Krisis Energi: Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Kristina - detikEdu
Rabu, 06 Okt 2021 21:34 WIB
China tengah hadapi krisis pasokan listrik yang membuat sejumlah provinsi di negara itu alami mati listrik. Salah satu provinsi yang terdampak adalah Liaoning.
Foto: AP Photo/Olivia Zhang
Jakarta -

Dunia tengah dihadapkan dengan ancaman krisis energi. Harga minyak dunia mengalami kenaikan bahkan mencatat rekor tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Sebenarnya, apa penyebab krisis energi?

Krisis energi dapat melanda seluruh belahan dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Tingginya konsumsi energi ditambah dengan sumber daya yang semakin berkurang menyumbang pengaruh besar dalam krisis energi di dunia.

Pengertian Krisis Energi

Krisis energi adalah kekurangan atau gangguan pada penyediaan pasokan energi, menurut Collinsdictionary. Krisis energi juga dapat diartikan sebagai kurangnya persediaan sumber daya energi atau peningkatan terhadap harga sumber daya, seperti minyak bumi.

Menurut Charles E. Garrison dalam penelitiannya yang diterbitkan dalam Springerlink, konsep krisis energi terlihat muncul dari proses sosial dan merupakan metafora yang terkait dengan rangkaian peristiwa. Sifat metafora adalah untuk menekankan aspek-aspek tertentu dan mengaburkan aspek-aspek lain dari rangkaian peristiwa yang dirujuknya.

Jika dibandingkan dengan peristiwa sejarah, metafora ini telah mengaburkan peran pemerintah dan industri minyak dalam pengembangan kebijakan konsumsi minyak yang tinggi dan ketergantungan pada impor, sementara peran konsumen lebih ditekankan dalam hal ini.

Penyebab Krisis Energi

Krisis energi merupakan masalah yang cukup kompleks dan terdiri dari berbagai penyebab. Melansir enovaenergy.com.au, berikut 10 penyebab krisis energi:

1. Konsumsi Berlebihan

Krisis energi adalah akibat dari berbagai tekanan pada berbagai sumber daya alam. Ada tekanan pada bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara karena konsumsi berlebihan, yang kemudian dapat membebani sumber daya air dan oksigen kita dengan menyebabkan polusi.

Model konsumsi saat ini sebagian besar bergantung pada sumber daya yang dapat dikonsumsi dan terbatas seperti batu bara, minyak, dan gas alam, dan ini semakin dekat untuk habis. Menurut proyeksi saat ini, cadangan minyak cukup untuk 40-60 tahun, minyak konvensional sekitar 60 tahun, dan cadangan batu bara sekitar 2 abad.

2. Over Populasi

Penyebab lain dari krisis adalah peningkatan yang stabil dalam populasi dunia dan permintaannya akan energi.

Permintaan energi akan diperkuat oleh ledakan demografis dan ekonomi di daerah-daerah yang sedang berkembang. Diperkirakan bahwa populasi dunia akan mencapai hampir 10 miliar orang pada tahun 2050. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), permintaan energi global dapat meningkat lebih dari 50% pada tahun 2030 tanpa adanya kebijakan publik di bidang ini.

3. Pemborosan Energi

Pentingnya menghemat energi cukup sering diremehkan. Pemborosan energi menggambarkan pemborosan sumber energi, khususnya bahan bakar dan listrik. Akibatnya, pengurangan limbah menjadi sumber penghematan energi yang sangat besar, yang membutuhkan tindakan baik pada tingkat individu maupun kolektif.

4. Pilihan Energi Terbarukan yang Belum Dijelajahi atau Kurang Dimanfaatkan

Energi terbarukan masih tetap tidak digunakan atau kurang dimanfaatkan di sebagian besar negara. Sebagian besar energi berasal dari sumber yang tidak terbarukan seperti batu bara. Ini berarti ada cukup banyak ruang untuk perbaikan di area ini.

Jika kita tidak fokus serius pada energi terbarukan, masalah krisis energi dunia tidak dapat diselesaikan. Sumber energi terbarukan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia