Mengenal Tari Legong Asal Bali, Begini Sejarah dan Perkembangannya

Kholida Qothrunnada - detikEdu
Senin, 06 Des 2021 15:00 WIB
tari legong
Foto: Mola TV/Tari Legong
Jakarta - Tari sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali, karena hampir di semua rutinitas upacara adat maupun upacara adat di dalamnya mengandung unsur tari. Salah satu tarian asal Bali tersebut adalah tari Legong.

Tari Legong merupakan tarian tradisional Bali yang dibawakan oleh dua atau tiga penari wanita, dengan ciri pokok gerakan yang luwes pada kaki yang diiringi permainan musik.

Kata legong sendiri berasal dari kata "leg" berarti gerak tari yang luwes (lentur), dan "gong" artinya gamelan yang merupakan instrumen pengiringnya.

Sehingga, "Legong" mengandung makna gerak tari yang menekankan pada keluwesan penari dengan diiringi oleh musik gamelan. Gamelan yang dipakai untuk mengiringi tari legong disebut dengan Gamelan Semar Pagulingan.

Sejarah dan Perkembangan Tari Legong Bali

Dikutip dari buku bertajuk 'Tiga Genre Tari Bali' oleh Damardjati Kun Marjanto, S.Sos, dan kawan-kawan, tari Legong berasal dari desa Sukawati, di Puri Paang Sukawati. Lalu, dari desa Sukawati legong berkembang di berbagai pelosok desa yang ada di Bali.

Melansir situs Kementerian dan Kebudayaan (Kemendikbud), tari Legong dipersembahkan sebagai hiburan bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam upacara keagamaan.

Zaman dahulu tari Legong hanya boleh ditarikan oleh para wanita yang menjadi abdi keraton saja. Awalnya, para petugas istana di Bali akan mencari wanita-wanita yang paling cantik dan berbakat, untuk dilatih sebagai penari Legong lalu kemudian dijadikan abdi keraton.

Sejak abad ke-19, para wanita yang dilatih di keraton kemudian mengajarkan dan mengembangkan kembali gerakan tari Legong kepada generasi berikutnya di desa-desa.

Sejak saat itu, tari Legong telah mengalami pergeseran dengan berpindah dari istana ke desa, sehingga menjadi bagian utama setiap upacara odalan di desa-desa.

Murid-murid didatangkan dari seluruh Bali untuk mempelajari tari Legong. Hal tersebut kemudian berhasil membentuk banyak sakeha (kelompok) Legong, khususnya di daerah Gianyar dan Badung.

Guru tari Legong juga banyak bermunculan, khususnya dari desa Bedulu, Saba, Peliatan, Klandis, dan Sukawati.

Dalam perkembangan selanjutnya, tari Legong bukan lagi menjadi kesenian istana saja, melainkan telah menjadi milik masyarakat umum.

Tari legong dikembangkan dari sebuah tari upacara, yakni dari tari Sang Hyang. Saat ini hubungan tari Legong dengan agama Hindu sifatnya sudah beda, karena tari Legong tidak lagi menjadi manifestasi dari leluhur.

Namun, kini tari Legong berhubungan dengan agama Hindu Dharma yang lebih bersifat sekuler yang dijadikan pertunjukkan untuk menghibur para leluhur yang turun dari kahyangan, termasuk para raja yang hadir pada upacara odalan yang datangnya setiap 210 hari.

Memiliki Nilai-Nilai Sakral

Pertunjukan tari Legong masih erat hubungannya dengan sejarah dan agama, sehingga dalam setiap gerak tarinya menyimpan nilai-nilai yang sakral.

Nilai kepercayaan maupun keagamaan dalam tari Legong adalah kebudayaan keraton Hindu-Jawa. Kedua kebudayaan tersebut, memiliki sifat yang berbeda kalau dibandingkan dengan kebudayaan pra-Hindu di Bali yang ekspresinya terungkap dalam tari Sang Hyang.

Awalnya tari Legong difungsikan sebagai suatu tradisi dalam bentuk pameran, yang mencerminkan kekayaan dan kemampuan para raja di Bali pada zaman dahulu.

Sekarang seni tari Legong dipergelarkan untuk kepentingan upacara keagamaan, sedangkan leluhurnya Sang Hyang, dipentaskan dalam hubungan dengan kepercayaan animisme.

Tari Legong kini telah dipercaya menjadi sumber inspirasi munculnya tari-tari kreasi baru di Bali. Legong yang sekarang merupakan percampuran dari jenis elemen-elemen tari yang berbeda, yaitu elemen yang berasal dari kebudayaan Hindu-Jawa dalam bentuk tari klasik yang disebut Gambuh.

Gambuh adalah tipe drama tari yang berasal dari zaman pra-Islam Jawa, yang telah dikenal di Bali sejak awal abad ke-15.

Cerita yang umumnya dipakai sebagai lakon dari tari Legong biasanya bersumber dari cerita Panji dan cerita Malat khususnya kisah Subali Sugwira, Prabu Lasem, Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa), Kuntul (kisah burung), dan lain sebagainya.

Sebelum tarian dimulai, kedua penari Legong akan duduk pada kursi di muka gamelan, sambil berayun ke kiri dan ke kanan, sebagai peniruan tari kerawuhan.

Penari tari Legong ditarikan oleh anak gadis. Kalangan ini sering dibuat di luar halaman tempat persembahyangan dalam kepercayaan orang-orang Bali.

Busana dan Properti Tari Legong Bali

Ciri khas genre Legong terdapat pada hiasan kepala dan busananya. Busana yang dikenakan pada tari Legong sangatlah khas, yakni busana yang berwarna cerah seperti merah, hijau, atau ungu.

Ada pula tambahan hiasan dan lukisan dedaunan dan bunga-bunga emas di kepala, yang akan bergoyang mengikuti setiap gerakan dan getaran bahu penari. Properti yang digunakan pada tari Legong adalah kipas.

Tari Legong sendiri termasuk dalam penetapan tiga genre tari tradisi Bali ke dalam daftar ICH UNESCO, yakni Tari Legong Kraton (Kota Denpasar), Joged Bumbung (Kabupaten Jembrana), dan Tari Barong Ket Kuntisraya (Kabupaten Badung).



Simak Video "Adu Luwes Menari Tradisional, Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia