Kualitas Udara Jakarta Buruk, WRI Ingatkan Risiko Stunting hingga Depresi

Anatasia Anjani - detikEdu
Rabu, 17 Nov 2021 14:15 WIB
Polusi udara masih jadi salah satu persoalan yang terus diupayakan solusinya di Jakarta. Berikut penampakan Kota Jakarta yang tampak dikepung kabut polusi.
Ilustrasi kualitas buruk udara DKI Jakarta. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - World Resource Institute (WRI) bersama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkolaborasi untuk membangun Low Emission Zone (LEZ) di kawasan Kota Tua.

"Penerapan emission zone untuk mengurangi ketergantungan kendaraan pribadi dan meningkatkan daya tarik kawasan. Pemprov DKI Jakarta melakukan penetapan LEZ Kota Tua awal 2021," ujar peneliti WRI Retno Wihanesta dalam webinar Media Briefing Kebijakan Zona Rendah Emisi di Kota Tua, Rabu (17/11/2021).

Berdasarkan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunjukkan bahwa nilai konsentrasi udara Jakarta tahun 2019 20-70 mkg, sedangkan tahun 2020 25-50 mkg. Berdasarkan standar WHO, kualitas di Jakarta sangat tidak sehat. Sumbernya dari transportasi darat, pembakaran industri, pembakaran kebutuhan listrik, pembakaran domestic

"Pihak yang terkena dampak adalah masyarakat penyakit penyerta, anak-anak, lansia orang yang aktif di luar ruangan. Dampaknya penyakit pernapasan, stunting, jantung, katarak, depresi. Masyarakat akan kehilangan waktu produktif," kata Peneliti WRI Bela Tia.

Bela menjelaskan LEZ memiliki dampak yang bagus jika terus dilanjutkan dan dikembangkan.

"Berkurangnya konsentrasi polutan, menurunkan angka penyakit dan gangguan kesehatan, menurunkan angka kemacetan pada area yang ditargetkan, menerapkan standar baku mutu udara untuk seluruh kendaraan dan kegiatan industri yang beroperasi di LEZ," kata Bela.

Penerapan emisi rendah dilakukan dengan beberapa cara yaitu kondisi kualitas udara secara berkala, data kendaraan yang beroperasi dan tingkat kemacetan, inventarisasi emisi dari sumber polutan secara berkala termasuk emisi kendaraan, data jumlah pengguna transportasi umum menuju kawasan LEZ, dan melakukan pemantauan.

"Kolaborasi dengan Pemprov yaitu LEZ untuk mendukung penerapan zona rendah emisi di Jakarta dan juga Clean air catalyst untuk mempercepat solusi udara bersih," ujar Bela.

Adapun alasan pemilihan Kota Tua sebagai pilot case LEZ dikarenakan kawasan ini merupakan kawasan cagar budaya.

"Kota Tua merupakan kawasan cagar budaya yang perlu dijaga warisannya. Di kawasan Kota Tua menerapkan sistem transportasi menerus yang aman, nyaman, dan efisien. Adanya kewajiban atau upaya untuk arus menerus," ujar Kepala Bidang Lalu Lintas Perhubungan DKI Jakarta Rudy Saptari.

Selain itu tantangan dalam implementasi LEZ di Kota Tua adalah terkait dengan kondisi jalan dan kepadatan pedagang kaki lima.

Simak Video "Tim Advokasi Ajukan Kontra Memori Banding Hak atas Udara Bersih Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia