Fosil Wanita 70 Abad Ditemukan, Peneliti Ungkap Fakta Terbaru Sejarah Manusia Purba

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 19 Okt 2021 20:30 WIB
Parts of Besses ancient skeleton that was unearthed from Leang Paningge cave are pictured inside a box at the archaeological laboratory of Hasanuddin University in Makassar, South Sulawesi province, Indonesia, September 18, 2021. Picture taken September 18, 2021. REUTERS/Abd. Rahman Muchtar       NO RESALES. NO ARCHIVES.
Foto: REUTERS/STRINGER
Jakarta - Fosil seorang wanita muda yang meninggal 7.000 tahun lalu atau 70 abad lalu ditemukan tahun 2015 di Leang Panninge (Gua Kelelawar) di daerah Mallawa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.


Setelah diteliti oleh arkeolog Indonesia, Jerman, dan Australia, ternyata terdapat DNA yang menunjukkan keterkaitan DNA dengan penduduk asli Papua dan Australia saat ini.


Menurut salah satu Arkeolog, analisis asam deoksiribonukleat (DNA) atau sidik jari genetik dari seorang wanita di pemakaman ritual di gua Indonesia berkontribusi mengubah teori tentang migrasi manusia purba di Asia.


"Ada kemungkinan bahwa wilayah Wallacea bisa menjadi titik pertemuan dua spesies manusia, antara Denisovans dan homo sapiens awal," kata Basran Burhan, seorang arkeolog dari Universitas Griffith Australia, dikutip dari Reuters.


Spesies Denisovans


Denisovans sendiri merupakan sekelompok manusia purba yang dinamai dari sebuah gua di Siberia tempat jenazah mereka pertama kali diidentifikasi pada tahun 2010.


Sementara itu, DNA dari Besse, sebutan para peneliti untuk menamai wanita muda di Indonesia (berasal dari istilah bayi perempuan yang baru lahir dalam bahasa daerah Bugis), adalah salah satu dari sedikit spesimen yang terpelihara dengan baik yang ditemukan di daerah tropis.


Para ilmuwan menyebutkan, ini menunjukkan dia keturunan dari orang-orang Austronesia yang umum di Asia Tenggara dan Oseania, serta sebagian kecil Denisovan.


"Analisis genetik menunjukkan bahwa penjelajah pra-Neolitikum ini mewakili garis keturunan manusia yang berbeda yang sebelumnya tidak diketahui," kata mereka.


Mengubah Sejarah Migrasi Manusia Purba


Dalam catatan sejarah, ilmuwan mengira orang Asia Utara seperti Denisovans baru tiba di Asia Tenggara sekitar 3.500 tahun lalu. Namun dengan ditemukannya DNA Besse di Sulawesi Selatan, bisa mengubah teori tentang pola migrasi manusia purba.


Tak hanya itu, penemuan ini juga sekaligus mengungkap wawasan tentang asal usul orang Papua dan penduduk asli Australia yang memiliki DNA Denisovan.


Iwan Sumantri, dosen Universitas Hasanuddin di Sulawesi Selatan, yang juga terlibat dalam proyek penelitian mengatakan bahwa teori tentang migrasi akan berubah, teori tentang ras juga akan berubah.


Menurutnya, jenazah Besse juga mengungkapkan tanda pertama Denisovans di antara Austronesia, yang merupakan kelompok etnis tertua di Indonesia.


"Sekarang coba bayangkan bagaimana mereka menyebarkan dan mendistribusikan gen mereka untuk mencapai Indonesia," kata Sumantri.


Dari penemuan ini bisa terlihat bahwa pulau-pulau antara Kalimantan dan Papua yang menjadi gerbang ke Benua Australia merupakan hal penting.


Terutama bagi perkembangan migrasi manusia, percampuran dan sejarah perkembangan kebudayaaan Indonesia, regional Asia Tenggara, Asia bahkan dunia.


"Ini menjelaskan bahwa ada aliran DNA dan aliran DNA tersebut memberikan fakta baru tentang sejarah perkembangan manusia Indonesia, manusia Asia Tenggara, manusia Asia dan dunia. Dan itu penting," tuturnya.

Simak Video "Kesiapan Arkeolog China Ungkap Misteri Fosil Dinosaurus di Lufeng"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia