Pakar ITB Sebut Potensi Tsunami Megathrust Selatan Jawa Bisa Menyentuh Istana

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 19 Agu 2021 14:40 WIB
Kabupaten Lumajang masuk 8 kabupaten yang rawan mengalami tsunami Jawa Timur. BPBD Lumajang menyebut ada 9 desa di 5 kecamatan waspadai potensi tsunami ini.
Foto: Nur Hadi Wicaksono
Jakarta - Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) Heri Andreas mewaspadai terkait potensi bencana gempa bumi megathrust selatan Jawa yang bisa terjadi kapan saja.


Menurut Heri, gempa tersebut memiliki kekuatan yang sangat besar dan saat ini tengah berada di ujung siklus perulangan (earthquake cycle).


"Berdasarkan data Global Navigation Satellite System (GNSS) mengkonfirmasi adanya akumulasi energi di bagian megathrust Selat Sunda hingga Pelabuhan Ratu dan selatan Parangtritis hingga selatan Pantai Jawa Timur," terang Heri.


Dari hasil pemodelan, kekuatan gempa yang bisa terjadi mencapai magnitudo (M) 8,7 hingga 9,0 dan bisa diikuti oleh gelombang tsunami hingga 20 meter tingginya.


Gelombang tsunami tersebut bisa sampai di pesisir Jakarta dengan ketinggian 1 meter hingga 1,5 meter. Ketinggian itu, relatif lebih kecil dibandingkan dengan potensi tsunami yang bisa terjadi di bagian selatan.


"Namun demikian fakta saat ini pesisir Jakarta wilayahnya sudah ada di bawah laut hingga minus 1-2 meter, ini artinya potensi tsunami akan lebih besar," ujar Heri dalam keterangan yang diterima detikcom beberapa waktu lalu.


Berdasarkan hasil simulasi model, run-up tsunami dapat mencapai sebagian besar Pluit, Ancol, Gunung Sahari, Kota Tua hingga Gajah Mada.

Dilansir dalam CNN Indonesia pada Senin (16/08), Heri juga mengatakan, "Kalau kita perhatikan modelnya ternyata nyaris menyentuh Istana (Presiden)."


Menurutnya, dari pemodelan tersebut menyiratkan bahwa tanggul pantai atau laut di Jakarta akan berperan sangat penting, tidak hanya mencegah banjir rob, tetapi juta melindungi Jakarta dari tsunami.


"Untuk itu kita harus mendukung pemerintah dalam mempercepat upaya pembangunan tanggul sepanjang pesisir Jakarta. Fakta ini mau tidak mau harus diungkap, meskipun terkesan menakut-nakuti," ujar Ketua Lembaga Riset Kebencanaan IA-ITB tersebut.


Selain itu, Heri juga mengatakan bahwa pemerintah harus mulai lebih rutin menggencarkan edukasi dan simulasi kebencanaan kepada masyarakat. Kemudian menyediakan jalur evakuasi dan shelter untuk tempat berlindung warga.


"Kalau mampu membangun tanggul penahan tsunami seperti di Jepang, ya bisa saja. Tetapi biayanya mahal dan kita belum ke arah sana. Itu kan tanggulnya berlapis. Hal yang terbaik edukasi terhadap masyarakat," paparnya.


Lebih lanjut Heri juga mengajak seluruh masyarakat dan berbagai pihak untuk menyikapi segala kemungkinan dengan bijak dan waspada.


"Gempa bumi dan tsunami merupakan bencana alam yang hampir tidak mungkin kita cegah, kecuali dengan doa. Apa yang bisa kita perbuat adalah bagaimana kita bersiap menghadapinya," pungkasnya.



Simak Video "Gempa Magnitudo 5,8 Guncang Kota Melbourne"
[Gambas:Video 20detik]
(faz/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia