Kenapa Gunung Berapi Perlu Dipantau dari Ruang Angkasa? Ini Penyebabnya

Trisna Wulandari - detikEdu
Selasa, 12 Okt 2021 08:40 WIB
Hingga kini Gunung Merapi terus menunjukkan aktivitasnya. Lava pijar terus dimuntahkan oleh salah satu gunung berapi yang paling aktif di Indonesia tersebut.
Gunung Merapi, salah satu gunung berapi di Indonesia. Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta - Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia. Gunung berapi di Indonesia tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Rupanya gunung berapi perlu dipantau dari ruang angkasa, tidak hanya dari permukaan bumi. Kenapa begitu?

Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB Irwan Meilano mengatakan, rupanya, prediksi aktivitas gunung api masih sulit diprediksi bahkan dengan monitoring yang ketat. Prediksi dari ruang angkasa bisa jadi opsi untuk mengatasi risiko yang dapat muncul dari aktivitas gunung berapi.

Sementara itu, Alessandro Novellino dari lembaga riset British Geological Survey (BGS) menuturkan, citra satelit dari ruang angkasa penting untuk memonitor gunung berapi secara instrumental. Ia mencontohkan, pemantauan secara instrumental dapat melihat faktor seperti kegempaan dan emisi gas.

Menurut Remote Sensing Geoscientist di BGS ini, pemantauan gunung berapi di Indonesia kebanyakan belum dilakukan secara instrumental. Ia menambahkan, satelit di ruang angkasa bisa memberi pengamatan yang krusial ketika observasi berbasis darat tidak dapat dilakukan karena terpencilnya lokasi gunung berapi tersebut.

Ia menekankan, pemantauan gunung berapi dari luar angkasa penting karena terkait dengan keselamatan jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di dekat gunung tersebut. Novellino mencontohkan, Kepulauan Krakatau yang terdiri atas beberapa pulau di antaranya Pulau Sertung, Pulau Panjang, Pulau Rakata, dan Pulau Gunung Api Anak Krakatau didiami banyak warga.

"Sekitar 6 juta orang tinggal dalam radius 100 km dari gunung api ini, sehingga monitoring sangat penting," kata Novellino dalam kuliah umum Teknik Geologi, dilansir dari laman ITB, Senin (11/10/2021).

Novellino mengatakan, pemantauan gunung berapi dari ruang angkasa bisa menggunakan alat earth observation atau EO. Ia menjelaskan, EO memanfaatkan remote sensor elektromagnetik tanpa menyentuh objek yang dipantau, yaitu bumi.

Ia menambahkan, metode pemantauan gunung berapi dengan EO dari ruang angkasa menggunakan radiasi matahari yang dipantulkan pada satelit. Pantulan tersebut digunakan untuk melakukan observasi pada bumi, yang disebut sebagai remote sensor pasif.

Peneliti ini menjelaskan, pengamat gunung berapi dari ruang angkasa juga bisa menggunakan metode penangkapan sinyal pantulan yang ditransmisikan oleh satelit sebelumnya. Dengan demikian, menurutnya, EO dapat menjadi alat yang ekonomis dan efisien, bertahan lama, dan non invasif.

Dia melanjutkan, pemantauan juga dapat menggunakan satelit multispektral untuk mengobservasi garis pantai, perubahan vegetasi, tsunami-trim line, dan pemetaan material erupsi. Novellino mengatakan, perubahan garis pantai juga dapat menjadi indikasi, sebab perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh material vulkanik.

Novellino menjelaskan, material vulkanik mengalir ke arah pantai lalu membuat endapan yang akan memengaruhi garis pantai. Satelit di ruang angkasa, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk melihat perubahan bentuk pulau dan mendeteksi material vulkanik.

Di samping itu, tambahnya, perubahan vegetasi pada bibir pantai juga dapat disebabkan oleh tsunami yang muncul akibat gempa vulkanik.

"Radar digunakan untuk mengobservasi collapted area. Menggunakan plumes elevation, bisa diestimasi parameter awan debu vulkanik dan laju erupsi, yang bisa digunakan menetapkan zona bahaya," pungkas Novellino.

Nah, itu dia rupanya kenapa gunung berapi perlu dipantau tidak hanya dari permukaan bumi, tapi juga dari ruang angkasa. Tertarik belajar ilmu bumi, detikers?

Simak Video "Hasil Simulasi Disbudpar Bandung: Museum Geologi Layak Dibuka"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia