Sertifikat Vaksin Zaman Turki Utsmaniyah, Sekelumit Perjalanan Vaksinasi

Rosmha Widiyani - detikEdu
Sabtu, 11 Sep 2021 18:40 WIB
Sertifikat Vaksinasi Zaman Khalifah Usmaniyah Turki tahun 1908
Foto: (Peramezat/Alsat.mk)/Sertifikat Vaksin Zaman Turki Utsmaniyah, Sekelumit Perjalanan Vaksinasi.
Jakarta - Viral sertifikat vaksin tertua zaman Turki Utsmaniyah memberi pelajaran bagi masyarakat umum. Postingan tersebut benar sertifikat vaksin yang dikeluarkan Kekhalifahan Turki Utsmani, namun belum tentu yang tertua dan tidak terbit pada 1721.

Unggahan yang tidak seluruhnya benar itu membuka sejarah penerapan vaksin di turki pada masa kekhalifahan. Guru besar filologi UIN Jakarta Oman Fathurahman menjelaskan hal ini setelah menghubungi kolega yang paham seputar sejarah Turki.

"Itu emang sertifikat vaksin tapi ini biasa saja. Nggak ngerti kenapa dihubungan dengan masa kejayaan Turki Utsmani," kata Oman dalam live streaming berjudul Ngariksa #53: Ikhtiar Insani Akhiri Pandemi yang membahas kebenaran hasil upload sertifikat vaksin.

Oman menjelaskan, sertifikat vaksin itu dikeluarkan pada tahun 1909 setelah pemberian dosis kedua. Dokter yang menyuntikkan bernama Gabrielle kepada seseorang yang berusia 29 tahun. Oman kemudian menelusuri jejak vaksin di Kekhalifahan Turki Utmani termasuk manuksrip Imam Ar-Razi.

Hasil penelusuran menunjukkan, pengaturan vaksin di Turki pada 1903 sudah mapan dan ditetapkan sebagai kewajiban. Aturan ini berlaku bagi semua orang dan difasilitasi negara. Masyarakat yang sudah vaksin menerima sertifikat, sedangkan bagi yang lalai akan mendapat konsekuensi.

Saat itu masyarakat Turki Utsmani sedang menghadapi wabah cacar dengan korban tidak sedikit. Vaksin menjadi cara warga menghadapi penyakit supaya tidak sampai terinfeksi. Hasilnya jumlah kasus dan angka penularan bisa turun. Mereka yang sakit juga bisa dirawat lebih baik sehingga segera sembuh.

Sertifikat vaksin menjadi bukti yang kemudian diadministrasi pemerintah. Berbagai literatur yang menjelaskan vaksinasi di Eropa dan Turki Utsmani umumnya terkait cacar. Vaksin merupakan perjalanan panjang dari ilmu pengetahuan yang dimulai dengan praktik variolasi atau inokulasi.

Variolasi dilakukan dengan menggores kulit dengan jarum sayat, untuk memasukkan bahan yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Oman menjelaskan, Turki mulai mengenal inokulasi pada tahun 1670. Metode ini kemudian dipraktikkan pada para istri Sultan yang berasal dari wilayah Kaukasus.

Selanjutnya pada 1721, variolasi atau inokulasi dikenalkan seorang istri duta besar Inggris yang telah menetap dua tahun di Turki. Waktu terus bergulir hingga pada 1798 vaksin yang lebih modern ditemukan seorang ilmuwan bernama Edward Jenner. Pada 1800 vaksin mulai dipraktikkan di seluruh Amerika dan Eropa.

"Dengan perjalanan ini, Turki menginspirasi Eropa dengan variolasi atau inokulasi di abad ke-18. Selanjutnya pada abad ke-20 Eropa menginspirasi Turki dengan vaksinasi. Sesungguhnya vaksin adalah proses akumulasi pengetahuan dan peradaban dari tahun-tahun sebelumnya," ujar Oman.

Dalam sejarahnya, vaksin sempat mengalami penolakan dari masyarakat Turki hingga terbit fatwa halal pada 1840. Selanjutnya vaksinasi ditetapkan sebagai suatu kewajiban lengkap dengan sertifikat yang terbit pada 1904.

Perjalanan vaksinasi di Turki yang diketahui sebagian lewat postingan sertifikat vaksin tertua zaman Turki Utsmaniyah bisa menginspirasi masyarakat Indonesia. Oman berharap pelajaran bisa diambil masyarakat, salah satunya terkait vaksin sebagai upaya pencegahan penyakit.

Simak Video "Oposisi Islam di Turki Disemprot Disinfektan-Diusir dari Masjid"
[Gambas:Video 20detik]
(row/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia