Surat At Taubah Ayat 60 Menjelaskan Tentang Apa Ya?

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Kamis, 14 Okt 2021 14:31 WIB
al Quran on a recal in a mosque
Foto: Getty Images/iStockphoto/Muhammad Fadli/Surat At Taubah Ayat 60 Menjelaskan Tentang Apa Ya?
Jakarta - Surat At Taubah ayat 60 memiliki kandungan yang menjadi pedoman penting bagi umat muslim dalam mengamalkan zakat. Surat At Taubah adalah surat yang ke-9 sebanyak 129 ayat dalam susunan mushaf Al Quran

Sesuai namanya, surat yang termasuk dalam golongan Madaniyyah ini mengandung pengulangan kata taubat dalam berbagai bentuk. Sebab itu, surat ini dinamakan At Taubah sebagai bentuk sifat Allah SWT yang Maha Menerima Taubat.

Selain itu, surat At Taubah juga mengandung pedoman dalam berzakat bagi umat muslim seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Adapun bunyi bacaan salah satu ayat dari surat At Taubah yang berisi tentang pedoman berzakat, tepatnya perihal golongan penerima zakat di antaranya sebagai berikut,

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: "Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."

Berdasarkan tafsir dari Kementerian Agama, surat At Taubah ayat 60 menjelaskan delapan golongan orang yang lebih berhak menerima zakat. Delapan golongan ini ditentukan Allah SWT berdasarkan urgensi kebutuhannya masing-masing. Ada siapa saja?

8 golongan penerima zakat berdasarkan Surat At Taubah Ayat 60

1. Orang fakir, yaitu orang yang mempunyai harta dan mata pencaharian yang tidak mencukupi dan tidak meminta-minta seperti pendapat Imam Syafi'i. Menurut tafsir Ibny Katsitr, golongan ini disebutkan lebih dahulu sebab dianggap lebih memiliki urgensi dibanding golongan lainnya.

"Sesungguhnya kaum fakir miskin disebutkan lebih dahulu dalam ayat ini daripada golongan yang lain, karena mereka lebih memerlukannya ketimbang golongan lain, menurut pendapat yang terkenal, juga mengingat hajat dan keperluan mereka yang sangat mendesak," tulis Ibnu Katsir.

2. Orang miskin, yaitu orang yang mempunyai harta atau mata pencaharian tetapi tidak mencukupi kebutuhan sehingga meminta-minta merendahkan harga diri.

3. Orang-orang yang menjadi amil zakat, yaitu orang-orang yang ditugaskan untuk mengumpulkan, mengurus dan menyimpan harta zakat. Baik mereka yang bertugas mengumpulkan atau menyimpan harta zakat sebagai bendahara, pengatur administrasi pembukuan, penerimaan maupun pembagian (penyaluran).

4. Mualaf, yang dimaksud adalah orang yang perlu dihibur hatinya agar masuk Islam atau orang-orang yang dikhawatirkan memusuhi dan mengganggu kaum Muslimin atau pun orang yang diharapkan memberi bantuan kepada kaum Muslimin.

Menurut tafsir Kemenag, orang-orang yang disebut mualaf pada zaman nabi terbagi menjadi tiga golongan seperti,

  • Golongan orang-orang kafir yang berpengaruh dan diharapkan (masuk Islam) sebagaimana perlakuan Nabi Muhammad terhadap shafwan bin Umayah pada ketika penaklukan kota Mekah.
  • Golongan orang-orang kafir yang miskin kemudian masuk Islam untuk meneguhkan iman mereka.
  • Golongan muslimin yang mendiami daerah perbatasan dengan orang kafir. Mereka ini diberi zakat karena diharapkan kewaspadaan mereka dalam mempertahankan kawasan kaum Muslimin dan memperhatikan gerak-gerik musuh.

5. Golongan orang yang berhak menerima zakat menurut surat At Taubah ayat 60 selanjutnya adalah orang yang berusaha bebas dari perbudakan. Orang-orang ini pula yang kerap disebut dengan hamba sahaya.

6. Orang yang berhutang. Golongan ini pun dibagi lagi menjadi dua kelompok yaitu, orang yang berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada jalan yang bukan maksiat dan juga golongan orang yang berhutang untuk kepentingan umum.

7. Sabilillah, yaitu orang-orang yang secara suka-rela menjadi tentara melakukan jihad, membela agama Allah terhadap orang-orang kafir yang mengganggu keamanan kaum muslimin.

8. Ibnu Sabil adalah orang yang sedang musafir yang memerlukan pertolongan meskipun ia mempunyai kekayaan di negerinya. Musafir yang seperti ini dapat diberikan bantuan dari harta zakat selama ia tidak bertujuan maksiat dari perjalanannya itu.

Dikutip dari tafsir surat At Taubah ayat 60 dari Ibnu Katsir, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai delapan golongan yang berhak menerima zakat ini. Pendapat pertama dari Imam Syafii dan sejumlah ulama menyebutkan bahwa harta zakat harus dibagikan kepada semua delapan golongan tersebut.

Sementara itu, pendapat dari Imam Malik dan sejumlah ulama dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf mengatakan bahwa zakat boleh diberikan kepada salah satu golongan saja. Sehingga tidak diwajibkan untuk memberi zakat kepada seluruh delapan golongan penerima zakat tersebut.

"Pendapat kedua mengatakan bahwa tidak wajib membagikan harta zakat kepada semua golongan yang delapan itu, melainkan boleh diberi­kan kepada satu golongan saja di antara mereka. Semua harta zakat boleh diberikan kepadanya, sekalipun golongan yang lain ada," tulis Ibnu Katsir.

Nah, itulah penjelasan mengenai isi dari surat At Taubah ayat 60. Dengan memahami isi kandungannya, semoga informasi ini dapat dijadikan pedoman bagi kita semua dalam menunaikan zakat fitrah ya, Sahabat Hikmah.

Simak Video "Melihat Madrasah di Afghanistan di Bawah Kepemimpinan Taliban"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/row)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia