Sejarah Berdirinya BMKG, Sang Andalan untuk Info Gempa dan Lainnya

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Sabtu, 07 Agu 2021 14:30 WIB
Stasiun Klimatologi BMKG Sleman, Rabu (8/7/2020).
Foto: Stasiun Klimatologi BMKG Sleman, Rabu (8/7/2020). (Jauh Hari Wawan S/detikcom)
Jakarta - Badan yang paling dipercaya dalam memberi informasi lengkap mengenai misalnya gempa terkini adalah BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika). Tidak mengherankan, sebab hal itu termasuk dalam salah satu fungsi dari BMKG.

Fungsi yang dimaksud adalah penyampaian informasi dan peringatan dini kepada instansi dan pihak terkait serta masyarakat berkenaan dengan bencana karena faktor meteorologi, klimatologi, dan geofisika. Sebagaimana yang dilansir dari laman resmi BMKG.

Selain menyebarluaskan informasi, badan ini juga bertugas untuk mengamati, mengolah, menganalisa, informasi Meteorologi (cuaca), Klimatologi (iklim), dan Geofisika (Gempa bumi dan Tsunami). Hingga saat ini BMKG memiliki 5 Balai Besar Wilayah I-V serta 180 Stasiun Meteorologi, Stasiun Geofisika, dan Stasiun Klimatologi.

Selain itu ada juga 3 Stasiun Pemantau Atmosfer Global atau GAW yang berada di Bukit Kototabang (Sumbar), Lore Lindu Bariri (Palu), dan Puncak Vihara Klademak di Sorong, Papua Barat.

Lantas, seperti apa sejarah berdirinya BMKG di Indonesia?

Sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulai pada tahun 1841. Saat itu pengamatan hanya dilakukan secara perorangan oleh seorang Kepala Rumah Sakit Bogor Dr. Pieter Loth Onnen.

Sering berjalannya waktu, pemerintah Hindia Belanda mulai memerlukan data hasil pengamatan cuaca dan geofisika. Hingga pada 1866, berdirilah instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi yang dipimpin oleh Pieter Adriaan Bergsma.

Lembaga ini semakin berkembang dan mulai dibangun jaringan penakar hujan sebanyak 74 stasiun pengamatan di Jawa pada 1879. Hingga dilakukan pemasangaan komponen-komponen horisontal seismograf dan vertikal pada tahun 1908 dan 1928.

Pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1945, lembaga ini berganti nama menjadi Kisho Kauso Kusho atau Lembaga Meteorologi. Namun, pemerintah Indonesia berhasil mengambil alih kembali setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Inilah yang menjadi cikal-bakal BMKG dan instansi tersebut dibagi menjadi dua, yakni Biro Meteorologi dan Jawatan Meteorologi dan Geofisika.

Biro Meteorologi Yogyakarta ditempatkan di lingkungan Markas Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus untuk melayani kepentingan Angkatan Udara. Sedangkan di Jakarta dibentuk Jawatan Meteorologi dan Geofisika, di bawah Kementerian Pekerjaan Umum dan Tenaga.

Sempat Direbut Kembali

Saat terjadi agresi militer Belanda, pada 21 Juli 1947 Jawatan Meteorologi dan Geofisika diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Bahkan namanya diganti menjadi Meteorologisch en Geofisiche Dienst. Namun, pemerintah Indonesia masih bisa mempertahankan salah satu instansi Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang berada di Gondangdia, Jakarta.

Pada 1949, tepatnya setelah Belanda menyerahkan kedaulatan negara Republik Indonesia, nama instansi Meteorologisch en Geofisiche Dienst diubah kembali menjadi Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Lembaga ini yang akhirnya disebut BMKG ini dan ditempatkan di bawah Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum.

Selanjutnya, Indonesia secara resmi masuk sebagai anggota Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization atau WMO) dan Kepala Jawatan Meteorologi dan Geofisika menjadi Permanent Representative of Indonesia with WMO pada tahun 1950.

Klik halaman berikutnya



Simak Video "Sebagian Besar Daerah di Indonesia Berpotensi Hujan Lebat"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia