Kasus Covid Anak Meningkat Jelang Belajar Tatap Muka, Ini Kata Epidemiolog UGM

Novia Aisyah - detikEdu
Jumat, 25 Jun 2021 15:15 WIB
330 sekolah di Kota Bandung menggelar simulasi Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Ujicoba ini digelar dan dipantau langsung Pemkot Bandung dari Tanggal 7-18 Juni 2021 mendatang.
Foto: Wisma Putra
Jakarta - Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas akan terlaksana pada bulan Juli mendatang. Namun, melansir dari laman UGM, Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Aman Bhakti Pulungan beberapa waktu lalu menyatakan bahwa kini kasus COVID-19 pada anak-anak menanjak hingga 11-12 persen.

Di samping itu, kematian anak balita juga meningkat hingga 1000 kematian per minggu, atau sekitar 50 persen selama pandemi. Sehubungan dengan hal ini, epidemiolog UGM Citra Indriani menuturkan pendapatnya.

Menurut Citra, anak-anak sejak awal memang memiliki risiko terinfeksi virus COVID-19. Di Daerah Istimewa Yogyakarta, kasus pertama COVID-19 terjadi pada anak-anak.

Meskipun begitu, menurutnya saat itu pengetahuan tentang virus ini masih belum lengkap. Ditambah lagi virus ini mengalami mutasi sehingga karakternya berubah.

Pada masa awal pandemi, pengetahuan tentang infeksi COVID-19 pada anak masih menunjukkan bahwa gejalanya sedang ke berat.

Citra pun mengungkapkan bahwa dirinya khawatir PTM terbatas Juli mendatang akan memperparah kasus COVID-19 pada anak-anak. "Saya kira di daerah dengan transmisi tinggi sudah tepat untuk menunda kegiatan sekolah tatap muka," jelasnya seperti dikutip dari laman UGM Jumat (25/06/2021).

Karena belum ada vaksin COVID-19 yang direkomendasikan pada anak-anak, Citra menekankan bahwa prokes pada anak-anak dan prokes ketat dari orang tua adalah tameng terakhir. "Proses 3T (test, tracing, treatment) tidak untuk melindungi anak-anak, tapi prokes anak dan prokes orang tualah yang melindungi," tegas Citra.

Terkait vaksin, Citra mengatakan bahwa yang kini tersedia masih belum direkomendasikan untuk anak-anak. Dirinya menyebut bahwa hal tersebut dikarenakan vaksin perlu melalui proses uji efikasi untuk menentukan apakah bermanfaat atau tidak, meskipun ada gawat darurat.

"Pada saat ini memang kita masih dan harus menunggu hasil uji klinis pada kelompok anak sebelum bisa kita berikan ke anak-anak," tutur Citra.

Sekarang ini, WHO SAGE (Strategic Advisory Group of Expert) merekomendasikan vaksin Pfizer/Biontech untuk yang berusia lebih dari 12 tahun. Walau sekarang ini anak-anak belum mendapat prioritas vaksin secara global, menurut Citra bisa jadi akan ada kebijakan baru, jika melihat pada perkembangan situasi dan bukti ilmiah.

Citra juga mengharapkan orang dewasa lebih patuh protokol kesehatan (prokes) karena jadi sumber klaster.

"Kembali lagi, senjata kita ada di prokes, makan bersama dengan orang selain di luar rumah pun sangat berisiko, karena sama-sama membuka masker dan pastinya ngobrol dan hal ini kalau kita lihat masih banyak yang melakukan. Anak-anak bisa dilindungi bila kita dewasa, para orang tuanya, pengasuhnya juga menjalankan prokes dengan ketat," ujarnya.

Baru-baru ini, Ketua Umum IDI (Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M. Faqih turut memberikan pendapatnya. Ia mengatakan bahwa menurut IDI, vaksinasi sudah dirasa aman untuk anak-anak.

Sehingga, pada PTM terbatas nanti diharapkan sudah ada vaksinasi tendik (tenaga pendidikan) dan pengajar, serta sterilisasi lingkungan sekolah. Menurutnya, penting juga untuk memastikan anak didik umur berapa yang paham dan berkomitmen melakukan protokol kesehatan.



Simak Video "PTM Juli 2021 Masih Melihat Pertimbangan Zonasi Risiko"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia