Dari Mana Asal Bahasa Indonesia? 6 Prasasti Ini Ungkap Sejarahnya

Kristina - detikEdu
Selasa, 09 Nov 2021 09:30 WIB
Mahasiswa Turun Jalan Serukan Kembali Bahasa Indonesia
Foto: Muhammad Aminudin
Jakarta - Bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi yang ditetapkan dalam konstitusi pada tanggal 18 Agustus 1945. Namun, bahasa ini lahir sejak tahun 1928 dan kini telah berusia lebih dari 90 tahun.

Pasal 36 UUD 1945 menyebutkan bahwa bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Bahasa persatuan ini lahir pada tanggal 28 Oktober 1928 yang pada saat itu diikrarkan dalam Sumpah Pemuda. Sumpah setia dari para pemuda di berbagai wilayah Nusantara ini menghasilkan tiga kesepakatan.

Pertama, bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kedua, berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Ketiga menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pada tahun 1928 itulah bahasa Indonesia dikukuhkan sebagai bahasa nasional dalam forum Kongres Pemuda kedua.

Dilansir dari laman Direktorat SMP Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), putusan Kongres Bahasa Indonesia II tahun 1954 menyatakan bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Indonesia lahir dan berkembang dari bahasa Melayu yang digunakan sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca di hampir seluruh wilayah Asia Tenggara sejak zaman dahulu.

Sejarah mencatat bahasa Melayu mulai digunakan di kawasan Asia Tenggara sejak abad-7. Pendapat ini dibuktikan dengan enam prasasti yang ditemukan di wilayah Nusantara. Empat diantaranya ditulis dengan huruf Pranagari berbahasa Melayu Kuno yang ditemukan pada zaman Sriwijaya dan dua diantaranya ditemukan di wilayah Jawa menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Berikut enam prasasti yang mengungkap asal muasal bahasa Indonesia dari bahasa Melayu:

1. Prasasti yang ditemukan di Kedukan Bukit Palembang yang berangka tahun 683 M

2. Prasasti Talang Tuwo di Palembang yang berangka 684 M

3. Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat yang berangka tahun 686 M

4. Prasasti Karang Brahi di wilayah Jambi yang berangka tahun 688 M

5. Prasasti yang ditemukan di Jawa Tengah (Gandasuli) dengan berangka tahun 832 M

6. Prasasti yang ditemukan di Bogor yang berangka tahun 942 M

Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa kebudayaan yakni bahasa suku pelajaran agama Buddha. Selain itu, bahasa Melayu juga dipakai sebagai bahasa perhubungan antar suku dan bahasa perdagangan, termasuk dengan para pendatang dari luar Nusantara.

Perkembangan bahasa Melayu di Nusantara diperkuat dengan informasi dari seorang ahli sejarah China, I-Tsing. Dia menemukan bahwa bahasa Melayu digunakan sebagai bahasa perhubungan di Kepulauan Nusantara. I-Tsing menyebutnya sebagai Koen-luen.

"Di Sriwijaya ada bahasa yang bernama Koen-louen (I-Tsing:63,159), Kou-luen (I-Tsing:183), K'ouen-louen (Ferrand, 1919), Kw'enlun (Alisjahbana, 1971:1089). Kun'lun (Parnikel, 1977:91), K'un-lun (Prentice, 1078:19), yang berdampingan dengan Sanskerta. Yang dimaksud Koen-luen adalah bahasa perhubungan (lingua franca) di Kepulauan Nusantara, yaitu bahasa Melayu," tulis Direktorat SMP seperti dikutip, Senin (8/11/2021).

Selain prasasti dan sumber berita dari China, perkembangan dan pertumbuhan bahasa Melayu diperjelas dengan peninggalan kerajaan Islam. Di antaranya adalah batu nisan di Minye Tujoh, Aceh yang berangka tahun 1380 M dan hasil susastra (abad ke-16 dan ke-17), seperti Syair Hamzah Fansuri, Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Tajussalatin, dan Bustanussalatin.

Diketahui, persebaran bahasa Melayu di berbagai pelosok Nusantara bersamaan dengan penyebaran agama Islam di wilayah ini. Perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh corak budaya daerah.

Bahasa Melayu dinilai mudah diterima oleh masyarakat karena tidak mengenal tingkat tutur. Bahasa ini menyerap kosakata dari bahasa Sanskerta, bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa. Dalam perkembangannya, bahasa Melayu melahirkan ragam dialek.

Itulah sejarah bahasa Melayu sebagai induk dari bahasa Indonesia. Hingga kini, bahasa Indonesia digunakan oleh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan.

Simak Video "Sejarawan Sebut Tak Ada Ikrar Sumpah Pemuda 1928"
[Gambas:Video 20detik]
(kri/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia