El Nino Diperkirakan Kembali Lagi Akhir Tahun Ini, 2026 Bakal Lebih Panas?

El Nino Diperkirakan Kembali Lagi Akhir Tahun Ini, 2026 Bakal Lebih Panas?

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 04 Mar 2026 09:00 WIB
Gegara El Nino, Warga Kolombia Antre Air Bersih
Gegara El Nino, Warga Kolombia Antre Air Bersih. Foto: AP Photo/Fernando Vergara
Jakarta -

Fenomena El NiΓ±o diperkirakan kembali pada akhir 2026 ini, seiring dengan meredanya fenomena La NiΓ±a. Meski musim kemarau belum datang, fenomena cuaca El NiΓ±o yang menyebabkan pemanasan diprediksi bakal terjadi pada akhir tahun ini.

Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) PBB mengatakan La NiΓ±a yang lemah baru-baru ini diperkirakan akan memberi jalan kepada kondisi netral. Kemudian, dapat berubah menjadi El NiΓ±o sebelum akhir 2026.

La NiΓ±a merupakan fenomena iklim alami yang mendinginkan suhu permukaan di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. Dijelaskan dalam phys.org, fenomena ini membawa perubahan pada pola angin, tekanan, dan curah hujan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara El NiΓ±o, seperti dijelaskan dalam laman resmi WMO, mengacu pada pemanasan skala besar periodik suhu permukaan laut di Samudra Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur. El NiΓ±o disertai dengan perubahan sirkulasi atmosfer tropis, termasuk perubahan pola angin, tekanan, dan curah hujan.

Biasanya El NiΓ±o memiliki efek yang berlawanan dengan La NiΓ±a dalam hal pola cuaca dan curah hujan.

ADVERTISEMENT

Prakiraan Fenomena Cuaca Maret sampai Juli

Pusat Produksi Global WMO memperkirakan 60 persen peluang kondisi netral ENSO (El NiΓ±o-Southern Oscillation), tidak ada El NiΓ±o atau La NiΓ±a selama Maret-Mei 2026, tetapi kemudian meningkat menjadi 70 persen peluang selama April-Juni.

Selama Mei-Juli, peluang kondisi netral adalah 60 persen. Kemudian, peluang El NiΓ±o meningkat secara bertahap hingga sekitar 40 persen.

Namun, ketidakpastian prakiraan meningkat pada jangka waktu yang lebih panjang. Prediksi yang dikeluarkan pada sekitaran waktu ini biasanya kurang dapat diandalkan karena adanya hambatan prediktabilitas musim semi boreal, yaitu keterbatasan yang memengaruhi kemampuan prakiraan ENSO.

"Komunitas WMO akan memantau kondisi dengan cermat dalam beberapa bulan mendatang untuk memberikan informasi bagi pengambilan keputusan. El NiΓ±o terbaru, pada 2023-2024, adalah salah satu dari lima El NiΓ±o terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global yang kita lihat pada tahun 2024," kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo, dikutip dari keterangan resmi pada Selasa (3/3/2026).

Fenomena Cuaca yang Memicu Suhu Global Lebih Panas

Kombinasi fenomena La NiΓ±a dan El NiΓ±o dan perubahan iklim akibat ulah manusia, terus memicu peningkatan suhu global dalam jangka panjang. Kondisi ini dapat memperburuk peristiwa cuaca dan iklim ekstrem serta memengaruhi pola hujan dan suhu musiman.

Mengutip IFL Science, El NiΓ±o diprediksi akan mengacak-acak pola cuaca di seluruh dunia sehingga memicu suhu panas pada 2026 dan 2027. Bahkan suhu terpanas pada 2026 bisa jadi akan memecahkan rekor dari tahun sebelumnya.

Menurut badan pemantau cuaca milik pemerintah Amerika Serikat, NOAA, potensi terbentuknya El NiΓ±o di belahan Bumi utara pada musim panas 2026, mencapai 50-60 persen. Pembentukan ini kemungkinan dimulai pada Juni.

Apa Pentingnya Prediksi El NiΓ±o dan La NiΓ±a?

Saulo menyebut prakiraan musiman El NiΓ±o dan La NiΓ±a membantu mencegah kerugian ekonomi jutaan dolar sekaligus merupakan alat perencanaan penting untuk sektor-sektor yang sensitif terhadap iklim seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan air.

"Prakiraan ini juga merupakan bagian penting dari intelijen iklim yang disediakan oleh WMO untuk mendukung operasi kemanusiaan dan manajemen risiko bencana, dan dengan demikian menyelamatkan nyawa," imbuhnya.

Peristiwa iklim skala besar yang terjadi secara alami seperti El NiΓ±o dan La NiΓ±a berlangsung dalam konteks yang lebih luas dari perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.

Untuk memberikan proyeksi iklim yang lebih komprehensif, WMO juga menerbitkan Pembaruan Iklim Musiman Global atau Global Seasonal Climate Updates (GSCU) secara berkala. Pembaruan ini mempertimbangkan pengaruh pola variabilitas iklim utama, seperti Osilasi Atlantik Utara, Mode Annular Selatan, atau Dipol Samudra Hindia.

Pembaruan tersebut juga memantau anomali global dan regional suhu permukaan dan curah hujan serta evolusinya selama musim mendatang. Pembaruan terbaru menyatakan untuk Maret hingga Mei 2026, terdapat sinyal global secara luas terkait suhu permukaan daratan di atas rata-rata.

Prediksi curah hujan di Pasifik khatulistiwa menunjukkan pola seperti La NiΓ±a yang masih bertahan. Namun, di bagian lain dunia, sinyalnya lebih beragam.




(nah/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads