Apakah kamu siswa Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw, atau Hufflepuff? Ternyata, tak sedikit anak maupun orang dewasa yang penasaran dengan jawabannya dan pernah mencoba kuis asrama Hogwarts.
Studi mengungkap, kuis ini rupanya tidak sekadar seru-seruan. Hasilnya bisa mencerminkan jiwa bisnis seseorang di dunia nyata.
Dilansir oleh laman resmi University of Amsterdam (UvA), penelitian yang dipimpin oleh Prof Martin Obschonka menganalisis hampir 800.000 hasil kuis kepribadian Harry Potter dari TIME Magazine yang diisi orang AS di berbagai wilayah. Hasilnya, wilayah yang pengisi kuisnya lebih banyak 'masuk' Gryffindor dan Slytherin cenderung memiliki jiwa start-up lebih tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari Dunia Sihir ke Dunia Bisnis
Riset ini mencoba melihat sisi berbeda dari kewirausahaan. Biasanya, studi tentang pengusaha berfokus pada ciri pribadi seperti kreativitas atau keberanian mengambil risiko. Namun, menurut Obschonka, pendekatan itu terlalu sempit.
"Kami belum punya tipologi kepribadian nyata di riset yang bisa mengungkap pola pikir wirausaha, terutama sifat menantang aturan dan norma," jelasnya.
Melalui kuis Harry Potter Personality Quiz, peneliti memetakan karakteristik peserta di seluruh wilayah Amerika Serikat.
Mereka menemukan bahwa Gryffindor dan Slytherin punya kesamaan dalam hal menantang aturan (rule-challenging behavior), meskipun dengan motivasi berbeda. Gryffindor melakukannya karena dorongan moral dan keberanian, sedangkan Slytherin terdorong oleh ambisi dan strategi.
"Menarik melihat bahwa bahkan sistem kepribadian fiksi seperti asrama Hogwarts bisa memberi petunjuk berharga tentang perilaku nyata manusia, termasuk kewirausahaan," kata Obschonka.
Jalur Sukses Gryffindor dan Slytherin
Menurut tim peneliti, kedua rumah tersebut mewakili dua sisi yang sama dari jiwa inovatif. Gryffindor menggambarkan bentuk "pelanggaran aturan" yang berani dan prososial. Mereka berani bertindak demi kebaikan. Slytherin mewakili strategi yang lebih kalkulatif dan berorientasi hasil.
Dalam dunia bisnis, kedua sifat ini sama-sama dibutuhkan. Banyak pengusaha sukses yang tumbuh dari keberanian untuk melanggar kebiasaan lama, berpikir di luar kebiasaan, dan memperkenalkan ide baru.
"Banyak usaha baru muncul karena orang berani menantang kebiasaan yang berlaku, berpikir kreatif, dan mendorong batas yang ada," ujar Obschonka.
Riset ini menunjukkan jiwa wirausaha bisa muncul dari berbagai tipe kepribadian, bahkan bisa terinspirasi dari kisah fiksi. Jadi, kalau kamu selalu merasa cocok di Gryffindor atau Slytherin, bisa jadi kamu punya potensi besar sebagai calon pengusaha masa depan!
Hasil studi dalam tulisan ini telah dipublikasikan di jurnal Small Business Economy dengan judul "Entrepreneurial deviance as bright and dark character virtues: the Harry Potter study", 8 Desember 2025.
(rhr/twu)











































