Mengapa Dinamakan Burung Pipit dan Bagaimana Perilakunya? Ini Penjelasannya

Tim detikcom - detikEdu
Minggu, 12 Sep 2021 08:00 WIB
Amandava amandava alias Pipit Benggala
Foto: Wikimedia commons Amandava amandava alias Pipit Benggala
Jakarta - Kematian burung-burung di Desa Pering, Kecamatan Blabatuh, Gianyar, Bali menarik perhatian. Pasalnya kematian burung yang disebut berjenis pipit tersebut berlangsung secara massal.

Ahli ekologi burung IPB University Ani Mardiastuti mengatakan fenomena kematian burung secara massal sebenarnya bukan hal yang luar biasa. Ia menuturkan belum genap dua bulan lalu ada laporan dari Sukabumi, Jawa Barat belasan burung yang juga disebut pipit ditemukan tergeletak mati di sekitar permukiman warga.

"Fenomena tiba-tiba banyak burung mati pada saat bersamaan itu sudah sering terjadi baik di Indonesia maupun luar negeri. Mungkin lebih sering di luar negeri,"ujar guru besar bidang Konservasi Satwa Liar IPB, dalam keterangannya, Sabtu (11/9/2021).

Beberapa peristiwa kematian massal burung di luar negeri menurut Ani banyak terjadi karena kelaparan saat fenomena migrasi. Kemudian ketika ada perubahan cuaca ekstrem.

"Pernah juga setelah perayaan malam Tahun Baru, tiba-tiba orang bingung banyak burung yang mati. Akhirnya diketahui penyebabnya karena banyak sekali kembang api. Jadi mungkin komposisi udaranya berubah. Banyak penyebab yang di luar dugaan," kata Ani.

Terkait peristiwa di Bali, pengajar di Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan itu mengatakan perlu diteliti lebih lanjut bisa lewat pemeriksaan bangkai burung di laboratorium.

"Bisa keracunan, penyakit, bisa juga disebabkan kelaparan karena sumber makanan terbatas atau perubahan cuaca karena beberapa hai terakhir di Bali dilaporkan hujan lebat terus menerus. Sangat mungkin juga penyebab terjadi pada saat bersamaan," ujar Ketua Dewan Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia ini.

Terlepas dari kematian massal tersebut, Ani juga menjelaskan soal istilah burung pipit. Masyarakat awam cenderung menyebut semua burung kecil yang berada di sekitar sawah dengan pipit. Padahal menurut Ani selain burung pipit itu sendiri ada yang disebut burung bondol.

Pipit dan bondol ini memang punya perawakan hampir serupa. Namun, pipit yang dikenal para ahli burung punya nama ilmiah Amandava amandava. Burung pipit "asli" ini punya ciri paruh dan tunggirnya berwarna merah.

Sementara burung bondol terdiri dari beragam spesies seperti misalnya bondol Jawa dengan nama ilmiah Lonchura leucogastroides, bondol peking atau Lonchura puctulata, bondol Kalimantan atau Lonchura fuscans, bondol rawa atau Lonchura malacca, bondol haji atau Lonchura maja, bondol taruk atau Lonchur molucca, dan lain-lain.

Menurut Ani yang paling banyak ditemui spesies bondol Jawa dan bondol peking. Bondol peking punya ciri dada dengan motif bersisik dan tunggir berwarna cokelat pucat. Sementara bondol Jawa perutnya berwarna putih bersih dengan tunggir berwarna gelap.

"Pipit dan bondol memang sering disamakan karena mereka ini masih satu famili Estrildidae," ujar doktor bidang Wildlife Biology and Management dari Michigan State University, Amerika Serikat itu.

Pipit Benggala (801), bondol Jawa (810), dan bondol peking (813)Pipit Benggala (801), bondol Jawa (810), dan bondol peking (813) Foto: dok. buku Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan yang disusun John Mackinnon dkk

Burung pipit pun kadang disamakan dengan burung gereja. Padahal menurut Ani selain berbeda spesies bahkan famili, kedua burung ini juga punya perilaku yang berseberangan. Burung gereja dengan mudah bisa ditemukan di kawasan perumahan. Sementara burung pipit lebih banyak di persawahan.

"Di sawah cari burung gereja itu susah. Kalau pipit perilakunya itu tidur bersama di satu pohon besar dan rindang. Tidak jauh dari sawah. Mereka punya sifatnya berkumpul di tempat sepi tidak banyak manusia beraktivitas," katanya.

Selanjutnya penamaan burung pipit >>>



Simak Video "Warga Sebut Burung Pipit di Bali Mati Massal Mirip Tahun 2018"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia