Strategi Pertolongan Pertama Cegah Bunuh Diri ala Psikolog Unair, Wajib Tahu!

Fahri Zulfikar - detikEdu
Selasa, 08 Jun 2021 07:00 WIB
Anxiety disorder menopause woman, stressful depressed, panic attack person with mental health illness, headache and migraine sitting with back against wall on the floor in domestic home
Foto: Getty Images/iStockphoto/Chinnapong
Jakarta - Mungkin hampir setiap hari terdengar kabar tentang bunuh diri di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Sebenarnya apa penyebab dan bagaimana cara mencegah bunuh diri itu?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bunuh diri sebagai fenomena global. Bunuh diri merupakan pembunuh ke-18 di dunia pada 2016, karena 1,4% kematian di seluruh dunia disebabkan oleh bunuh diri. Bahkan bunuh diri menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi kedua setelah kecelakaan di kalangan remaja.

Data WHO juga menyebut pada 2016, tingkat bunuh diri Indonesia pada angka 3,7 per 100 ribu penduduk. Angka ini menunjukkan Indonesia berada di peringkat 159 dalam hal tingkat bunuh diri di dunia

Hanya saja sebuah data mencatat bahwa suicidal ideation atau pikiran untuk bunuh diri angkanya lebih besar dari pada kasus bunuh diri itu sendiri.

Faktanya, tak banyak yang tahu cara bersikap yang tepat ketika menemukan seseorang yang mengalami masalah ingin bunuh diri tersebut. Lantas bagaimana cara mencegahnya?

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (Unair) Valina Khiarin Nisa mengungkapkan setidaknya ada tiga langkah yang dapat dilakukan sebagai Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologi untuk mencegah keinginan bunuh diri seseorang, yakni look, listen, dan link.

"Ketiganya memang bukan terapi atau diagnosis, tapi dapat menjadi langkah pencegahan sederhana yang bisa dilakukan oleh semua orang," ujar Valina dalam keterangan tertulis Unair pada wartawan, Senin (7/6/2021).


Look atau Lihat

Menurut Valina hal pertama yang harus dilakukan adalah menyadari dan memahami kondisi orang-orang di sekitar.

"Orang yang mengalami depresi umumnya akan menunjukkan tanda-tanda. Entah seperti memasang status bernada depresif atau menarik diri dari lingkungan sosial. Saat mengetahui indikasi tersebut, secepat mungkin bangun komunikasi, dalam bentuk apapun, untuk mengalihkan perhatiannya dari tindakan bunuh diri," katanya.

Namun Valina lebih menganjurkan komunikasi dibangun secara face to face agar pesan dan perhatian bisa dirasakan langsung oleh mereka.


Listen atau Dengar

Kedua, ketika sudah menyadari ada orang terdekat yang depresi dan berpotensi memiliki keinginan bunuh diri, maka harus segera mendekati dan membangun kedekatan atau emotional building yang aktif, reflektif, dan empati.

"Mendengarkan keluh kesah dapat menjadi pertolongan pertama yang sangat membantu. Namun perlu diingat, kita harus hadir sebagai pendengar yang baik dengan tidak menggurui, memimpin, maupun menghakimi mereka," papar Valina.

Poin penting pada langkah ini adalah biarkan orang yang memiliki persoalan depresi bebas bercerita dengan nyaman. Apabila dia ingin tetap diam, jangan pernah memaksanya untuk berbicara.

Selanjutnya Valina juga menegaskan bahwa setiap orang punya coping strategy berbeda-beda. Jadi ketika satu masalah yang diri kita anggap sepele belum tentu sepele bagi orang lain.

Oleh karena itu, perilaku judgmental yang meremehkan atau menasihati bahwa bunuh diri itu dosa, harus sangat dihindari. Cukup beri gestur dan nada yang mendukung.

"Tunjukkan bahwa dia masih sangat berharga dan semua masalah pasti akan ada solusinya," imbuh Valina.


Link atau Menghubungkan

Setelah upaya melihat dan mendengar sudah dilakukan, selanjutnya kita harus menyadari kapasitas diri. Bahwa bantuan kita sifatnya sangat terbatas dan tidak bisa menampung semua permasalahan orang lain.

Maka dari itu, apabila depresi telah berapa di tahap yang kritis, harus segera mengarahkannya ke profesional untuk memperoleh penanganan tepat dan solusi yang lebih objektif.

"Selain menghubungkan mereka dengan psikolog atau psikiater, kita juga harus menghubungkannya dengan keluarga untuk mendapat dukungan yang lebih," ujarnya.

Menurut Valina, selain melakukan ketiga langkah tersebut, ada tiga hal lain yang juga harus diperhatikan.

Pertama, harus bisa memastikan keamanan mereka. Pastikan individu yang depresi tidak sendirian dan jauh dari barang-barang yang berpotensi mengancam hidupnya.

Kedua, perhatikan prinsip mendengarkan aktif dengan melontarkan pertanyaan terbuka, merefleksikan emosi, tunjukkan perhatian penuh dan rasa hormat, memberi respon verbal dan non-verbal, hindari memotong berita, serta berikan waktu seluang mungkin bagi penyintas untuk mengungkapkan perasaannya.

Ketiga, sebelum memberikan pertolongan dan keamanan bagi orang lain, pastikan diri sendiri juga aman dan dalam kondisi mental yang sehat.

Terakhir psikolog

Unair menyebut bahwa keinginan bunuh diri sangat bisa dicegah dengan beberapa langkah sederhana. Oleh karena itu, kesadaran dan kepekaan terhadap situasi orang-orang di sekitar sangatlah penting.



Simak Video "Toxic Positivity, Racun Dibalik Ucapan Semangat"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia