Sejarah Jatinangor : Dari Perkebunan Teh dan Karet Jadi Kampung Mahasiswa

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 13 Mei 2021 09:00 WIB
Menara peninggalan Belanda di Jatinangor
Menara Loji di Jatinangor yang dibangun Baron Baud (Foto: Rohmatulloh/d'Traveler)
Jakarta - Kampus utama Universitas Padjajaran (Unpad) berlokasi di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Mahasiswa program sarjana (S1) Unpad terutama kuliah di kampus Jatinangor.

Nah, apakah kamu tahu, sebelum menjadi kawasan akademik kenamaan di Jawa Barat, Jatinangor adalah perkebunan teh dan karet yang luas banget?

Unpad berdiri pada 11 September 1957, dengan lokasi kampus di Bandung. Di awal berdirinya, Unpad hanya punya empat fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kedokteran, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, seperti dikutip dari situs resmi Unpad.

Terinspirasi oleh "Kota Akademik Tsukuba", Rektor keenam Unpad, Prof. Dr. Hindersah Wiraatmadja menggagas "Kota Akademis Manglayang", yang terletak di kawasan kaki Gunung Manglayang.

Tsukuba yang juga dikenal sebagai Kota Sains Tsukuba dikembangkan pada 1970-an dan 1980-an untuk merangsang penemuan ilmiah. Kota kecil Tsukuba berada di 56 km timur laut Tokyo, tepat di sebelah selatan Gunung Tsukuba.

Dikelilingi oleh tanah pertanian, komunitas penelitian dan pendidikan yang direncanakan matang-matang ini mencakup lima kota dan satu desa dan seluas kurang lebih 285 km persegi.

Adaptasi konsep Kota Akademik Tsukaba menjawab permasalahan kampus Unpad yang tersebar di 13 lokasi yang berbeda saat itu. Kondisi saat ini dinilai menyulitkan koordinasi dan pengembangan daya tampung.

Pindah ke kawasan kaki Gunung Manglayang diharapkan meningkatkan produktivitas, mutu lulusan, dan pengembangan sarana prasarana fisik.

Mulailah sejak 1977, Unpad merintis pengadaan lahan yang memadai untuk kawasan pendidikan. Tahun 1979 baru disepakati penunjukkan lahan bekas perkebunan di Jatinangor.

Pada masa penjajahan, Jatinangor merupakan kawasan perkebunan teh dan pohon karet yang dikuasai perusahaan swasta milik Belanda, Maatschappij tot Exploitatie der Baud-Landen yang berdiri tahun 1841.

Luas perkebunan ini mencapai 962 hektar, membentang dari tanah yang saat ini merupakan kawasan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), hingga Gunung Manglayang, seperti dikutip dari situs resmi Jatinangor.

Perusahaan tersebut dimiliki seorang pria berkebangsaan Jerman Willem Abraham Baud (1816-1879) yang dikenal sebagai Baron Baud.

Untuk mengontrol perkebunannya yang luas, Baron Baud membangun sebuah menara. Menara ini dilengkapi lonceng di puncak menara. Menara inilah yang dikenal sebagai Menara Loji, yang kini terletak di kawasan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor.

Untuk memperlancar transportasi hasil perkebunan, dibangun jalur rel kereta api penghubung Rancaekek dan Tanjungsari pada 1916. Jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari-Citali sepanjang 15 km ini dibuat sesuai Koninklijk Besluit (Peraturan Negara) tanggal 4 Januari 1916 serta Lembaran Negara Nomor 36.

Awalnya, rel kereta api Rancaekek-Jatinangor saja yang akan dibangun sepanjang 5,25 km untuk keperluan mengangkut hasil perkebunan Jatinangor. Atas permintaan pihak militer, rel kereta api itu digunakan untuk keperluan angkutan umum juga sampai Citali.

Tetapi kemudian rel kereta api hingga Citali ditangguhkan karena kekurangan biaya dan peralatan untuk menembus alam di sana sehingga rel kereta api itu hanya sampai Stasiun Tanjungsari. Jalur kereta api tersebut dioperasikan pada 13 Februari 1921.

Pada 1918, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf, sebuah perusahaan kereta api milik Belanda, membangun sebuah jembatan rel kereta penghubung Rancaekek-Tanjungsari.

Jembatan Cikuda, yang dikenal sebagai Jembatan Cincin, dilewati oleh kereta api yang menunjang lancarnnya transportasi perkebunan karet dan transportasi masyarakat.

Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, tanah perkebunan karet Jatinangor dinasionalisasikan menjadi milik Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang.

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 593/3590/1987, kawasan itu meliputi luas 3.285,5 Hektar, terbagi dalam 7 wilayah peruntukan.

Khusus untuk Unpad, wilayah pengembangan kampus di Jatinangor mencakup 175 hektar.

Pada 1990, area perkebunan ini sudah dialihfungsikan menjadi kawasan pendidikan dengan dibangunnya empat perguruan tinggi, yakni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Universitas Padjadjaran, dan Universitas Winaya Mukti.

Seiring hadirnya kampus-kampus tersebut, lahan pertanian di Jatinangor berubah fungsi menjadi rumah sewa dan indekos untuk mahasiswa serta area pusat perbelanjaan. Institut Teknologi Bandung kemudian membangun kampus di kawasan Jatinangor ini pada 2010.

Secara bertahap, Unpad telah mulai memindahkan kegiatan pendidikannya ke Jatinangor sejak 1983, yang diawali oleh Fakultas Pertanian. Pada 5 Januari 2012, gedung Rektorat Unpad resmi pindah ke Jatinangor.

Nah, sejarah menarik apa yang ada di lokasi kampus kalian?



Simak Video "Dirut TransJ Didemo Mahasiswa untuk Mundur dari Jabatan!"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia