Zulfa Mustofa ditetapkan sebagai Penjabat (Pj) Ketum PBNU menggantikan Gus Yahya melalui rapat pleno PBNU yang digelar Selasa (9/12/2025). Zulfa akan menjadi Pj Ketum PBNU hingga Muktamar 2026 mendatang.
"Oleh karena itu, beliau akan memimpin PBNU sebagai Penjabat Ketua Umum melaksanakan tugas-tugasnya sampai dengan Muktamar yang Insyaallah akan dilaksanakan di 2026," kata Rais Syuriah PBNU Mohammad Nuh dalam konferensi pers usai rapat pleno PBNU di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025), dikutip detikNews, Rabu (10/12/2025).
Sebelumnya, Zulfa Mustofa menjabat sebagai Wakil Ketua Umum (Waketum) PBNU. Ia merupakan keponakan dari Wakil Presiden ke-13 RI, Ma'ruf Amin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Profil Zulfa Mustofa
Dalam 'Majalah Risalah Edisi 130 Tahun XVI 1443 H Juni 2022', yang dikutip dari PCNU Cilacap, Rabu (10/12/2025), Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977. Ayahnya KH Muqarrabin berasal dari Pekalongan dan ibunya Nyai Hajjah Marhumah Latifah berasal dari Kresek, Banten.
Pendidikan dasar Zulfa dihabiskan di Jakarta dan Pekalongan. Kemudian masa sekolah menengah dihabiskan di Pekalongan, lalu ke Pati sebagai santri.
Usai lulus Madrasah Aliyah pada 1996, ia kembali ke Jakarta. Zulfa mustofa mulai mengajar di majelis-majelis pada usia 19 tahun usai ayahnya wafat.
Selama menjadi pengajar atau ulama, KH Zulfa Mustofa telah mengarang beberapa kitab, di antaranya kitab Tuhfatul Qashi wa Dani, kitab Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi Li al-Mutfaqqih Jahluhu, dan Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al Syafi'i.
Buku atau kitab 'al-Fatwa' karangan Zulfa berisi tentang sumber pengambilan sebuah fatwa, sumber yang disepakati dan tidak disepakati, metodologi fatwa, hingga peran 'aqal dalam ijtihad.
Bergelar Doktor Honoris Causa dari UIN SA Surabaya
Pada September 2024, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya menganugerahkan gelar kehormatan Honoris Causa kepada KH Zulfa Mustofa.
Gelar ini diberikan atas kontribusi besar terhadap pengetahuan khususnya kebahasaaraban. Hal ini juga termasuk kesusastraan Arab.
UINSA Surabaya melihat kontribusi keahlian KH Zulfa Mustofa, termasuk syair dalam memahami nahwu dan shorof serta membahas sejarah tokoh-tokoh islam di Nusantara.
Syair-syairnya dikenal bisa menjadi perantara untuk menanamkan pendidikan karakter, yang berhubungan dengan rasa atau bersifat afektif dan seni.
"Mungkin dengan penganugerahan gelar kehormatan ini, UINSA berencana mendirikan program doktoral untuk Pendidikan Bahasa Arab dan program magister untuk Bahasa dan Sastra Arab," tutur Prof Akhmad Muzakki, Rektor UINSA dalam sambutannya pada penganugerahan Honoris Causa, Kamis (26/9/2024) lalu.
(faz/pal)











































