Mengapa Kota Ende Disebut Kota Pancasila? Ini Sejarahnya

Novia Aisyah - detikEdu
Kamis, 02 Des 2021 20:30 WIB
Menapak tilas sejarah kelahiran Pancasila, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno mengunjungi Situs Rumah Persinggahan Bung Karno.
Foto: Kemenparekraf
Jakarta -

Gagasan terbentuknya Pancasila lekat dengan momen pengasingan Bung Karno di kota Ende, Nusa Tenggara Timur. Jejak sejarah di kota tersebut diungkapkan kembali oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno melalui instagram pribadinya.

"Selama 4 tahun Bung Karno tinggal di Ende, konon katanya di sinilah tempat yang menjadi inspirasi, memberikan ide dan gagasan mengenai kebhinekaan dan kebangsaan, khususnya dalam merumuskan dasar negara yaitu Pancasila," Tulis Menparekraf dalam akun @sandiuno, Kamis (2/12/2021).

"Selamat pagi dari Ende, Kota Pancasila!" imbuh Sandiaga.

Disebutkan Sandiaga, selain rumah pengasingan Bung Karno selama empat tahun yang terdapat di kota Ende, juga berdiri sebuah pohon sukun yang dijuluki sebagai Pohon Pancasila.

Lantas bagaimana kisah Kota Ende mempunyai julukan Kota Pancasila?

Alasan Kota Ende Disebut Kota Pancasila

Berdasarkan laman Kemdikbud seperti dikutip dari detiknews, Bung Karno diasingkan di Ende, Pulau Flores mulai 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

Disebutkan dalam laman Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya, pengasingan ini bermula dari pertemuan politik di kediaman Muhammad Husni Thamrin pada 1 Agustus 1933 di Jakarta.

Soekarno ditangkap seorang komisaris polisi saat dia keluar dari kediaman Husni Thamrin. Bung Karno pun diasingkan selama delapan bulan tanpa adanya proses pengadilan.

Keputusan pengasingan Bung Karno oleh Gubernur Jenderal Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, De Jonge, akhirnya dikeluarkan pada 28 Desember 1933. Saat itu, Soekarno diputuskan diasingkan ke Ende saat usianya 32 tahun.

Dalam pengasingannya selama empat tahun, Soekarno tinggal bersama istrinya, Inggit Garnasih, mertuanya Ibu Amsi, dan kedua anak angkatnya Ratna Juami serta Kartika. Rumah pengasingan yang ditempati mereka adalah rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru.

Dalam masa pengasingannya ini, Bung Karno memikirkan rumusan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, demikian dikutip dari detiknews. Dia memperoleh gagasan atau inspirasi saat merenung di bawah pohon sukun.

Soekarno rupanya mendapat ide dari lima cabang pohon itu. "Di kota ini kutemukan lima butir mutiara, di bawah pohon sukun ini pula kurenungkan nilai-nilai luhur Pancasila," ujar Bung Karno saat itu. Inilah cerita di balik julukan Kota Ende sebagai Kota Pancasila.

Empat tahun sembilan bulan empat hari setelah Bung Karno diasingkan di Ende, tepatnya 18 Oktober 1938, dia dipindahkan ke Bengkulu.

Kemudian pada tahun 1951 Presiden RI pertama itu kembali mengunjungi Ende. Saat itu dirinya bertemu Haji Abdullah Ambuwaru dan menyampaikan niatnya agar rumah pengasingannya itu dijadikan museum.

Pada kunjungan keduanya tanggal 16 Mei 1954, Bung Karno akhirnya meresmikan rumah tersebut sebagai Rumah Museum.

Kisah Pohon Pancasila

Di bawah pohon sukun di kota pengasingannya, Bung Karno dahulu biasa duduk selama berjam-jam. Buku Kisah Istimewa Bung Karno menyebutkan, beberapa murid Soekarno seperti Djae Bara dan lainnya yang ada di Ende pernah mengatakan, perenungan Presiden pertama RI itu biasanya dilakukan pada Jumat malam.

Pohon sukun tersebut menghadap ke laut Pantai Ende dan jaraknya dari rumah pengasingan hanya 700 meter. Akan tetapi, pohon aslinya sebetulnya sudah tumbang pada tahun 1970-an.

Pohon yang asli pada akhirnya diganti dengan pohon sukun serupa dan dijuluki sebagai Pohon Pancasila sejak 1980-an.



Simak Video "Gempa M 7,4 NTT, Bupati Flores Timur: Tidak Ada Korban Jiwa"
[Gambas:Video 20detik]
(nah/faz)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia