Mengapa 1 Juni Ditetapkan sebagai Hari Pancasila?

Rahma I Harbani - detikEdu
Kamis, 24 Jun 2021 14:30 WIB
pengrajin garuda pancasila di jombang
Foto: Enggran Eko Budianto
Jakarta - Tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya. Menurut sudut pandang sejarah, apa alasan di balik penetapan 1 Juni sebagai hari Pancasila tersebut?

Sejarah ini bermula dari kekalahan Jepang pada saat perang Pasifik pada Juli 1944, seperti yang dilansir dari laman resmi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP RI). Jepang yang mengalami kekalahan ini kemudian berusaha mendapatkan hati masyarakat Indonesia dengan menjanjikan kemerdekaan.

Tidak hanya itu, Jepang juga membentuk sebuah lembaga yang tugasnya untuk mempersiapkan kemerdekaan tersebut. Lembaga ini dikenal dengan nama Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Total anggota BPUPKI tercatat sebanyak 67 orang dengan ketua Radjiman Widiodiningrat dan R Suroso serta dari Jepang diwakili oleh Ichi Bangase.

Sidang pertama BPUPKI dilaksanakan pada tanggal 29 Mei 1945 di Gedung Chuo Sangi In yang kini dikenal dengan nama Gedung Pancasila. Pada zaman Belanda, gedung tersebut merupakan gedung Volksraad atau Perwakilan Rakyat.

Para anggota sidang BPUPKI membahas mengenai tema dasar negara. Saat itu, sidang berlangsung selama hampir 5 hari hingga tanggal 1 Juni 1945.

Mengutip dari laman SMPN 19 Semarang, setelah beberapa hari tidak mendapat titik terang, pada tanggal 1 Juni 1945, Presiden Soekarno mendapatkan giliran untuk menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia. Gagasannya tersebut dinamai Pancasila.

Nama Pancasila disusun dari kata panca dan sila. Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas. Pada saat itu Soekarno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yakni sila pertama 'Kebangsaan', sila kedua 'Internasionalisme atau Perikemanusiaan', sila ketiga 'Demokrasi', sila keempat 'Keadilan sosial', dan sila kelima 'Ketuhanan yang Maha Esa'.

Pidato yang tidak dipersiapkan secara tertulis terlebih dahulu itu diterima secara aklamasi oleh segenap anggota BPUPKI. Kemudian, BPUPKI membentuk panitia kecil untuk menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat Undang-Undang Dasar yang berlandaskan kelima asas tersebut.

Panitia kecil itu disebut sebagai Panitia Sembilan, yang terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr. AA Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Setelah melalui beberapa proses persidangan, rumusan Pancasila tersebut akhirnya berhasil dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan disahkan sebagai dasar negara pada Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Kemudian tanggal 1 Juni resmi ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Keputusan itu disampaikan melalui pidato pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung Merdeka, Bandung, pada 1 Juni 2016.

Sejarawan Asvi Warman Adam dalam bukunya yang berjudul Menguak Misteri Sejarah, menyebut, sejak 1970 peringatan hari lahirnya Pancasila sempat dilarang Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) hingga berakhirnya pemerintahan Presiden Soeharto.

Hampir tiga dekade lamanya kelahiran Pancasila tabu diperingati. Namun, larangan itu tidak berlaku lagi setelah era reformasi.



Simak Video "Sejarah Lahirnya Pancasila: Sidang BPUPKI dan Pidato Soekarno"
[Gambas:Video 20detik]
(nwy/nwy)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia