitif, konsumsi seringkali menjadi simbol status sosial.
Fenomena orang menengah-kaya palsu semakin diperkuat dengan media sosial. Standar gaya hidup yang ditampilkan melalui liburan, restoran mahal, dan barang bermerek sering digunakan sebagai tolok ukur kesuksesan. Situasi ini memunculkan efek demonstrasi, yaitu kecenderungan individu untuk meniru gaya hidup kelompok lain yang mereka anggap lebih sukses untuk mendapatkan pengakuan sosial.
"Keinginan untuk tampak sukses seringkali membuat orang menampilkan kemakmuran, meskipun kondisi keuangan mereka belum stabil," tambahnya.
Literasi Keuangan Masih Rendah
Tanti menyoroti rendahnya literasi keuangan sebagai faktor yang memperkuat fenomena ini. Banyak orang tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang pentingnya dana darurat, manajemen utang, atau investasi jangka menengah dan panjang. Tanpa tabungan, investasi, atau aset produktif, peningkatan pendapatan tidak selalu menghasilkan kemakmuran yang berkelanjutan.
"Memperkuat kelas menengah membutuhkan fondasi yang lebih kokoh. Kelas menengah yang kuat tidak hanya ditandai dengan kapasitas konsumsi, tetapi juga dengan kemampuan untuk membangun aset, mengelola risiko, dan menjaga stabilitas keuangan jangka panjang," ujarnya.
