Sejarah ISIS, yang Disorot Dalam Bom Bunuh Diri di Bandara Afghanistan

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Jumat, 27 Agu 2021 18:55 WIB
Bom Bunuh Diri terjadi di Bandara Kabul, Ibu Kota Afghanistan. ISIS pun mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang tewaskan puluhan warga Afghanistan itu.
Foto: AP Photo
Jakarta -

ISIS atau Islamic State of Iraq and Syria kembali jadi sorotan dalam kejadian bom bunuh diri di Bandara Kabul, Afghanistan. ISIS adalah induk ISIS-K yang disebut dalang serangan bom tersebut.

Organisasi teroris ISIS Khorasan atau ISIS-K berdiri tak lama setelah ISIS pada 2014. Dunia langsung bereaksi atas peristiwa mengejutkan di negara Asia Selatan tersebut.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memberi perintah pada komandan militer AS agar membuat rencana penyerangan terhadap ISIS-K. Pejabat intelijen AS mengatakan, anggota ISIS-K terdiri dari anggota ISIS veteran asal Suriah dan teroris lainnya.

Dengan kondisi Afghanistan yang belum menentu dan fokus dunia pada ISIS, tak ada salahnya mengetahui sejarah dan perkembangan organisasi teroris ini.

Bagaimana sejarah terbentuknya ISIS?

Dikutip dari publikasi dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang ditulis dr Najih Ibrahim dan Reuters, mulanya ISIS adalah satu-satunya organisasi pewaris resmi Al-Qaeda di Irak yang berdiri pada 2004. Tepatnya setelah invasi AS ke Irak pada era Sadam Hussein.

Kelompok ini didirikan Abu Mush'ab Az Zarqawi asal Yordan yang melarikan diri ke Afghanistan. Zarqawi lari setelah divonis hukuman mati karena terlibat ledakan salah satu hotel di Amman Yordan.

Di Afghanistan, Abu Mush'ab Az Zarqawi bertemu dengan Osama bin Laden dan membaiatnya sebagai pemimpin. Sebelumnya, Abu Mush'ab Az Zarqawi mendirikan organisasi dengan nama At Tauhid wa Al Jihad.

Setelah membaiat Osama bin Laden, organisasinya berganti nama menjadi Qa'idatul Jihad fii Bilad Rafidain. Semua perangkat organisasi termasuk pemikiran dan struktur, telah bergabung dalam Al Qaeda.

Zarqawi pun mendirikan Al-Qaeda in Irak (AQI), cabang Al-Qaeda di Irak. AQI banyak melancarkan serangan teror terhadap komunitas Syiah yang mayoritas di Irak, dengan harapan memicu perang sektarian.

Setahun sebelumnya, Zarqawi pindah ke Irak bersama ribuan militan lainnya untuk melawan tentara AS dan Inggris yang menginvasi negara tersebut. Dia kemudian terbunuh pada serangan udara pesawat tempur Amerika di Irak pada 2006.

Pembunuhan ini disebut sebagai bentuk balasan atas eksekusi para sandera warga Amerika dan menyebar foto-foto pembunuhan di berbagai website. Tindakan inilah yang menunjukkan sikap Zarqawi sebenarnya terhadap rakyat sipil.

Zarqawi dikenal lebih ekstrim dalam mengkafirkan dan membunuh daripada pendiri Al Qaeda. Setelah kematian Zarqawi, dia digantikan Abu Hamzah Al Muhajir dan Abu Umar Al Baghdadi. Mereka pun mengubah nama organisasi menjadi Islamic State of Iraq (ISI).

Pada 19 April 2010, Tentara Amerika dan Tentara Irak membunuh Abu Hamzah Al Muhajir dan Abu Umar Al Baghdadi. Pemimpin ISI kembali digantikan seorang warga Irak yang bernama Abu Bakar Al Baghdadi.

Tahun 2011, Baghdadi mengirimkan pasukkannya ke Suriah yang sedang dilanda konflik pemberontak melawan rezim Presiden Bashar al-Assad. Dua tahun kemudian, Baghdadi mengganti nama kelompoknya menjadi Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL).

Organisasi teroris yang didirikan Baghdadi dikenal juga sebagai Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Perubahan nama diumumkan setelah pecahan Al-Qaeda di Suriah, Jabhat al-Nusra atau Nusra Front, ikut bergabung.

Pada masa kejayaannya, ISIS menguasai wilayah strategis Irak dan Suriah. Lebih dari 40 ribu orang dilaporkan pindah dan tinggal di wilayah-wilayah yang diklaim sebagai kekhalifahan ISIS. Pada saat bersamaan, ISIS melancarkan serangan teroris yang brutal dan mengerikan di berbagai negara.

Berikutnya adalah penyebab ISIS cepat berkembang

Klik halaman selanjutnya

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia