BRI Ramadan Update

Begini Sejarah dan Filosofi Tradisi Idul Fitri di Indonesia, Wajib Tahu!

Rahma I Harbani - detikEdu
Sabtu, 15 Mei 2021 12:04 WIB
Cagub Jabar Ridwan Kamil melakukan prosesi sungkeman dengan sang ibu Tjutju Sukaesih di rumahnya Jalan Cigadung Selatan 7 No A28, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung, Rabu (27/6/2018).
Foto: Ari Saputra/Begini Sejarah dan Filosofi Tradisi Idul Fitri di Indonesia, Wajib Tahu!
Jakarta -

Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia mempunyai tradisi yang secara tidak sadar dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri, seperti budaya sungkeman, halal bihalal, dan berkirim kartu lebaran. Mungkin banyak yang belum tahu awal tradisi tersebut.

Asal-usul Singkat Tradisi Idul Fitri di Indonesia

Awal mula tradisi Idul Fitri di Indonesia diceritakan oleh seorang budayawan Dr. Umar Khayam seperti yang tertuang dalam buku tulisan Arif Yosodipuro berjudul Buku Pintar Khatib dan Khotbah. Menurutnya tradisi lebaran merupakan akulturasi budaya Jawa dan Islam.

Pada saat itu, para ulama di Jawa menggabungkan kedua budaya tersebut guna menjaga kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Hingga akhirnya tradisi itu meluas ke seluruh wilayah di Indonesia, bahkan melibatkan berbagai pemeluk agama.

Bukti dari penggabungan dua budaya Jawa dan Islam, bisa kita telusuri dari budaya Islam di dunia.

Sebagai contoh, setelah pelaksanaan sholat Idul Fitri, tidak ada tradisi berjabatan tangan secara bersama-sama untuk saling memaafkan di negara-negara Islam Timur Tengah dan Asia (di luar Indonesia). Berjabatan tangan secara sporadis yang dilakukan hanyalah sebagai simbol keakraban.

Sebab di dalam ajaran Islam, saling memaafkan itu dapat dilakukan kapan saja dan tidak harus dilakukan setelah ibadah puasa Ramadhan. Melainkan, seseorang yang berbuat salah harus segera meminta maaf.

Filosofi Tradisi Lebaran

1. Sungkem

Budaya Jawa mengenal sungkem kepada orang yang lebih tua sebagai sesuatu perbuatan yang terpuji dan tidak berarti sebuah kerendahan derajat.

Tujuan sungkem terbagi menjadi dua, yaitu sebagai lambang penghormatan dan sebagai permohonan maaf atau 'nyuwun ngapura'. Menurut Umar, kata 'ngapura' ini berasal dari serapan bahasa Arab, yakni 'ghafura'.

Berangkat dari situ lah, para ulama di Jawa hendak mewujudkan salah satu tujuan dari puasa Ramadhan, yaitu menghapus dosa-dosa di waktu yang lampau. Mereka berpendapat saat Hari Raya Idul Fitri adalah momen yang tepat untuk saling meminta maaf kesalahan masing-masing secara bersamaan.

Sebagai informasi, Hari Raya Idul Fitri juga kerap kali disebut dengan hari Lebaran. Kata Lebaran ini memiliki dua maksud yaitu, puasa telah lebar (selesai) dan dosa-dosanya telah lebur (terhapus).

Klik halaman berikutnya

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Rayakan Lebaran Virtual Pakai Aplikasi Ini!"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia