Makan Opor dengan Ketupat, Begini Asal Mula Keduanya Dipasangkan!

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 12 Mei 2021 19:37 WIB
Indonesian traditional food during the Idul Fitri day
Foto: iStock
Jakarta - Perpaduan antara opor dan ketupat sudah menjadi hal yang pasti di momen Idul Fitri.

Kedua hidangan ini sudah seperti tak terpisahkan satu sama lain, di mana rasa gurih dalam opor melengkapi ketupat yang tawar dan keduanya menjadi hidangan lezat nan mengenyangkan.

Namun, kapan dan bagaimana awal mulanya?

Untuk mengetahui sejarah opor yang akhirnya dipasangkan ketupat, detikEdu telah menghubungi sejarawan kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman.

"Perpaduan antara ketupat dan opor itu diperkirakan di masa sekitar abad ke-15 dan 16 ya," ujar Fadly.

Sambut Ramadhan Warga Banyuwangi Sajikan Ketupat dan Opor Ayam yang SakralSambut Ramadhan Warga Banyuwangi Sajikan Ketupat dan Opor Ayam yang Sakral Foto: Ardian Fanani/detikFood

Fadly menceritakan pada masa abad ke-15, terjadi Islamisasi wilayah Jawa Tengah yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga pada era kerajaan Demak.

Pada waktu berdakwah, Sunan Kalijaga selalu menggunakan simbol-simbol kebudayaan lokal, yang salah satunya adalah ketupat. Ketupat ini sudah ada sejak zaman pra-Islam atau kerajaan Hindu.

Ketupat kemudian digunakan oleh Sunan Kalijaga sebagai salah satu bagian dari misi dakwah agar orang-orang yang masih memeluk Hindu kemudian beralih ke agama Islam.

Dakwah tersebut berhasil dan ketupat akhirnya dijadikan bagian dari perayaan-perayaan hari raya agama Islam, salah satunya Idul Fitri.

Oleh Sunan Kalijaga, ketupat juga dijadikan simbol manifestasi pengakuan kelepatan atau kesalahan (ngaku lepat) yang biasa dilakukan di tradisi lebaran.

Fadly melanjutkan bahwa dari situ, ketupat tentu tak bisa dimakan tanpa ada hidangan pelengkap, salah satunya opor.

"Opor ini merupakan salah satu bentuk kreatifitas orang Jawa dalam memodifikasi kari dan gulai yang sudah ada di Sumatera. Dan supaya bisa membuat kupat bisa dinikmati, maka dilengkapi dengan opor karena tekstur kupat yang lengket dan plain rasanya tanpa ada kuah seperti opor. Makanya ini yang kemudian dari generasi ke generasi terus bertahan," jelas Fadly.

Ia juga menambahkan bahwa dari abad 15 ke 16 M hingga sekarang, tradisi tersebut masih bertahan.

"Ketupat dan opor itu merupakan dua pasangan yang nggak bisa dipisahkan dalam tradisi lebaran," kata Fadly.

Indonesian traditional food during the Idul Fitri dayIndonesian traditional food during the Idul Fitri day Foto: iStock

Selain pasangan ketupat dan opor, Fadly juga menceritakan bagaimana awalnya hidangan lebaran semakin lengkap dengan rendang, sambal goreng hati, sambal goreng kentang, dan sebagainya.

"Ya itu perkembangan ya, yang membuat berbagai hidangan menyatu padu dalam hidangan lebaran, tetapi tentu saja di masa awalnya tidak selengkap sekarang," sebut Fadly.

Fadly menceritakan bahwa rendang asal mulanya merupakan pengaruh dari Minang yag kemudian masuk dalam tradisi lebaran sejak sekitar abad 19-20 M ketika diaspora orang Minang ke seluruh penjuru nusantara berkembang secara ekspansif.

Seiring migrasi tersebut, akhirnya rendang dikenal seantero nusantara hingga akhirnya dijadikan siganture dish saat lebaran, apalagi juga karena sifatnya yang awet.

Selanjutnya, Fadly mengatakan bahwa sebetulnya dalam tradisi Idul FItri, beberapa makanan yang dihidangkan itu adalah yang berbahan baku cabai. Yang dimasak dalam durasi lama dan berulang, diaduk, lalu mengalami proses karamelisasi dan menjadi lebih awet, sehingga cocok untuk momen lebaran.

Fenomena ini muncul di abad ke 19 hingga 20 M ketika orang-orang seantero nusantara mengenal makanan dari wilayah satu sama lain.

"Dalam kuliner lebaran itu sebetulnya ada transfer kebudayaan kuliner," terang Fadly.

Begitulah asal mula atau sejarah opor dipadukan dengan ketupat. Kisah yang sangat menarik bukan, detikers?



Simak Video "Menikmati Lezat dan Gurihnya Opor Ayam Panggang Khas Kudus, Jawa Tengah"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia