Studi mengungkap keberadaan dan potensi bakteri aktinomisetes yang hidup di tanah rhizosfer (sekitar akar/rimpang) kunyit (Curcuma longa L). Bakteri ini berpeluang melahirkan senyawa baru yang bersifat antikanker payudara.
Hebatnya, bakteri tersebut memiliki tingkat toksisitas atau penyebaran racun yang sangat rendah terhadap sel normal. Itu artinya, temuan ini dapat menjadi alternatif pengobatan yang relatif aman dibanding pengobatan konvensional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Studi berjudul "Rhizospheric actinomycetes from turmeric (Curcuma longa L.): Isolation, detection of the biosynthetic gene clusters, and anticancer activity against T47D cancer cells" ini adalah riset kolaboratif tim Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Fakultas Biologi UGM. Hasilnya terbit di Journal of Applied Pharmaceutical Science pada 5 Februari 2025.
Untuk menganalisisnya, tim peneliti mengumpulkan sebanyak tujuh bakteri aktinomisetes yang diambil dari tanah perkebunan kunyit di Karanganyar, Jawa Tengah. Kemudian mereka melakukan uji coba laboratorium atas potensi antikanker yang terkandung di dalam tanah terhadap sel kanker payudara T47D.
Hasil uji coba laboratorium menunjukkan salah satu bakteri yang diisolasi (isolat) TC-ARCL7, terpantau aktif menjadi antikanker yang sangat kuat. Isolat tersebut memiliki nilai IC50 sebesar 0,2 Β΅g/ml, jauh lebih rendah dibanding obat kemoterapi doxorubicin, kurkumin murni, dan ekstrak etanol kunyit.
Hasil ini dinilai sangat unik karena isolat yang dihasilkan ternyata menunjukkan toksisitas yang rendah terhadap sel sehat. Itulah mengapa isolat yang dihasilkan dari riset ini memiliki indeks selektivitas yang tinggi.
"Temuan ini menunjukkan bahwa potensi anti-kanker tidak selalu berasal langsung dari tanaman obat, namun mikroba yang hidup di sekitarnya juga berpotensi memiliki aktivitas yang sama dengan inangnya dan berpeluang dikembangkan lebih lanjut," ujar peneliti BRIN Aniska Novita Sari, dikutip dari laman resminya pada (4/2/2026).
"Pendekatan ini dinilai dapat menjadi alternatif dalam pengembangan obat berbasis bahan alam dengan biaya produksi yang lebih efisien dan sumber daya yang berkelanjutan," ucapnya.
Menurut Aniska, molekul yang dihasilkan isolat TC-ARCL7 memiliki klaster gen biosintesis poliketida, PKS1 dan PKS2. Gen ini diduga berperan penting untuk memproduksi metabolit sekunder yang bersifat mencegah kanker.
Selain itu, identifikasi genetik juga memperlihatkan bahwa bakteri ini masih satu famili dengan Kitasatospora misakiensis dan Kitasatospora purpeofusca. Kedua bakteri itu diketahui dapat menciptakan senyawa bioaktif yang digunakan pada bidang farmasi.
Aniska juga menegaskan penelitian ini merupakan awal dan masih membutuhkan studi lanjutan. Maka dari itu, tim peneliti berkomitmen penuh untuk melanjutkan penelitian yang meliputi pemurnian senyawa aktif, optimasi produksi metabolit, dan juga uji praklinik.
Diharapkan, tahap-tahap tersebut memungkinkan bakteri ini dikembangkan menjadi obat antikanker baru yang aman dan efektif bagi yang membutuhkan.
(sls/twu)











































