Kenapa Tubuh Lemas Saat Puasa? Ini Penjelasan Dosen UMY

Kenapa Tubuh Lemas Saat Puasa? Ini Penjelasan Dosen UMY

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Selasa, 03 Mar 2026 04:00 WIB
Kenapa Tubuh Lemas Saat Puasa? Ini Penjelasan Dosen UMY
Ilustrasi berdoa setelah sahur. Foto: Getty Images/iStockphoto/ferlistockphoto
Jakarta -

Hampir semua orang beranggapan lemas saat berpuasa disebabkan karena tubuh tidak mendapat asupan makan dan minum. Namun, tubuh kita lebih cerdas dari itu lho, detikers.

Rupanya, rasa lapar dan haus yang timbul saat berpuasa adalah bentuk adaptasi metabolik yang kompleks. Dikatakan Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr dr Akhmad Edy Purwoko, MKes, orang yang berpuasa mengalami masa transisi metabolik.

Lantas, ada proses apa saja yang terjadi selama fase ini berlangsung?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

4-6 Jam: Peralihan Insulin sebagai Sumber Energi

Saat kita berhenti makan pada empat sampai enam jam pertama, tubuh akan mengalami perubahan kadar hormon. Hal ini memaksa tubuh untuk menggunakan kadar insulin yang tersimpan sebagai sumber energi untuk melakukan metabolisme.

ADVERTISEMENT

"Penurunan insulin ini menjadi kunci karena insulin adalah hormon penyimpanan energi. Saat insulin turun, tubuh berhenti menyimpan energi dan mulai menggunakan cadangan yang sudah ada," jelas dr Akhmad, dikutip dari laman resmi UMY pada (2/3/2026).

8-12 Jam: Pembakaran Lemak/Metabolic Switching

Setelah makan, insulin akan bantu penyimpanan cadangan glukosa. Namun, saat berpuasa, tubuh mengaktifkan hormon glukagon untuk melepas cadangan gula dan mengendalikan kadar gula darah.

Setelah kadar glukosa tubuh menurun, tubuh akan terus mencari sumber energi dalam 8 sampai 12 jam berikutnya. Inilah waktunya sistem beralih dari penggunaan cadangan insulin menjadi pembakaran cadangan lemak.

"Ketika gula darah menurun, glukagon meningkat dan hati mulai memecah glikogen, yaitu simpanan gula. Setelah sekitar 8 sampai 12 jam, tubuh mulai beralih dari pembakaran glukosa ke pembakaran lemak. Proses ini disebut metabolic switching, yaitu peralihan sumber energi dari gula ke lemak," papar dosen FKIK-UMY tersebut.

Secara keseluruhan, sel tubuh akan beradaptasi selama berpuasa dengan caranya masing-masing. Seperti sel otak, yang biasanya mengandalkan glukosa untuk bekerja, beralih ke badan keton yang jauh lebih efisien bagi kinerja mitokondria.

Sel-sel otot juga mengganti sumber glikogennya ke pembakaran lemak. Bahkan, dengan durasi puasa di atas 12 jam sekalipun, tubuh masih memperoleh asupan energi dari pemecahan protein sebagai sumber terakhir.

Sahur-Berbuka Sehat, Kunci Puasa Berkualitas

Selain cara kerja cerdas sel tubuh saat berpuasa, asupan makanan menjadi faktor penting untuk memperoleh manfaat lebih. Maka, menu sahur dan berbuka sebaiknya terdiri dari makanan sehat, bergizi dan tinggi serat untuk mendukung ketahanan sel.

Pola makan sehat selama berpuasa akan membuat sensitivitas insulin dalam tubuh semakin baik. Sebaliknya, jika konsumsi dan jenis makanan tidak terkontrol justru akan menaikkan kadar gula darah dan lemak yang menimbulkan stres metabolik.

Menurut dr Edy, puasa adalah proses biologis yang relevan dengan cara kerja tubuh manusia. Oleh sebab itu, berpuasa bukan hanya menjalankan ibadah spiritual jika dibarengi dengan pola makan seimbang.

"Puasa yang benar dapat membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mendukung mekanisme perbaikan sel. Namun, jika tidak terkontrol, bisa terjadi hipoglikemia, dehidrasi, atau ketidakseimbangan elektrolit. Karena itu, penting dilakukan dengan cara yang tepat," tegasnya.

6 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Saat Sahur dan Berbuka

Berikut jenis-jenis makanan yang perlu dihindari saat sahur maupun berbuka, dikutip dari detikBali:

  1. Makanan tinggi gula, seperti kue manis, teh dengan gula berlebih, sirup kemasan, dan sereal manis. Mengkonsumsi makanan tersebut dapat membuat tubuh menjadi cepat lemas, lapar dan sulit fokus.
  2. Minuman berkafein dan berkarbonasi, seperti kopi, teh berkafein tinggi, dan minuman bersoda. Efeknya dapat meningkatkan dehidrasi, perut kembung, hingga jantung berdebar dan kesulitan fokus.
  3. Karbohidrat olahan atau sederhana, seperti nasi, roti putih, dan mi instan dalam jumlah berlebih, yang membuat perut jadi cepat lapar.
  4. Makanan tinggi lemak dan gorengan saat sahur dan berbuka akan menimbulkan perut kembung, kenaikan berat badan, dan gangguan lambung lainnya.
  5. Makanan yang sangat asin, makanan tinggi natrium membuat tubuh kehilangan banyak cairan. Sehingga tubuh jadi cepat haus, lemas, pusing dan sulit berkonsentrasi di siang hari.
  6. Makanan terlalu pedas juga dapat memicu naiknya asam lambung, sehingga memicu rasa nyeri di ulu hati, mual, atau diare.

Jadi, apakah detikers juga merasa lemas saat berpuasa?




(sls/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads