Musim hujan kembali mengguyur wilayah Indonesia. Namun tak hanya diguyur hujan, wilayah Jakarta juga kembali direndam banjir
Kondisi banjir sendiri bukanlah hal baru di Jakarta. Jika menilik catatan sejarah, bencana banjir sudah merendam Jakarta sejak masa kolonia Belanda.
Meski sudah lebih dari ratusan tahun, banjir masih terus merendam Jakarta. Melihat fenomena ini, Dr Budi Heru Santosa selaku Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN membeberkan tiga alasa mengapa Jakarta sering kebanjiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
3 Alasan Jakarta Sering Kebanjiran
1. Drainase
Drainase berfungsi untuk mengalirkan air menggenang. Apabila sistem drainase terhambat, air dapat terjebak dan meluap ke wilayah lain.
2. Curah Hujan
Curah hujan tinggi turut menyumbang risiko banjir di Jakarta. Budi mencontohkan banjir yang terjadi pada 1 Januari 2020.
Waktu itu, curah hujan di wilayah Halim Jakarta mencapai 377 mm/hari. Menurut laman Pantau Banjir Jakarta, curah hujan tersebut merupakan yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
"Kalau kita bayangkan, 377 itu kan hampir 40 cm ya. Itu dijatuhkan pada wilayah luas, ya otomatis dia akan lari ke tempat yang lebih rendah dan menggenanginya. Di sini mungkin dia tidak banjir, tapi di situ bisa 3 meter," jelas Budi dalam Media Lounge Discussion: Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset di Gedung BJ Habibie, BRIN, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).
3. Penurunan Muka Tanah
Tanah di Jakarta terus menurun setiap tahunnya. Fenomena ini juga disebut dengan land subsidence. Penurunan ini bisa mencapai belasan cm per tahun.
"Jadi kalau Bapak Ibu punya lahan, tanahnya turun 15 cm per tahun. Dalam 10 tahun kan posisi Bapak-Ibu 100,5 meter di bawah yang sebelumnya," ujar Budi.
Budi mencontohkan bangunan di jalur Pantura yang kini hanya terlihat atapnya saja.
"Jadi yang seperti itu terjadi dan itu bukan mitos, itu adalah sesuatu yang sudah diukur," ujarnya.
(nir/nwk)











































