Mengenal Dugong, Mamalia yang Sering Disebut Duyung dan Hampir Punah

Novia Aisyah - detikEdu
Senin, 31 Mei 2021 16:00 WIB
Dugong ditangkap di Pulau Kokoya
Foto: (GaluhRiyadi/Twitter)
Jakarta - Dugong adalah mamalia air dengan ukuran raksasa dan warna cenderung abu-abu. Menurut laman Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, dugong mempunyai nama ilmiah Dugong dugon.

Mengutip dari tulisan Dugong Bukan Putri Duyung yang diterbitkan oleh Oseanografi LIPI, IUCN (International Union for the
Conservation of Nature) telah menyatakan bahwa dugong sudah rentan punah. Hewan ini juga merupakan satwa dilindungi, seperti disebutkan dalam Undang-undang No. 7 tahun 1999 tentang Konservasi Flora dan Fauna.

Sebagai hewan yang langka, menurut KKP RI, dugong tersebar di perairan Indo Pasifik, Afrika Timur, bahkan hingga Kepulauan Solomon. Hewan ini berukuran cukup raksasa dengan panjang sekitar 2,4 hingga 3 meter dan berat 230 sampai 930 kilogram.

Ketika lahir, dugong sebetulnya mempunyai warna krem pucat. Namun, semakin tua usianya, warna mamalia laut satu ini akan cenderung menjadi lebih gelap sampai abu-abu gelap di bagian punggungnya.

Selain warna yang cenderung abu-abu saat tua, ciri-ciri dugong yang lain adalah adanya sirip sepanjang 35 hingga 45 cm. Pada dugong yang masih muda, sirip berfungsi sebagai pendorong, sedangkan pada dugong dewasa, sirip berfungsi sebagai kemudi.

Adapun ekor yang dimiliki hewan ini berfungsi sebagai pendorong dan mempunyai bentuk homo cercal. Mamalia satu ini mempunyai rentang hidup sangat lama, yaitu mulai 40 hingga 70 tahun.

Dugong mempunyai proses pencernaan yang sangat lambat. Sehari-harinya, hewan herbivora ini mencari makan di padang lamun.

Kembali melansir dari Dugong Bukan Putri Duyung oleh Oseanografi LIPI, dugong suka merumput lamun di dasar laut. Tumbuhan ini berada di perairan dangkal dan terlindung dasar pasir atau lumpur.

Di Indonesia, jenis yang suka dikonsumsi oleh dugong adalah yang berasal dari genus halodule dan halophila. Kedua jenis lamun ini punya kadar nitrogen tinggi, dan rendah serat sehingga cocok untuk dugong.

Mengutip dari KKP, dalam sehari dugong atau yang sering disebut juga sebagai duyung ini mampu menghabiskan lamun sebanyak 25 hingga 30 kilogram. Karena itulah, keberadaan padang lamun sangat penting bagi dugong.

Sebagai satwa yang dinyatakan rawan punah, dugong betina hanya mampu melahirkan satu ekor bayi dugong dalam satu kali proses reproduksi. Bayi dugong ini kemudian akan disusui oleh ibunya selama 1 sampai 2 tahun.

Jarak antar proses reproduksi seekor dugong betina mempunyai rentang dari 2,5 hingga 7 tahun. Untuk diketahui juga, posisi celah kelamin adalah satu-satunya pembeda antara dugong jantan dan betina.

Ini dikarenakan dugong jantan dan betina mempunyai bentuk luar yang sama (monomorphic). Posisi celah kelamin dugong betina lebih dekat daripada dugong jantan.

Mengutip dari WWF Indonesia, hewan langka ini menghadapi berbagai ancaman seperti perburuan skala lokal yang ditujukan untuk memanfaatkan daging, taring, dan air matanya. Selain itu, dugong juga menghadapi ancaman lain berupa terperangkap jaring nelayan atau juga tertabrak kapal wisatawan dan nelayan.

Air mata dugong diburu sebagai bagian dari kepercayaan masyarakat, padahal air mata dugong hanya merupakan lendir alami yang dikeluarkan saat ia tidak di air. Dan seperti yang disebutkan sebelumnya, berkurangnya padang lamun juga mengancam keberlangsungan dugong.



Simak Video "KKP Tingkatkan Konservasi Dugong di Alor"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia