DI Panjaitan: Profil dan Kisah Perjuangan yang Berakhir di Lubang Buaya

Fahri Zulfikar - detikEdu
Jumat, 01 Okt 2021 15:50 WIB
7 Pahlawan Revolusi Korban G30S/PKI, Ini Profil Lengkapnya
Foto: Zaki Alfarabi/detikcom/DI Panjaitan: Profil dan Kisah Perjuangan yang Berakhir di Lubang Buaya
Jakarta - Mayor Jenderal Anumerta Donald Isaac Panjaitan atau DI Panjaitan merupakan salah satu perwira tinggi yang menjadi korban Gerakan 30 September 1965 atau G30S PKI. Tujuh perwira tinggi diculik dan dibunuh PKI pada 1 Oktober 1965 dinihari.

Tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menjadi korban G30 S PKI adalah Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Letnan Satu Corps Zeni Pierre Andreas Tendean.


DI Panjaitan dan keenam perwira tinggi diculik oleh Resimen Tjakrabirawa melalui perintah Komandan Batalyon I Resimen Tjakrabirawa Letkol (Inf) Untung Samsuri.


Biografi Singkat DI Panjaitan


Dikutip dari Ensiklopedia Pahlawan Nasional yang diterbitkan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, DI Panjaitan tertulis lahir Balige, Tapanuli, 9 Juni 1925 dengan nama lengkap Donald Ignatius Panjaitan.

Ia mengikuti pendidikan militer Gyugun di masa pendudukan Jepang, lalu ditempatkan di Pekanbaru, Riau, hingga Indonesia merdeka.

Setelah itu DI Panjaitan memiliki karier militer yang menjanjikan. Di antaranya:

- Pasca kemerdekaan, DI Panjaitan membentuk TKR dan diangkat sebagai Komandan Batalyon.

- Pada 1948 menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi

- Kepala Staf Umum IV Komandan Tentara Sumatera

- Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada Agresi Militer Belanda II tahun 1948

- Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium I Bukit Barisan di Medan, Sumatera Utara

- Kepala Staf Tentara dan Teritorium II Sriwijaya

- Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat

- Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat dan mendapat tugas belajar ke Amerika Serikat

Kisah perjuangan DI Panjaitan yang berakhir di Lubang Buaya

Dalam catatan sejarah,Prajurit Tjakrabirawa menembak secara membabi buta rumah Brigadir Jenderal Donald Ishak (DI) Panjaitan di Jalan Sultan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Jumat dini hari, 1 Oktober 1965.

Prajurit Tjakrabirawa tersebut mengaku telah diutus Soekarno untuk membawa DI Panjaitan karena dituding terlibat dalam penggulingan Soekarno.

Saat hendak dibawa pergi, tepat di halaman rumahnya, sang Jenderal ditembak sebutir peluru di bagian kepalanya. DI Pandjaitan pun gugur di tempat.

Jenazah DI Panjaitan kemudian dibawa Tjakrabirawa ke kawasan Lubang Buaya di Halim, Jakarta Timur. Mereka memasukkan jenazah DI Panjaitan bersama lima jenderal lainnya dan satu perwira TNI AD ke sebuah sumur tua untuk menghilangkan jejak.


Setelah ditemukan, kemudian tepat pada 5 Oktober 1965, jenazah enam jenderal dan satu perwira TNI AD korban G30S/PKI dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Pada tanggal 5 Oktober 1965, DI Panjaitan dicatat sebagai salah satu Pahlawan Revolusi berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI nomor III/Koti/Tahun 1965.

Simak Video "Saksi Mata Pembantaian Korban PKI di Geyer Grobogan"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/pay)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia