Sejumlah merek busana cepat atau fast fashion mulai mengubah kebijakan pengembalian barang demi mengurangi dampak lingkungan. Salah satunya Asos, peritel daring asal Inggris, yang kini menerapkan biaya tambahan bagi pelanggan dengan tingkat retur tinggi. Langkah ini dianggap sebagai pergeseran besar dalam model bisnis fast fashion yang selama ini mengandalkan pengembalian gratis sebagai keunggulan utama.
Dilansir oleh The Conversation, kebijakan baru ini mungkin akan mengurangi volume barang yang dikembalikan, tetapi para ahli menilai dampak lingkungannya belum signifikan. Pasalnya, akar masalah bukan pada retur pelanggan, melainkan pada sistem produksi fast fashion yang memang menciptakan kelebihan pasokan sejak awal.
Biaya Retur: Solusi yang Salah Sasaran
Kebijakan baru Asos memungkinkan pelanggan melihat tingkat retur mereka sebelum dikenai biaya tambahan, dengan tujuan mendorong konsumen mengurangi pengembalian. Dua pola belanja umum di industri fast fashion adalah "bracketing", yaitu membeli satu barang dalam beberapa ukuran untuk dicoba di rumah dan impulse buying atau pembelian impulsif dalam jumlah banyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, penelitian menunjukkan biaya retur tidak otomatis mengurangi konsumsi. Sebuah studi di Amerika Serikat menemukan bahwa 75% konsumen daring memilih menyimpan barang yang tidak diinginkan karena proses retur dianggap rumit atau mahal. Akibatnya, alih-alih dikembalikan untuk dijual ulang, pakaian tersebut menumpuk di rumah atau berakhir di tempat pembuangan sampah lokal.
Hal ini justru memindahkan beban limbah dari rantai pasok industri ke konsumen dan sistem pengelolaan sampah daerah.
Menurut Anastasia Vayona, peneliti dari Bournemouth University, biaya pengembalian tidak serta merta menyelesaikan masalah limbah. Kebijakan ini hanya mengurangi opsi konsumen dan terkadang mendorong mereka ke alternatif yang lebih buruk.
Merek lain seperti H&M, Shein, Zara, dan Primark belum mengumumkan langkah serupa. Namun Asos mengklaim tetap berkomitmen terhadap keberlanjutan.
Dampak Fast Fashion terhadap Lingkungan
Industri tekstil menyumbang 8-10% emisi karbon global, lebih tinggi daripada gabungan industri penerbangan dan pelayaran. Proses retur memperburuk dampak ini karena memerlukan transportasi tambahan, kemasan baru, dan energi tinggi untuk pemeriksaan serta penyortiran barang yang dikembalikan.
Dalam sistem logistik terbalik (reverse logistics), barang dikirim kembali dari pelanggan ke peritel, proses yang jauh lebih tidak efisien dibanding pengiriman awal dari pabrik ke toko. Banyak pakaian retur akhirnya tidak dijual kembali, melainkan dibuang karena tidak layak distribusi.
Akibatnya, sumber daya seperti air, energi, bahan kimia, dan tenaga kerja yang digunakan untuk membuat pakaian menjadi sia-sia.
Retailer kerap menimbun stok besar untuk mencegah kehabisan barang sehingga kelebihan produksi menjadi hal mendasar dalam model bisnis ini. Dengan kata lain, membatasi retur tidak akan menyentuh akar masalah, yaitu budaya produksi dan konsumsi berlebihan.
Jalan Menuju Mode yang Lebih Berkelanjutan
Menurut peneliti, membebankan biaya retur bukan solusi utama bagi keberlanjutan industri mode. Diperlukan kebijakan sistemik yang mengubah cara pakaian didesain, diproduksi, dan dikelola setelah digunakan. Beberapa langkah yang dinilai lebih efektif antara lain:
- Tanggung jawab produsen diperluas.
- Pajak untuk bahan kimia berbahaya.
- Investasi dalam infrastruktur daur ulang.
- Standar desain dan transparansi data pengembalian.
Vayona menyimpulkan jalan menuju keberlanjutan di industri fashion bukan dengan mengurangi retur, melainkan dengan mengubah cara kita mendesain dan menilai pakaian.
Pertanyaan sebenarnya bukan apakah retur harus dikenai biaya, tetapi mengapa kita terus memproduksi barang yang tidak ingin kita pertahankan.
(nah/nah)











































