Ternyata Pohon Emas Tumbuh di Indonesia, Apa Saja Jenisnya?

Trisna Wulandari - detikEdu
Rabu, 24 Nov 2021 14:30 WIB
Menurut Prof. Hamim, emas dan logam berharga lain bisa diekstraksi dari pohon emas di Indonesia.
Menurut Prof. Hamim, emas dan logam berharga lain bisa diekstraksi dari pohon emas di Indonesia. Foto: Dok. IPB University
Jakarta - Pohon emas rupanya betul-betul ada di Indonesia. Logam mulia tersebut dapat diekstrak dari tanaman yang menyerap logam berat, termasuk logam mulia.

Keberadaan pohon emas ini disampaikan Prof Dr Ir Hamim M.Si dari Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University dalam paparannya di Orasi Ilmiah Guru Besar Tetap IPB University.

Hamim menuturkan, logam berat, termasuk logam mulia seperti emas, tidak mudah terdegradasi dan bisa berada di tanah sampai ratusan tahun. Sementara itu, tumbuhan memiliki mekanisme fisiologis yang memungkinkannya menyerap logam berat di sekitar tempatnya tumbuh.

Tumbuhan yang menyerap logam berat, menurut Hamim, dapat digunakan sebagai agen pembersih lingkungan. Proses pembersihan komponen berbahaya untuk dikonsumsi dengan tanaman ini disebut juga fitoremediasi.

Hamim menjelaskan, jenis tumbuhan yang dapat menyerap logam berat dalam jumlah besar di dalam jaringannya disebut hiperakumulator. Tidak cuma membersihkan, tumbuhan hiperakumulator juga bisa jadi alat penambangan logam bernilai tinggi atau fitomining.

"Selain bisa dimanfaatkan dalam fitoremediasi, tumbuhan ini juga bisa digunakan untuk menambang logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi seperti nikel, perak, emas, platinum dan talium, atau suatu kegiatan yang dikenal sebagai fitomining," kata Hamim dalam keterangan tertulis, Senin (22/11/2021).

Jenis-Jenis Pohon Emas Indonesia

Himam menuturkan, tumbuhan hiperakumulator biasanya banyak ditemukan di wilayah dengan kandungan logam tinggi. Contohnya di tanah serpentine dan ultramafic yang kaya logam berat seperti nikel, cobalt, dan chromium. Ia mengatakan, Indonesia termasuk negara dengan lahan ultramafic terbesar di dunia yang meliputi wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga ke Papua.

"Namun potensi tumbuhan hiperakumulator di daerah ini belum tergali secara optimal, sehingga perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak sehingga potensinya bisa digali dan dimanfaatkan untuk tujuan fitoremediasi dan fitomining," jelasnya.

Menurut Hamim, di samping tumbuhan hiperakumulator yang hidup di wilayah ultramafic, ada beberapa jenis tumbuhan yang berpotensi jadi agen fitoremediasi dan fitomining. Contohnya yaitu tumbuhan penghasil minyak non-pangan (non-edible oil) seperti jarak pagar (Jatropha curcas), jarak kastor (Ricinus communis), mindi (Melia azedarach) dan kemiri sunan (Reutealis trisperma).

Tanaman aromatik penghasil minyak atsiri seperti Vetiver (Vetiveria zizanioides), lanjut dia, juga berpotensi besar untuk digunakan sebagai pohon emas agen fitoremediasi maupun fitomining.

"Hasil percobaan membuktikan bahwa jenis-jenis tumbuhan tersebut mampu bertahan tumbuh pada media cair mengandung Pb dan Hg serta pada media tailing tambang emas. Di antara keempat spesies penghasil minyak non-pangan yang digunakan, Kemiri sunan (R. trisperma) termasuk yang paling tahan terhadap perlakuan dengan logam berat dan tailing tambang emas," tuturnya.

Hanim menuturkan, beberapa tumbuhan di seputar tambang emas juga bisa menjadi alternatif sumber genetik bagi tumbuhan hiperakumulator logam emas. Dari hasil eksplorasi tumbuhan di seputar tailing dam pertambangan emas PT Antam UBPE Pongkor, jelasnya, diketahui hampir semua jenis tumbuhan yang tumbuh di sana punya kemampuan mengakumulasi emas, meskipun pada kadar yang masih rendah.

"Kelompok bayam-bayaman (Amaranthus) yang tumbuh di seputar tailing, memiliki kemampuan akumulasi emas yang paling tinggi, namun karena biomassanya rendah sehingga potensi fitomining-nya tergolong rendah. Tumbuhan lembang (Typha angustifolia) juga cukup tinggi dalam mengakumulasi logam emas (Au). Typha bisa menghasilkan 5-7 gram emas per hektar. Ini tentunya memerlukan eksplorasi yang lebih jauh," kata Hamim.


Hamim mengingatkan, toksisitas logam berat menyebabkan penghambatan fotosintesis, pertumbuhan akar dan tajuk yang berakibat pada penurunan produksi bahkan kematian tanaman. Di samping itu, logam berat bisa menyebar melalui rantai makanan secara biologis sehingga membahayakan kesehatan manusia.

Mengatasi hal ini, Hamim mendapati pemanfaatan cendawan endofit berseptat gelap (Dark Septate Endophyte) dan cendawan mikoriza dalam percobaannya terbukti dapat membantu tumbuhan-tumbuhan pohon emas beradaptasi pada lingkungan tercemar logam berat. Cendawan ini, kata Hamim, dapat membantu program fitoremediasi.

"Penggunaan senyawa amonium tiosianat (NH4SCN) sebagai ligan pelarut emas juga dapat meningkatkan penyerapan emas oleh tanaman dan meningkatkan biomassa tanaman. Ini potensi yang baik untuk program fitomining pada tailing tambang emas," pungkasnya.

Simak Video "Penampakan Tambang Emas di Niger Runtuh, 18 Pekerja Tewas"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia